Banten

Gigitan Ular Mematikan di Tengah Banjir China, 900 Kobra Masih Berkeliaran Hingga Menewaskan Seorang Wanita

Viona Sebastian Nolani | 9 Juli 2026, 12:35 WIB
Gigitan Ular Mematikan di Tengah Banjir China, 900 Kobra Masih Berkeliaran Hingga Menewaskan Seorang Wanita
Tim sukarelawan menyisir permukiman terdampak banjir di Hengzhou untuk menangkap ular yang lepas dari peternakan demi mencegah korban baru. (Tangkapan Layar)

AKURAT BANTEN - Seorang wanita dilaporkan meninggal dunia setelah digigit ular di Kecamatan Yunbiao, Kota Hengzhou, Guangxi, Tiongkok.

Insiden yang terjadi di tengah banjir besar tersebut diduga berkaitan dengan lepasnya ratusan ular dari sejumlah peternakan yang rusak akibat terjangan banjir.

Laporan Beijing News pada 8 Juli menyebutkan korban yang berusia sekitar 40-50 tahun itu digigit ular pada malam 6 Juli.

Seorang warga yang ikut dalam proses evakuasi mengatakan akses menuju rumah sakit sangat sulit karena banyak jalan terputus akibat banjir, sehingga korban harus dipindahkan melalui beberapa tahapan sebelum mendapatkan penanganan medis.

Baca Juga: Kejagung Tahan 3 Tersangka Korupsi Ekspor Ilegal Logam Tanah Jarang REE, Modusnya Manipulasi Uji Lab

Saat tim penyelamat tiba, korban sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Pihak rumah sakit juga mengonfirmasi adanya satu korban meninggal akibat gigitan ular.

Banjir yang melanda Hengzhou dipicu hujan deras berkepanjangan setelah dampak Topan Maysak.

Kondisi tersebut menyebabkan sebuah peternakan ular di Desa Dengwu, Kecamatan Yunbiao, hancur diterjang banjir sehingga ratusan ular, termasuk kobra, ular tikus, dan ular air, terlepas ke lingkungan sekitar.

Kepala dewan pengelola Desa Dang Vu, Bapak Ngo Chi, menjelaskan kejadian tersebut berlangsung pada pagi 6 Juli.

Baca Juga: Pertamina Pride Berhasil Lintasi Selat Hormuz, PIS Pastikan Pasokan Minyak ke Indonesia Aman

Berdasarkan pendataan awal, sekitar 800 hingga 900 ekor ular keluar dari kandang setelah tersapu banjir.

Namun, ia menegaskan tidak seluruh ular yang lepas merupakan spesies berbisa.

Sementara itu, Lei, pemilik salah satu peternakan ular di wilayah tersebut, mengatakan lokasi peternakannya berada di dataran tinggi sehingga tidak terdampak banjir.

Menurutnya, peternak di kawasan itu umumnya membudidayakan tiga jenis ular, yakni kobra, ular tikus, dan ular air, dengan hanya kobra yang memiliki bisa berbahaya.

Ia juga menjelaskan sebagian besar ular yang terlepas berasal dari peternakan kecil di daerah dataran rendah.

Baca Juga: Sengketa Lahan Hotel Sultan Memanas, Ahli Waris Pakubuwono VIII Gugat Rp14,5 Triliun ke Pengadilan

Selain itu, banyak ular yang dipelihara merupakan spesies penghuni hutan pegunungan yang tidak mampu bertahan lama jika terendam air.

Dampak banjir juga menyebabkan warga lain menjadi korban gigitan ular.

Seorang pria asal Kecamatan Yunbiao saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit setelah digigit ular berbisa pada jari telunjuk tangan kanannya.

Lengannya masih tampak membengkak akibat racun yang masuk ke tubuhnya.

Korban menceritakan bahwa lantai pertama rumahnya sempat terendam banjir.

Baca Juga: Perpres Prabowo Masukkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter, Tuai Kritik hingga Dibela Pemerintah

Saat membersihkan sisa-sisa lumpur dan puing pada 7 Juli setelah air mulai surut, ia digigit ular berkepala pipih berwarna hitam di bagian jari.

Karena khawatir racun menyebar, pria tersebut sempat berusaha mengisap racun dari luka sebelum akhirnya dievakuasi petugas penyelamat ke rumah sakit untuk mendapatkan suntikan antibisa.

Ia juga mengaku melihat banyak ular berkeliaran di desa setelah banjir merendam kawasan tersebut.

Mengutip Kantor Berita Xinhua, antibisa masih menjadi metode pengobatan paling efektif bagi korban gigitan ular berbisa.

Pemerintah Kota Hengzhou memastikan persediaan antibisa di wilayah tersebut masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan penanganan medis.

Baca Juga: Kortastipidkor Polri Geledah Cafe de'CLAN dan Koin Money Changer, Usut Dugaan Korupsi hingga TPPU

Sebagai langkah antisipasi, lebih dari 10 warga dari desa sekitar yang tidak terdampak banjir secara sukarela membentuk tim penangkap ular.

Mereka menyisir rumah-rumah di kawasan terdampak banjir untuk menangkap ular yang masih berkeliaran demi mengurangi risiko korban baru.

Menurut kepala Desa Dang Vu, warga umumnya menggunakan jaring ikan dan perlengkapan memancing untuk menangkap ular.

"Sebagian besar ular hanyut terbawa banjir. Sekarang hanya sedikit yang tersisa menempel pada sampah dan benda-benda terapung di daerah yang tergenang banjir. Sebagian besar ular yang tertangkap adalah ular air yang tidak berbisa," katanya.

Baca Juga: Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Dijaga Ketat Saat Polisi Geledah 8 Lokasi, Uang Rp60 Miliar dan 74 Kg Emas Disita

Pemerintah setempat juga mengimbau masyarakat agar tidak mencoba menangkap ular tanpa keahlian.

Warga diminta segera melapor kepada dewan pengelola desa apabila menemukan ular di dalam rumah agar petugas khusus dapat melakukan evakuasi dengan aman.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.