Klub Sepak Bola di Luar Negeri Milik Orang Indonesia: 7 di Eropa dan 1 di Australia

AKURAT BANTEN - Sepak bola telah bertransformasi dari sekedar olahraga idelisme kedaerahan menjadi industri global yang menguntungkan bagi para investor, karena telah dikelola dengan mengintegrasikan antara manajemen profesional dan teknologi modern.
Sebagai sebuah industri, sepak bola menawarkan keuntungan besar melalui berbagai aliran pendapatan, seperti hak siar televisi, penjualan tiket, merchandise, sponsorship, dan transfer pemain.
Meskipun menawarkan keuntungan yang besar, bisnis ini sering membutuhkan manajemen profesional untuk mengatasi biaya operasional, terutama gaji pemain.
Baca Juga: Pajak Motor dan Mobil di Jateng Jabar dan Jakarta Beda Jauh? Ini Fakta Tarif yang Bikin Warga Kaget
Biasanya manajemen klub memonetisasi basis penggemar serta memanfaatkan partisipasi di turnamen termasuk sewa stadion bagi event-event tertentu untuk menghasilkan uang.
Uniknya, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pengusaha Indonesia mulai memperluas investasinya dengan mengakuisisi beberapa klub sepak bola di luar negeri terutama di Benua Biru.
Dirangkum dari berbagai sumber terpercaya, ternyata tidak sedikit dari mereka berhasil mengangkat nama klub tersebut naik level dari divisi dasar hingga naik ke kasta utama dan mulai dikenal kembali, seperti KOMO 1907 di Italia.
Baca Juga: THR Pensiunan PNS Sudah Cair? Ini Cara Cek Saldo Tanpa Mobile Banking, Dijamin Praktis
8 Klub Sepak Bola Eropa dan Oseania Milik Orang Indonesia:
1. Como 1907 (Italia)
Dua bersaudara Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono merupakan pengusaha yang masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia, mengambil alih Como 1907 melalui Grup Djarum pada 2019. Investasi ini dilakukan untuk menyelamatkan Como dari kebangkrutan yang dialami pada 2016.
Selanjutnya melalui manajemen baru, menunjuk Cesc Fabregas merupakan mantan pemain Arsenal dan Barcelona, sebagai peracik strategi (Pelatih Kepala). Hasilnya, Como tampil atraktif hingga saat ini, dan konsisten berada di divisi utama Seri A Italia.
2. Tranmere Rovers (Inggris)
Santini Group milik keluarga Wanandi, pada 2019 mengakuisisi klub kasta keempat Liga Inggris (League Two), dan untuk menyehatkan keuangan klub, Tranmere Rovers telah bekerja sama dengan produsen apparel lokal Mills, sebagai penyedia jersey resmi, baik laga tandang maupun laga kandang.
3. Lecce (Italia)
CEO Emtek Group Alvin Sariatmadja diketahui telah membeli 10 persen saham klub Lecce yang berlaga di Serie A Italia sejak tahun 2022, melalui konsorsium bersama bankir Boris Collardi dan pengusaha Pascal Picci.
Lecce hingga saat ini telah menunjukkan konsistensinya bertahan di Serie A, meskipun belum mampu mengangkat trofi juara. Pada musim 2023/2024, Lecce hanya finis di posisi ke-14 klasemen akhir.
Baca Juga: Jangan Salah Niat Mandi Sebelum Puasa Ramadhan 2026 yang Benar, Lengkap Tata Cara dan Hukumnya
4. FCV Dender (Belgia)
Klub asal Belgia ini, mulai terkenal di kalangan fans Indonesia setelah merekrut Ragnar Oratmangoen, pemain keturunan Indonesia yang memperkuat Tim Garuda.
Klub ini dimiliki oleh Sihar Sitorus sejak 2018. FCV Dender sempat bermain di kasta ketiga, namun kini telah naik ke Belgian First Division A (kasta tertinggi) Belgia.
5. Polillas Ceuta (Spanyol)
Batavia Sports Group memiliki klub ini sejak 2020, yang berada divisi keempat liga Spanyol, BSG memiliki afiliasi kuat dengan SSB ternama di Indonesia, ASIOP.
Meski berada di level bawah kompetisi Spanyol, Polillas Ceuta kerap menjadi jembatan bagi pemain muda Indonesia untuk mencicipi atmosfer sepak bola Eropa.
Baca Juga: Masih Ribut Tarawih 8 atau 20 Rakaat? Ulama Tegaskan Dua-Duanya Sah, Ini Penjelasan Lengkapnya
6. Oxford United (Inggris)
Oxford United resmi diakuisisi oleh Erick Thohir dan pengusaha Anindya Bakrie pada tahun 2021. Popularitas klub ini di Indonesia turut meningkat setelah merekrut pemain Timnas Indonesia, Marselino Ferdinan.
Hingga saat ini, performa klub yang bermarkas di The Kassam Stadium terus menunjukkan peningkatan. Pada musim 2023/2024, Oxford United sukses promosi ke Championship, kasta kedua Liga Inggris.
7. Estrela da Amadora (Portugal)
Estrela da Amadora merupakan klub yang bermain di kasta tertinggi Liga Portugal, perusahaan asal Indonesia, Pakuan Football Enterprise merupakan salah satu pemilik sahamnya.
Klub ini sukses promosi ke liga utama pada musim 2022/2023 dan terus berkembang dengan sokongan dana investor asing, termasuk dari Indonesia.
Baca Juga: Guncang Dunia! RI dan 7 Negara Muslim Bersatu 'Kepung' Israel Terkait Pencaplokan Tepi Barat
8. Brisbane Roar (Australia)
Bakrie Group awalnya memiliki 70 persen saham klub tahun 2011, namun pada tahun 2012 menguasai 100 persen kepemilikan saham milik club Brisbane Roar tersebut.
Hebatnya lagi, klub ini dikenal sebagai tim Australia pertama yang dimiliki oleh investor asing. *******
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










