Dibobol Hattrick Messi di Piala Dunia 2026, Begini Perjalanan Luca Zidane Keluar dari Bayang-Bayang Sang Ayah

AKURAT BANTEN - Nama Luca Zidane mendadak menjadi perbincangan pada Piala Dunia 2026. Bukan karena penyelamatan spektakuler atau aksi heroik yang membawa timnya meraih kemenangan, melainkan karena ia menjadi salah satu korban penampilan gemilang Lionel Messi di panggung terbesar sepak bola dunia.
Pada pertandingan fase grup Piala Dunia 2026, Messi tampil luar biasa dengan mencetak hattrick yang membantu Argentina meraih kemenangan penting.
Di sisi lain, Luca Zidane yang berdiri di bawah mistar harus menerima kenyataan pahit melihat gawangnya dibobol tiga kali oleh salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola.
Bagi sebagian pemain, malam seperti itu mungkin akan menjadi mimpi buruk. Namun bagi Luca, pertandingan tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan panjang yang telah ia tempuh selama bertahun-tahun untuk membangun identitasnya sendiri di dunia sepak bola.
Baca Juga: Iran vs Selandia Baru, Laga Piala Dunia yang Membawa Beban Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Sebab sejak lahir, Luca sudah membawa nama keluarga yang begitu berat, yaitu Zidane.
Terlahir Sebagai Putra Legenda
Luca Zidane lahir pada 13 Mei 1998 di Marseille, Prancis. Ia merupakan putra kedua dari Zinedine Zidane, legenda sepak bola Prancis yang membawa Les Bleus menjadi juara Piala Dunia 1998 dan Euro 2000.
Ketika Zinedine Zidane menjadi ikon sepak bola dunia bersama Juventus dan kemudian Real Madrid, Luca tumbuh di lingkungan yang sangat dekat dengan sepak bola elite Eropa.
Namun berbeda dengan sang ayah yang dikenal sebagai gelandang elegan dan kreatif, Luca memilih jalur berbeda. Ia memutuskan menjadi penjaga gawang.
Baca Juga: Matt Freese, Kiper Jenius AS Lulusan Harvard yang Bersinar di Piala Dunia 2026
Pilihan tersebut membuatnya menempuh perjalanan yang tidak biasa. Alih-alih dibandingkan dengan gaya bermain ayahnya, Luca harus membuktikan dirinya mampu bersaing di posisi yang sama sekali berbeda.
Menimba Ilmu di Akademi Real Madrid
Sebagian besar masa perkembangan Luca terjadi di akademi Real Madrid. Ia bergabung dengan sistem pembinaan klub raksasa Spanyol tersebut sejak usia muda dan secara bertahap menembus berbagai kelompok umur.
Sebagai kiper muda, Luca dikenal memiliki refleks yang baik serta kemampuan memainkan bola dengan kaki yang cukup mumpuni, sebuah kualitas yang semakin penting dalam sepak bola modern.
Perjalanannya bersama Real Madrid membawanya hingga ke tim utama. Meski tidak pernah menjadi pilihan utama secara reguler, pengalaman berlatih bersama para pemain terbaik dunia menjadi bekal penting bagi perkembangan kariernya.
Baca Juga: Logistik Dicuri, Tornado Mengancam, Chef Ditahan! Jalan Inggris Menuju Piala Dunia 2026 Penuh Drama
Setelah meninggalkan Madrid, Luca melanjutkan karier profesionalnya di berbagai klub untuk mendapatkan menit bermain yang lebih banyak dan mengembangkan kemampuannya sebagai kiper utama.
Memilih Spanyol, Bukan Prancis
Salah satu keputusan paling menarik dalam karier Luca adalah soal tim nasional.
Sebagai putra Zinedine Zidane, banyak orang menganggap Luca akan mengikuti jejak sang ayah dengan membela Prancis. Namun kenyataannya berbeda.
Karena menghabiskan sebagian besar masa kecil dan pendidikan sepak bolanya di Spanyol, Luca memilih membela tim nasional Spanyol di level internasional.
