Banten

Timnas Iran Klaim Dilecehkan AS Jelang Piala Dunia 2026, Ada Apa di Balik Insiden Bandara?

Viona Sebastian Nolani | 25 Juni 2026, 10:40 WIB
Timnas Iran Klaim Dilecehkan AS Jelang Piala Dunia 2026, Ada Apa di Balik Insiden Bandara?
timnas Iran yang berlaga di Piala Dunia 2026. (instagram/@teammellifootball)

AKURAT BANTEN - Dua pemain tim nasional Iran menuding pihak AS melakukan tindakan "pelecehan" saat berlangsungnya persiapan menuju Piala Dunia 2026.

Tuduhan tersebut disampaikan Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) yang menyebut adanya tindakan "gangguan" terhadap rombongan tim Iran di bandara, di tengah hubungan kedua negara yang masih diliputi ketegangan menjelang turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut.

FFIRI menyebut kapten timnas Iran Mehdi Taremi dan asisten pelatih Saeed Alhoei mengalami "gangguan" ketika berada di Bandara Tijuana, Meksiko. 

Peristiwa itu diklaim membuat perjalanan seluruh skuad tertunda sebelum mereka melanjutkan penerbangan menuju Seattle untuk menjalani persiapan menghadapi laga kontra Mesir.

Baca Juga: Dua Hari Jelang Lawan Mesir, Iran Akhirnya Diizinkan Masuk AS! Drama Piala Dunia 2026 Belum Berakhir

Meski demikian, Gugus Tugas Piala Dunia dari pemerintahan Trump membantah tudingan tersebut.

Mereka menegaskan bahwa perjalanan timnas Iran tetap berjalan sesuai rencana dan bahkan rombongan Iran disebut tiba di Seattle "beberapa menit lebih awal dari jadwal."

Sesuai prosedur penerbangan, setiap penumpang memang wajib menjalani pemeriksaan identitas serta dokumen sebelum diperbolehkan menaiki pesawat.

Pihak Iran menilai proses tersebut membuat Taremi dan Alhoei mengalami tindakan yang mereka sebut sebagai "dilecehkan."

Baca Juga: Kontroversi Inggris vs Ghana! Keputusan Wasit Bikin Pelatih Black Stars Geram dan Sindir VAR

Melalui pernyataan resminya, FFIRI menyampaikan, "Ini adalah kali ketiga tim nasional Iran melakukan perjalanan ke AS untuk turnamen ini, dan sekali lagi seluruh tim mengalami penundaan di bandara karena masalah yang timbul dari pihak berwenang AS."

Federasi Sepak Bola Iran juga menjelaskan bahwa para pemain dan staf lainnya harus menunggu hingga Taremi serta Alhoei menyelesaikan seluruh prosedur pemeriksaan sebelum dapat melanjutkan perjalanan bersama.

Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara Gugus Tugas Piala Dunia Gedung Putih mengatakan, "Semuanya berjalan sesuai jadwal. Tim Iran bahkan tiba beberapa menit lebih awal dari yang diperkirakan."

Timnas Iran sendiri mendapatkan izin khusus untuk memasuki AS dua hari sebelum pertandingan terakhir fase grup menghadapi Mesir. 

Berdasarkan regulasi FIFA, setiap tim biasanya hanya diperbolehkan melakukan perjalanan ke lokasi pertandingan dua hari sebelum laga dalam kondisi tertentu.

Selama Piala Dunia berlangsung, tim nasional Iran beberapa kali menyuarakan kritik terkait apa yang mereka anggap sebagai perlakuan "menindas" dan "tidak adil".

Mereka menilai berbagai kendala perjalanan maupun persoalan logistik membuat Iran berada dalam situasi yang kurang menguntungkan dibandingkan 47 peserta lainnya.

Saat ini, timnas Iran dijadwalkan menjalani sesi latihan di Universitas Washington pada hari ini waktu AS.

Dari sisi persaingan olahraga, Iran masih mempunyai peluang untuk melaju ke babak 32 besar apabila mampu mengalahkan Mesir.

Sebelumnya, Iran mengoleksi hasil imbang dalam dua pertandingan awal fase grup.

Pertemuan Iran kontra Mesir juga menjadi sorotan karena FIFA menetapkan pertandingan tersebut sebagai laga bertema "Pride" (Pride untuk komunitas LGBTQ+).

Keputusan itu menuai keberatan dari kedua negara yang kemudian menyampaikan keluhan kepada FIFA.

Di Iran, hubungan sesama jenis masih dikenai hukuman berat dan dalam sejumlah kasus dapat berujung pada hukuman mati.

Sementara itu, Mesir juga diketahui beberapa kali melakukan penindakan terhadap warganya berdasarkan aturan yang berkaitan dengan moralitas sosial.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.