Banten

Hanya Tersisa Dua Ekor di Dunia, Indonesia Siapkan Misi Besar Selamatkan Badak Kalimantan

Viona Sebastian Nolani | 19 Juni 2026, 15:05 WIB
Hanya Tersisa Dua Ekor di Dunia, Indonesia Siapkan Misi Besar Selamatkan Badak Kalimantan
Ilustrasi badak Kalimantan. (flickr/Christopher Schmidt)

AKURAT BANTEN - Pemerintah Indonesia tengah mengintensifkan upaya penyelamatan badak Kalimantan terakhir yang masih hidup di alam liar.

Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari program konservasi untuk mempertahankan spesies langka tersebut melalui teknologi fertilisasi in vitro (IVF) atau pembuahan di luar rahim, ungkap seorang pejabat pada Jumat (19/6/2026).

Saat ini, hanya tersisa dua ekor badak Kalimantan yang diketahui masih hidup di dunia dan keduanya berjenis kelamin betina.

Salah satunya adalah Pahu yang berada di Suaka Badak Kelian, Indonesia, sementara Pari masih hidup bebas di alam liar di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Baca Juga: El Nino Godzilla Mengancam, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Nasional Tetap Aman

Badak Kalimantan merupakan subspesies dari badak Sumatera.

Para ahli konservasi menilai keduanya memiliki kedekatan genetik yang memungkinkan terjadinya kawin silang guna mempertahankan sebagian warisan genetik badak Kalimantan.

Upaya sebelumnya telah dilakukan dengan mengambil sel telur dari Pahu untuk program reproduksi berbantu.

Namun, proses tersebut belum membuahkan hasil.

Menurut Ari Wibawanto, Kepala Balai Konservasi di Kalimantan Timur yang menaungi wilayah Kelian dan Kutai Kartanegara, Pahu diperkirakan telah berusia sekitar 40 tahun dan mengalami sejumlah gangguan kesehatan yang menyulitkan proses reproduksi.

Baca Juga: Program MBG Dievaluasi Total, BGN Ambil Langkah Strategis di Masa Libur Sekolah

Kini, harapan terbesar tertuju pada Pari.

Berdasarkan hasil pemantauan kamera jebak, badak tersebut diperkirakan memiliki usia yang lebih muda dibandingkan Pahu.

Dalam beberapa bulan terakhir, tim konservasi telah melakukan berbagai persiapan untuk menangkap Pari.

Beragam metode telah diterapkan, mulai dari pemasangan perangkap lubang hingga pelaksanaan simulasi penangkapan.

"Kami melakukan beberapa simulasi menggunakan sapi yang ukurannya kurang lebih sama dengan Pari," katanya.

Meski demikian, proses pemindahan badak bukan tanpa risiko.

Sejumlah kasus sebelumnya menunjukkan bahwa translokasi badak dapat berujung pada kegagalan.

Pada tahun lalu, seekor badak Jawa dilaporkan mati tidak lama setelah menjalani translokasi pertama di dunia untuk spesies tersebut.

Kematian itu diduga berkaitan dengan kondisi kesehatan yang telah dimiliki sebelumnya.

Sementara itu, pada 2016, seekor badak Sumatera betina juga dilaporkan mati setelah dipindahkan akibat komplikasi cedera lama yang berasal dari jerat pemburu liar.

Ari menjelaskan bahwa tim khusus telah dibentuk untuk memastikan seluruh tahapan penangkapan dan pemindahan Pari berjalan dengan aman dan terukur.

"Kami memperkuat prosedur kami untuk memastikan hal itu tidak menimbulkan masalah teknis, masalah kesehatan, atau masalah perilaku, sehingga hewan tersebut tidak stres," katanya.

Setelah berhasil diamankan, Pari akan dibawa menggunakan pesawat menuju fasilitas konservasi khusus.

Di lokasi tersebut, kondisinya akan dipantau sebelum dilakukan proses pengambilan sel telur.

"Badak Sumatra lebih besar daripada badak Kalimantan. Jadi, jika kita mencoba mengawinkan mereka secara manual atau melalui perkawinan alami, kemungkinan besar tidak akan berhasil," kata Ari.

"Kami mengambil sel telur dari badak Kalimantan. Kami mengumpulkannya dan kemudian membuahinya dengan sperma dari badak Sumatera di luar rahim."

Apabila proses pembuahan berhasil, tim konservasi berencana menggunakan induk pengganti untuk meningkatkan peluang kehamilan yang lebih aman.

Selain program IVF, lembaga konservasi juga sedang mengkaji kemungkinan penerapan teknologi kloning.

Untuk mendukung rencana tersebut, sampel kulit dan jaringan gusi dari badak akan dikumpulkan sebagai bahan penelitian.

Data dari International Rhino Foundation menunjukkan bahwa populasi badak Jawa dan badak Sumatera di alam liar saat ini diperkirakan masing-masing berjumlah kurang dari 50 ekor.

Seluruh populasi yang tersisa tersebut berada di Indonesia.

Perkembangan teknologi reproduksi satwa liar juga memberi harapan baru. Pada 2024, para ilmuwan di Jerman berhasil melakukan prosedur IVF pada badak putih selatan, sebuah terobosan yang membuka peluang penerapan metode serupa untuk menyelamatkan berbagai spesies badak lain yang terancam punah.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.