Antrean BBM di Sumut Dipicu Pemberhentian Massal Sopir Truk Tangki, TNI Bantu Distribusi

AKURAT BANTEN - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengerahkan 18 personel TNI dari Kodam I/Bukit Barisan (BB) untuk membantu distribusi bahan bakar minyak (BBM) ke sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Langkah darurat ini dilakukan guna mengatasi antrean panjang kendaraan yang terjadi di berbagai wilayah akibat terganggunya distribusi BBM dalam beberapa hari terakhir.
Keputusan tersebut diambil setelah Pemprov Sumut berkoordinasi dengan PT Pertamina Patra Niaga, TNI, dan Polri menyusul pemberhentian massal pengemudi truk tangki Pertamina yang berdampak pada terhambatnya penyaluran BBM ke SPBU.
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution memastikan persoalan yang terjadi bukan disebabkan oleh keterbatasan stok BBM, melainkan kendala pada proses distribusi.
"Yang saya sampaikan dari hasil koordinasi dengan pihak Pertamina itu bukan kelangkaan BBM-nya. Tapi pengemudi yang antar BBM-nya terjadi pemberhentian massal," kata Bobby usai rapat koordinasi bersama Pertamina dan instansi terkait.
Menurut Bobby, persediaan BBM di terminal Pertamina masih dalam kondisi aman.
Namun, aksi pemberhentian massal sopir membuat armada truk tangki tidak dapat beroperasi secara maksimal sehingga pengiriman BBM ke SPBU mengalami hambatan.
"Karena ada pemberhentian massal, truk pengangkutnya tidak bisa beroperasi. Maka dari itu kami sudah berkoordinasi dengan Pertamina, petugas TNI dan Polisi untuk menjadi driver dan mengantar serta mengecek pengamanan pasokan BBM," ujarnya.
Baca Juga: Kapolri Bungkam soal Kritik Mahfud MD, Hanya Beri Jawaban Singkat soal Kasus Febrie Adriansyah
Sebagai solusi sementara, personel TNI dan Polri disiapkan untuk mengambil alih tugas pengemudi truk tangki hingga proses perekrutan sopir baru rampung.
"Mulai malam ini TNI-Polri sudah siap. Berapa pun kebutuhan driver dan personel yang diperlukan akan kami dukung sementara agar distribusi BBM kembali normal," katanya.
Bobby juga menyoroti lambatnya penyampaian informasi dari Pertamina terkait persoalan internal yang akhirnya berdampak pada masyarakat dan memicu kepanikan membeli BBM.
"Yang buat panic buying, Pertamina. Seharusnya masalah personal disampaikan ke pemerintah daerah. Pasti kita bantu mencarikan solusinya," tegasnya.
Sementara itu, Kapendam I/Bukit Barisan Kolonel Inf Sandy mengatakan seluruh personel yang diterjunkan merupakan prajurit yang memiliki kemampuan mengemudikan kendaraan berat, termasuk truk tangki pengangkut BBM.
"Ada 18 personel Kodam I/BB yang turut membantu pendistribusian BBM di wilayah Sumatera Utara," ujar Sandy.
Ia menjelaskan, dukungan tersebut hanya bersifat sementara hingga distribusi BBM kembali berjalan normal.
"Pelaksanaan bantuan ini bersifat sementara. Jika kondisi sudah normal, maka perbantuan akan selesai. Kami berharap kelangkaan BBM segera teratasi," katanya.
Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang terdampak gangguan distribusi BBM.
"Kami menyadari masyarakat harus mengeluangkan waktu lebih lama untuk mendapatkan BBM. Atas kondisi tersebut, kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Sumatera Utara yang terdampak," ujar Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw.
Pertamina menjelaskan meningkatnya konsumsi BBM setelah libur sekolah membuat kebutuhan distribusi ikut melonjak sehingga diperlukan penyesuaian kapasitas angkutan.
Untuk mempercepat pemulihan distribusi, perusahaan menambah 20 unit mobil tangki baru, mengoperasikan Fuel Terminal Medan selama 24 jam, serta memperkuat jumlah awak pengemudi.
Baca Juga: Kejagung Resmi Hentikan Pendataan MBG di Seluruh Indonesia, Ternyata Ini Alasannya
Gangguan distribusi paling dirasakan di Kota Medan hingga Kabupaten Serdang Bedagai.
Sejumlah SPBU dilaporkan kehabisan stok Pertalite dan Bio Solar sehingga antrean kendaraan mengular hingga ke badan jalan.
Bahkan, sebagian warga terpaksa membeli Pertalite eceran dengan harga mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 per botol karena tidak kebagian BBM di SPBU.
Manager SPBU 14.206.157 Sei Rampah, Muliadi, menilai akar persoalan berada pada keterbatasan armada distribusi, bukan pada ketersediaan stok BBM.
"Kurangnya armada pengiriman. Pertamina sudah menambah armada pengangkutan tangki biru putih sebanyak 20 unit dibantukan untuk pendistribusian ke SPBU-SPBU," ujarnya.
Ia berharap penambahan armada tersebut dapat mempercepat distribusi BBM ke SPBU sehingga antrean kendaraan segera berkurang dan pasokan kembali stabil.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 9Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan
- 105 Alasan Manchester United Tak Akan Melepas Bruno Fernandes pada Musim Panas 2026






