Banten

Hadiah Piala Dunia 2026 Terancam Dipotong Pajak 30 Persen, Anggota Kongres AS Sebut Perampokan Terang-terangan

Viona Sebastian Nolani | 25 Juli 2026, 15:42 WIB
Hadiah Piala Dunia 2026 Terancam Dipotong Pajak 30 Persen, Anggota Kongres AS Sebut Perampokan Terang-terangan
Timnas Spanyo. (instagram/@sefutbol)

AKURAT BANTEN - Berdasarkan ketentuan perpajakan yang berlaku di Amerika Serikat, setiap pendapatan yang dihasilkan dari aktivitas di wilayah AS pada umumnya menjadi objek pajak yang dipungut oleh Internal Revenue Service (IRS).

Bagi atlet asing berstatus non-residen, sejumlah pembayaran umumnya dikenai pemotongan pajak federal sebesar 30 persen, kecuali apabila terdapat keringanan melalui perjanjian pajak atau pengecualian tertentu.

Aturan tersebut memicu sorotan dari sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat. Perwakilan Tim Burchett (Partai Republik, Tennessee) menilai penerapan pajak terhadap hadiah uang juara Piala Dunia sebagai kebijakan yang tidak masuk akal.

"Saya pikir itu adalah perampokan terang-terangan," kata Burchett kepada Fox News Digital.

Baca Juga: Michael Olise Jadi Raja Assist Dunia, Rekor Bersejarah Ini Bikin Real Madrid Kepincut

Meski demikian, ia mengakui bahwa atlet profesional asal Amerika juga berada di bawah aturan perpajakan yang sama.

Karena itu, menurutnya, tim nasional Spanyol telah mengetahui ketentuan tersebut sebelum datang bertanding di Amerika Serikat.

Burchett menilai tarif pajak yang tinggi berpotensi memberikan kesan kurang baik ketika AS bersiap menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga internasional bergengsi.

Ia berpendapat, dibanding mengambil sebagian besar hadiah yang diterima atlet, pemerintah seharusnya mendorong para peserta dan wisatawan internasional membelanjakan uang mereka di Amerika sehingga dapat menggerakkan roda perekonomian.

Baca Juga: KAI Hadirkan Area Bermain Anak di 40 Stasiun, Perjalanan Kereta Makin Ramah Keluarga saat Hari Anak Nasional 2026

"Kita ingin mendorong mereka untuk datang ke sini dan membelanjakan uang di Amerika, tetapi kemudian kita mengambil sebagian besar pendapatan mereka. Kita membutuhkan sistem pajak yang lebih baik," katanya.

Pandangan serupa juga disampaikan Anggota Kongres Jonathan Jackson (Demokrat, Illinois).

Ia menyebut kemungkinan tim nasional Spanyol dikenai pajak dalam jumlah besar sebagai sesuatu yang "tidak benar," sekaligus menilai hal itu mencerminkan kelemahan dalam sistem perpajakan Amerika Serikat.

Jackson berpandangan bahwa beban kontribusi terhadap anggaran negara seharusnya lebih besar ditanggung oleh dunia usaha, bukan oleh para pekerja.

Menurutnya, tidak masuk akal apabila atlet maupun pekerja harus membayar pajak hingga 30 persen dari pendapatan yang mereka peroleh.

Di sisi lain, Anggota Kongres Burgess Owens (Partai Republik, Utah) juga menyatakan bahwa tarif pajak sebesar 30 persen terlalu tinggi.

Ia menilai penyelenggaraan Piala Dunia akan memberikan dampak ekonomi dan sosial yang positif bagi Amerika Serikat dalam jangka panjang.

Sebagai mantan pemain NFL, Owens mengaku turnamen Piala Dunia telah mengubah cara pandangnya terhadap sepak bola. Ia optimistis ajang tersebut akan memotivasi semakin banyak anak-anak di Amerika untuk menekuni olahraga tersebut.

"Saya benar-benar lebih menghargai sepak bola sekarang. Saya percaya Piala Dunia akan menjadi titik balik bagi banyak anak-anak Amerika," katanya, sembari menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden Amerika Serikat dan seluruh pihak yang berperan membawa Piala Dunia ke negara tersebut.

Mengacu pada data FIFA, total hadiah Piala Dunia 2026 mencapai 871 juta dolar AS.

Dari jumlah tersebut, sekitar 655 juta dolar AS dibagikan berdasarkan pencapaian masing-masing tim selama turnamen.

Dengan aturan perpajakan yang berlaku di Amerika Serikat, seluruh tim yang bertanding di negara itu, termasuk peserta yang hanya memperoleh dana partisipasi, berpotensi dikenai pajak atas penghasilan yang mereka terima.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.