Banten

Putaran Keempat Kualifikasi Zona Asia: Lubang Jarum Mematikan yang Bakal Dihapus Regulasi Baru FIFA?

Abdurahman | 21 Mei 2026, 22:18 WIB
Putaran Keempat Kualifikasi Zona Asia: Lubang Jarum Mematikan yang Bakal Dihapus Regulasi Baru FIFA?
Timnas Indonesia kalah dari Arab Saudi di putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026. (Arsip AFC)

AKURAT BANTEN– Putaran Keempat Kualifikasi Zona Asia selama ini dikenal sebagai fase paling kejam, melelahkan, dan menjadi momok menakutkan bagi negara-negara yang bermimpi lolos ke Piala Dunia.

Di babak inilah perjuangan hidup-mati terjadi, di mana kesalahan sekecil apa pun bisa langsung mengubur mimpi indah yang sudah dirajut bertahun-tahun.

Bagi Timnas Indonesia, fase ini adalah saksi bisu betapa sengit dan ketatnya persaingan sepak bola di benua kuning.

Skuad Garuda yang tampil gagah berani harus merasakan sendiri betapa tipisnya batas antara sejarah besar dan kegagalan dramatis di putaran keempat ini.

Namun, sebuah kabar mengejutkan dari markas besar FIFA di Zurich berpotensi mengubah segalanya.

Fase "lubang jarum" yang kerap menyiksa fisik dan mental para pemain ini dikabarkan bisa segera usang atau mengalami perombakan total.

Putaran Keempat Kualifikasi Zona Asia adalah kuburan bagi mimpi-mimpi besar. Di babak ini, taktik jenius dan fisik prima saja tidak cukup—keberuntungan dan mental baja yang berbicara. Namun, regulasi baru yang sedang digodok FIFA bisa jadi akan menghapus kutukan fase mematikan ini untuk selamanya.

Baca Juga: Jerman Panggil Lagi Neuer! Der Panzer Datang ke Piala Dunia 2026 dengan Skuad Penuh Bintang

Sinyal Regulasi Baru FIFA: Akhir dari Fase Kejam?

Media olahraga ternama Spanyol, AS, membocorkan bahwa Presiden FIFA Gianni Infantino sedang mempertimbangkan usulan radikal untuk memperlebar kuota peserta Piala Dunia 2030 menjadi 66 tim.

Rencana gila-gilaan yang didorong oleh konfederasi CONMEBOL ini langsung direspons positif oleh petinggi FIFA.

Jika wacana megaproyek ini ketok palu, dampaknya terhadap peta kompetisi di Asia akan sangat masif.

Kuota melimpah yang didapatkan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) diprediksi bakal membuat format kualifikasi dipangkas habis.

Artinya, negara dengan progres melesat seperti Timnas Indonesia tidak perlu lagi terjebak dan berdarah-darah melewati fase krusial seperti Putaran Keempat Kualifikasi Zona Asia.

Jalan menuju putaran final otomatis akan dikonversi menjadi "jalan tol" yang jauh lebih longgar dan bersahabat.

Selama format kualifikasi masih menyisakan Putaran Keempat Zona Asia, negara-negara berkembang akan selalu dihadapkan pada tembok tebal kelelahan luar biasa. Tambahan kuota menjadi 66 tim adalah angin segar. Ini adalah momentum di mana AFC kemungkinan besar harus merombak format kualifikasi, memberikan tiket langsung lebih banyak, dan membebaskan Indonesia dari jeratan babak play-off yang mematikan.

Baca Juga: Neymar Menangis Saat Dipanggil ke Piala Dunia 2026, Comeback Sang Raja Brasil Akhirnya Jadi Nyata

PSSI dan Shin Tae-yong Harus Kunci Momentum

Meski regulasi baru 66 tim tersebut disiapkan untuk proyeksi masa depan, memori dan pelajaran berharga dari sengitnya atmosfer Putaran Keempat Kualifikasi Zona Asia harus menjadi bahan evaluasi total bagi PSSI dan pelatih Shin Tae-yong.

Pematangan kedalaman skuad, akselerasi program naturalisasi, dan peningkatan mental bertanding di level Asia tidak boleh dikendorkan sedikit pun.

Mimpi melihat Merah Putih berkibar di panggung Piala Dunia kini bukan lagi sekadar angan-angan kelomang.

Dengan kualitas Skuad Garuda yang terus menanjak dan regulasi FIFA yang mulai melonggarkan jalan, kita mungkin sedang bersiap menyaksikan akhir dari era penyiksaan di putaran keempat, dan menyambut era baru kelolosan Indonesia secara meyakinkan.

Apakah menurut Anda Timnas Indonesia memang sudah saatnya naik kelas dan meninggalkan drama melelahkan di fase kualifikasi Asia? (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman