Banten

Gamaba Digadang Jadi Varietas Bawang Merah Super Produktif untuk Dataran Rendah

Viona Sebastian Nolani | 31 Juli 2026, 13:38 WIB
Gamaba Digadang Jadi Varietas Bawang Merah Super Produktif untuk Dataran Rendah
Gamaba, Calon Varietas Unggul Bawang Merah Adaptif Dataran Rendah. (brin.go.id)

AKURAT BANTEN - Bawang merah menjadi salah satu komoditas hortikultura yang memiliki permintaan tinggi di Indonesia dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Meski demikian, produktivitas bawang merah masih menghadapi tantangan karena belum banyak varietas yang mampu tumbuh dan berproduksi optimal di wilayah dataran rendah.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Hortikultura bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Gamaba, calon varietas unggul bawang merah yang dirancang khusus agar adaptif di agroekosistem dataran rendah.

Perbanyakan Gamaba saat ini dilakukan di lahan milik petani kooperator Didik Hartanto yang berada di Candi Dukuh, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Baca Juga: Terongkar Penyebab Hujan Ekstrem di Semarang, Jawab Misteri Mengapa Hanya Pantura yang Diguyur Deras

Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami, mengapresiasi perkembangan tanaman Gamaba yang menunjukkan pertumbuhan serta karakter umbi yang dinilai cukup menjanjikan.

Ia menilai, penguatan data ilmiah sekaligus penyiapan sistem perbenihan sejak tahap awal menjadi langkah penting agar hasil penelitian dapat segera diterapkan dan memberikan manfaat langsung bagi para petani.

“Kami berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada kegiatan penelitian saja. Kami ingin memastikan calon varietas yang dihasilkan memiliki keunggulan yang teruji, benihnya dapat diproduksi secara berkelanjutan, dan pada akhirnya dapat memberikan manfaat nyata bagi petani,” ujarnya, Kamis (30/7).

Gamaba merupakan hasil kolaborasi tim Fakultas Pertanian UGM yang terdiri atas Endang Sulistyaningsih dan Valentina Dwi Suci Handayani bersama peneliti BRIN, Retno Pangestuti dan Rini Rosliani.

Baca Juga: Denny Indrayana Kritik Anggaran MBG, Sebut Prabowo Berisiko Langgar Sumpah Jabatan

Calon varietas bawang merah ini telah mengantongi Sertifikat Pendaftaran Varietas Nomor 939/PVHP/2022 dan kini sedang dipersiapkan untuk menjalani tahapan pengujian sebagai syarat pengusulan pelepasan varietas.

Area penanaman dipilih pada wilayah dengan ketinggian sekitar 100 hingga 300 meter di atas permukaan laut karena mewakili karakter agroekosistem dataran rendah yang menjadi sasaran utama pengembangan Gamaba.

Peneliti Pusat Riset Hortikultura BRIN sekaligus penanggung jawab penelitian, Retno Pangestuti, menjelaskan bahwa riset sepanjang 2026 difokuskan pada peningkatan stok umbi benih yang berasal dari true seed of shallot (TSS).

Selain memperbanyak stok benih, penelitian juga diarahkan pada karakterisasi genetik dan analisis profil metabolit guna memperkuat identitas sekaligus keunggulan Gamaba sebagai calon varietas unggul baru.

“Kami sedang menyiapkan bahan tanam dalam jumlah dan mutu yang memadai untuk mendukung pengujian calon varietas. Selain karakter agronomis, penelitian juga akan mencakup karakterisasi genetik dan profil metabolit untuk memperkuat identitas serta informasi keunggulan Gamaba,” jelasnya.

Pada 2027 mendatang, tim peneliti akan melaksanakan uji keunggulan sebagai salah satu persyaratan dalam proses pengusulan pelepasan varietas.

Apabila seluruh tahapan pengujian dan proses pelepasan varietas berjalan sesuai rencana, maka pada 2028 kegiatan akan difokuskan pada hilirisasi hasil riset dan perbanyakan benih dengan melibatkan produsen benih yang memenuhi persyaratan.

Dari hasil pengamatan agronomis sementara, Gamaba memiliki potensi produktivitas lebih dari 15 ton per hektare dengan hasil yang relatif stabil baik pada musim hujan maupun musim kemarau.

Calon varietas ini juga memiliki ukuran umbi yang relatif besar, masa panen lebih cepat sekitar 50 hingga 55 hari setelah tanam, serta berpotensi memiliki daya simpan hingga lima bulan.

Meski demikian, seluruh karakter unggul tersebut masih harus melalui serangkaian pengujian lanjutan sesuai ketentuan pelepasan varietas.

“Pengembangan bawang merah adaptif dataran rendah penting dilakukan karena membuka peluang optimalisasi lahan sawah setelah panen padi dan lahan kering beririgasi,” tambah Retno.

Menurut Retno, kondisi suhu yang lebih tinggi di dataran rendah menuntut adanya varietas bawang merah yang mampu menjaga pertumbuhan, pembentukan umbi, serta produktivitas tetap stabil pada berbagai musim.

Kehadiran varietas yang sesuai diharapkan mampu memperluas musim tanam dan wilayah budidaya sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan bawang merah di tingkat nasional.

“Saat ini, tim sedang menyiapkan strategi pemeliharaan bahan tanaman sumber melalui penyediaan stok umbi benih dan biji (TSS). Strategi tersebut diperlukan untuk menjaga ketersediaan bahan tanaman, identitas genetik, kemurnian, dan mutu benih selama proses pengembangan,” ungkapnya.

Melalui kolaborasi BRIN dan UGM, pengembangan Gamaba diharapkan dapat mempercepat hadirnya varietas bawang merah unggul yang adaptif di dataran rendah, berproduktivitas tinggi, memiliki umur panen lebih singkat, serta daya simpan yang baik.

Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas petani sekaligus memperkuat stabilitas pasokan bawang merah nasional di masa mendatang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.