Dulu Belajar dari Pep, Kini Arteta Jadi Ancaman Terbesar Manchester City

AKURAT BANTEN - Persaingan gelar Premier League musim 2025/2026 kini bukan lagi sekadar duel antara dua klub terbaik Inggris, melainkan sudah berubah menjadi pertarungan emosional antara seorang guru dan murid yang kini saling menjatuhkan demi mempertahankan mimpi menjadi penguasa sepak bola Inggris.
Di satu sisi ada Pep Guardiola bersama Manchester City yang ingin terus mempertahankan dominasi mereka, sementara di sisi lain muncul Mikel Arteta yang perlahan mencoba merebut singgasana dari sosok yang dulu justru membantunya berkembang menjadi pelatih elite.
Kisah hubungan Guardiola dan Arteta sebenarnya sudah sangat panjang sebelum mereka menjadi rival dalam perebutan trofi Premier League.
Arteta pernah menjadi asisten terpercaya Pep di Manchester City sejak 2016 dan terlibat langsung dalam pembangunan salah satu tim paling dominan dalam sejarah sepak bola Inggris.
Baca Juga: Arsenal Mulai Gemetar? Trauma Gagal Juara Kembali Menghantui The Gunners
Bersama Pep, Arteta belajar banyak hal tentang detail taktik, penguasaan bola, pressing agresif, hingga bagaimana membangun mental juara dalam ruang ganti.
Bahkan banyak pemain Manchester City pada masa itu mengakui bahwa Arteta bukan sekadar asisten biasa. Ia disebut memiliki pengaruh besar dalam sesi latihan dan pendekatan taktik tim.
Pep sendiri pernah memberi pujian besar kepada mantan anak buahnya tersebut. “Dia memiliki etos kerja luar biasa dan pemahaman permainan yang sangat spesial,” ujar Guardiola beberapa musim lalu ketika Arteta mulai menangani Arsenal F.C..
Namun sepak bola selalu menghadirkan cerita yang berubah cepat. Kini hubungan guru dan murid itu justru berkembang menjadi salah satu rivalitas paling menarik di Eropa.
Baca Juga: Prediksi Skor Aston Villa vs Liverpool: Siapa Tumbang, Siapa Selamat ke Liga Champions?
Arteta yang dulu berdiri di belakang Pep kini menjadi ancaman terbesar bagi Manchester City dalam perebutan gelar Premier League.
Musim ini Arsenal benar-benar tampil sebagai pesaing serius City. The Gunners bahkan sempat memimpin klasemen cukup nyaman sebelum persaingan kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir.
Arteta perlahan berhasil mengubah Arsenal dari tim muda yang inkonsisten menjadi skuad yang mampu bermain dengan identitas jelas dan mental yang jauh lebih kuat.
Yang menarik, banyak orang melihat Arsenal musim ini seperti “bayangan Manchester City” versi baru. Cara mereka menguasai pertandingan, memainkan pressing tinggi, hingga membangun serangan dari bawah sangat dipengaruhi filosofi Guardiola.
Baca Juga: Xabi Alonso Bisa Tolak Chelsea Jika Tak Diberi Kendali Penuh di Stamford Bridge
Namun Arteta juga mulai menambahkan identitasnya sendiri dengan permainan yang lebih emosional, agresif, dan cepat saat transisi menyerang.
Persaingan keduanya semakin panas setelah Arsenal kalah 1-2 dari Manchester City di Etihad Stadium bulan lalu, laga yang dianggap sebagai titik balik perburuan gelar musim ini. Kemenangan tersebut membuat City kembali menekan Arsenal hingga selisih poin kini hanya terpaut sangat tipis.
Menariknya, meski bersaing sangat keras di lapangan, hubungan personal Guardiola dan Arteta sebenarnya tetap terlihat penuh rasa hormat.
Pep bahkan beberapa kali menyebut Arsenal sebagai lawan paling sulit yang ia hadapi dalam beberapa musim terakhir. Namun dalam sepak bola level tertinggi, rasa hormat tetap tidak menghapus kenyataan bahwa keduanya kini sedang saling menghancurkan demi satu trofi yang sama.
Baca Juga: Chelsea Ingin Xabi Alonso, Tapi Risiko Besarnya Mulai Dibicarakan
Tekanan kini semakin besar terhadap kedua pelatih menjelang akhir musim. Guardiola ingin membuktikan bahwa Manchester City masih menjadi penguasa sepak bola Inggris, sementara Arteta sedang mencoba menciptakan sejarah baru dengan mengakhiri puasa gelar Arsenal yang sudah berlangsung selama lebih dari dua dekade.
Bagi para pencinta sepak bola, duel Guardiola dan Arteta bukan hanya tentang siapa yang lebih pintar secara taktik, tetapi juga tentang bagaimana seorang murid mencoba melampaui sosok yang selama ini dianggap sebagai guru terbaiknya.
Di Premier League musim ini, pertarungan itu terasa semakin emosional karena hanya satu dari mereka yang akan berdiri sebagai pemenang di akhir musim.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Tiyo Ardianto: Dari Awal Saya Bilang MBG Itu 'Maling Berkedok Gizi'
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Sempat Dibela Dadan Hindayana, 41 Dapur MBG Anak Pejabat DPRD Sulsel Tuai Sorotan, Aktivis Desak Audit Menyeluruh
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan
- 7Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia
- 8Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil
- 9Perang Berbalik Arah? Ukraina Mulai Rebut Wilayah Rusia Berkat Serangan Drone Mematikan
- 10Jerman Peringatkan Rusia Bisa Ancam NATO pada 2029, Eropa Mulai Siaga Perang








