Di Balik Kesuksesan Manchester City, Pep Guardiola Simpan Penyesalan Besar

AKURAT BANTEN - Kesuksesan Manchester City bersama Pep Guardiola dalam hampir satu dekade terakhir memang sulit dibantah. Deretan trofi Premier League, Liga Champions, hingga dominasi di berbagai kompetisi domestik membuat era Guardiola dianggap sebagai salah satu periode terbaik dalam sejarah klub.
Namun di balik semua pencapaian besar itu, ternyata Pep masih menyimpan satu penyesalan yang sampai sekarang terus membekas dalam pikirannya.
Pelatih asal Spanyol tersebut baru-baru ini mengungkapkan bahwa penyesalan terbesar selama menangani Manchester City bukanlah soal kekalahan di final besar atau gagal meraih trofi tertentu, melainkan karena ia merasa tidak mampu memberikan cukup menit bermain kepada seluruh pemain yang dimilikinya.
Dalam pernyataannya, Guardiola mengaku sering merasa bersalah kepada beberapa pemain yang sebenarnya tampil profesional dan bekerja keras di latihan, tetapi kesulitan mendapat tempat utama karena ketatnya persaingan di skuad Manchester City.
Baca Juga: Jelang Borneo FC vs Malut United, David da Silva Tegas: Saya Tidak Pikirkan Persib
“Saya punya penyesalan besar karena ada pemain-pemain yang pantas bermain lebih banyak, tetapi saya tidak bisa memberikannya,” ujar Guardiola dalam wawancara yang dikutip media Inggris.
“Saya tahu mereka layak mendapat kesempatan lebih banyak karena sikap dan kualitas mereka luar biasa,” lanjutnya.
Ucapan itu memperlihatkan sisi lain Guardiola yang jarang terlihat di tengah citranya sebagai pelatih perfeksionis.
Selama ini, Pep dikenal sebagai sosok yang sangat detail dalam menentukan komposisi pemain dan tidak ragu mencadangkan nama besar demi kebutuhan taktik.
Baca Juga: Borneo FC Belum Menyerah! Pesut Etam Masih Intip Keajaiban di Pekan Terakhir Super League
Namun, di balik keputusan-keputusan keras tersebut, ternyata ia tetap menyimpan beban emosional terhadap para pemain yang kurang mendapat menit bermain.
Situasi itu memang cukup sering terjadi di Manchester City dalam beberapa musim terakhir. Kedalaman skuad yang luar biasa membuat banyak pemain top harus rela duduk di bangku cadangan meski sebenarnya cukup layak menjadi starter di klub lain.
Nama-nama seperti Kalvin Phillips pada masa lalu, Julián Álvarez, hingga beberapa pemain muda akademi sempat mengalami situasi serupa karena sulit bersaing di tim utama.
Musim 2025/2026 sendiri menjadi salah satu musim paling emosional bagi Guardiola. Setelah beberapa tahun mendominasi Liga Inggris, City akhirnya gagal mempertahankan gelar Premier League usai kalah bersaing dengan Arsenal yang tampil sangat konsisten sepanjang musim.
Baca Juga: Madura United vs PSM Makassar Memanas! Duel Penentu Nasib Degradasi Bisa Berakhir Dramatis
Hasil imbang 1-1 melawan AFC Bournemouth pada pekan lalu memastikan trofi liga jatuh ke tangan Arsenal dan mengakhiri dominasi City dalam beberapa musim terakhir.
Meski begitu, Guardiola tetap berhasil mempersembahkan trofi Piala FA musim ini dan menjaga Manchester City tetap kompetitif di semua ajang. Hal tersebut kembali menunjukkan betapa tingginya standar yang telah dibangun Guardiola sejak datang ke Etihad Stadium pada 2016.
Menariknya, beberapa laporan media Inggris juga menyebut Guardiola mulai melakukan evaluasi besar terhadap struktur skuad Manchester City menjelang musim depan.
Beberapa pemain yang minim menit bermain kemungkinan akan dilepas demi menjaga keseimbangan ruang ganti sekaligus memberi kesempatan lebih besar kepada pemain muda.
Baca Juga: Tangisan Ronaldo Berujung Perpisahan, Jorge Jesus Resmi Tinggalkan Al Nassr
Pep sendiri menegaskan bahwa menjaga kebahagiaan pemain adalah salah satu tantangan tersulit dalam melatih klub besar seperti Manchester City.
“Ketika Anda memiliki 20 pemain hebat dan hanya bisa memainkan 11 pemain, selalu ada orang yang kecewa. Itu bagian tersulit dalam pekerjaan ini,” kata Guardiola.
Perkataan tersebut menunjukkan bahwa sepak bola modern bukan hanya tentang taktik dan trofi, tetapi juga tentang bagaimana seorang pelatih mengelola hubungan manusia di dalam ruang ganti.
Dan meski Guardiola telah memenangkan hampir semuanya bersama Manchester City, penyesalan terhadap para pemain yang jarang tampil ternyata tetap menjadi luka kecil yang belum benar-benar hilang dari dirinya.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 5Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 6Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 7Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 8Man City Dihantam Kasus Finansial, Steven Gerrard Angkat Suara: Bukan Degradasi, Hukuman Ini yang Harus Diterima!
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!