Keputusan tersebut sempat mengejutkan sebagian penggemar sepak bola. Namun bagi Luca, Spanyol adalah tempat ia tumbuh sebagai pemain dan membangun kariernya sejak usia dini.
Baca Juga: Jerman Nyaris Dipermalukan Curacao, Strategi Nagelsmann Jadi Penyelamat di Piala Dunia 2026
Pilihan itu sekaligus menunjukkan keinginannya untuk menciptakan identitas sendiri, terpisah dari warisan besar yang ditinggalkan sang ayah.
Hidup di Bawah Bayang-Bayang Nama Besar
Menjadi anak legenda sepak bola sering kali menghadirkan tekanan yang tidak dialami pemain lain.
Setiap penampilan Luca hampir selalu dibandingkan dengan Zinedine Zidane. Padahal keduanya bermain di posisi berbeda dan memiliki karakter sepak bola yang sama sekali tidak sama.
Fenomena serupa juga dialami banyak anak pesepak bola terkenal lainnya. Publik sering kali berharap mereka mampu mengulang kesuksesan generasi sebelumnya, sesuatu yang tidak selalu mudah dilakukan.
Namun Luca terus berusaha membangun reputasinya sendiri melalui kerja keras dan konsistensi di lapangan.
Baca Juga: Suhu Ekstrem Ancam Piala Dunia 2026, Ilmuwan Sebut Pemain Bisa dalam Bahaya
Hattrick Messi dan Babak Baru Karier Luca
Kebobolan tiga gol dari Messi di Piala Dunia 2026 tentu bukan pengalaman yang menyenangkan. Namun jika melihat perjalanan karier sang megabintang Argentina, Luca bukanlah kiper pertama yang merasakan hal tersebut.
Messi telah mencetak ratusan gol sepanjang kariernya dan berkali-kali menjadi mimpi buruk bagi penjaga gawang terbaik dunia. Dari Iker Casillas hingga Manuel Neuer, banyak nama besar pernah merasakan kualitas luar biasa pemain Argentina tersebut.
Bagi Luca Zidane, malam ketika Messi mencetak hattrick mungkin akan selalu dikenang. Namun pertandingan itu tidak mendefinisikan seluruh kariernya.
Justru di tengah sorotan akibat tiga gol Messi itulah kisah Luca menjadi menarik. Ia bukan sekadar anak dari Zinedine Zidane, melainkan seorang pesepak bola yang terus berusaha menulis jalannya sendiri.
Baca Juga: Timnas Iran Dihantam Konflik Timur Tengah Jelang Piala Dunia 2026, Kapten Ungkap Situasi Mencekam
Dan dalam dunia sepak bola, terkadang perjalanan untuk keluar dari bayang-bayang nama besar sama beratnya dengan memenangkan sebuah pertandingan di Piala Dunia.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Amien Rais Bongkar Fakta Baru Soal Ijazah Jokowi, Sebut Publik Akan Terkejut dengan Temuan Ini
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Nanik S Deyang Terseret! Sony Sonjaya Bongkar Dugaan ‘Permainan’ di Internal BGN: Itu Orang Tukang Fitnah!
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Roy Suryo Buka Suara: Sebut Polisi 'Terpaksa' Umumkan P21 Kasus Ijazah Jokowi, Ada Apa?
- 7GADUH! Kasus Ijazah Jokowi: Mengapa P-21 Roy Suryo dan dr. Tifa Malah Jadi 'Drama' Ketidakpastian Hukum?
- 8Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Mengaku Diintai, Temukan GPS Tracker di Mobil Usai Demo Gejayan: Semakin diteror semakin gacor!
- 9Hattrick ke Gawang Aljazair, Lionel Messi Kembali Ukir Sejarah di Piala Dunia 2026
- 10Prediksi Amerika Serikat vs Australia: Tuan Rumah Diunggulkan, Tapi Socceroos Siap Bikin Kejutan










