Banten

Kontroversi di Balik Final Piala Dunia 2026! Siasat Argentina Tuai Kritik Tajam dari Pengamat

Aullia Rachma Puteri | 20 Juli 2026, 22:21 WIB
Kontroversi di Balik Final Piala Dunia 2026! Siasat Argentina Tuai Kritik Tajam dari Pengamat
Permainan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina.

AKURAT BANTEN - Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina tak hanya dikenang karena lahirnya juara baru dunia. Di balik kemenangan La Roja, pertandingan yang berlangsung di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat, juga memunculkan perdebatan mengenai pendekatan permainan Argentina yang dinilai terlalu mengandalkan taktik mengulur waktu dan pelanggaran taktis.

Sejumlah pengamat sepak bola, mantan pemain, hingga media internasional menyoroti bagaimana tim asuhan Lionel Scaloni berusaha memutus ritme permainan Spanyol sepanjang pertandingan. Cara tersebut dianggap sah menurut regulasi, tetapi dinilai mengurangi kualitas tontonan pada partai puncak ajang sepak bola terbesar di dunia.

Sorotan paling tajam datang dari mantan kapten Manchester United, Gary Neville. Dalam analisisnya di ITV Sport, Neville menyebut Argentina tampil dengan pendekatan yang sangat pragmatis. Menurutnya, Albiceleste beberapa kali sengaja memperlambat tempo pertandingan melalui pelanggaran ringan, protes kepada wasit, hingga memanfaatkan setiap jeda untuk memecah momentum Spanyol.

Neville menilai strategi tersebut memang lazim digunakan dalam sepak bola modern, terutama pada pertandingan berintensitas tinggi. Namun, ia menyayangkan cara itu muncul di final Piala Dunia karena membuat aliran permainan menjadi sering terhenti.

Baca Juga: Henry dan Ibrahimovic Kompak Puji Spanyol! "Sepak Bola Jadi Pemenang" di Final Piala Dunia 2026

Pendapat serupa juga disampaikan sejumlah analis BBC Sport. Mereka menilai Spanyol sebenarnya mampu mendominasi penguasaan bola dan membangun serangan secara konsisten. Akan tetapi, ritme permainan beberapa kali terputus akibat banyaknya insiden kecil yang membuat pertandingan kehilangan tempo.

Meski demikian, para analis juga menegaskan bahwa tindakan Argentina tidak melanggar aturan permainan. Dalam Laws of the Game yang diterbitkan International Football Association Board (IFAB), pemain memang diperbolehkan melakukan pelanggaran taktis selama konsekuensinya diterima, termasuk kartu kuning apabila dianggap menghentikan serangan yang menjanjikan.

Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, juga membela pendekatan yang dipilih timnya. Menurutnya, menghadapi Spanyol membutuhkan disiplin tinggi karena lawan memiliki kualitas penguasaan bola yang sangat baik.

"Kami mencoba membuat mereka tidak nyaman. Itu bagian dari strategi menghadapi tim seperti Spanyol," ujar Scaloni seusai pertandingan.

Baca Juga: Trump Bikin Heboh! Ingin AS Jadi Tuan Rumah Piala Dunia Sendiri, Singgung China dan Tinggalkan Kanada-Meksiko

Di sisi lain, pelatih Spanyol Luis de la Fuente memilih tidak terlalu mempermasalahkan gaya bermain lawan. Ia lebih memuji ketenangan para pemainnya yang tetap mampu mempertahankan identitas permainan meski beberapa kali kehilangan momentum.

"Kami tahu mereka akan mencoba menghentikan ritme kami. Yang terpenting adalah para pemain tetap sabar dan terus memainkan sepak bola kami," kata De la Fuente.

Statistik pertandingan memang memperlihatkan duel berlangsung dengan tensi tinggi. Wasit beberapa kali mengeluarkan kartu kuning untuk menghentikan permainan yang mulai memanas. Selain itu, jumlah pelanggaran yang dilakukan kedua tim juga cukup tinggi dibandingkan rata-rata pertandingan sepanjang fase gugur Piala Dunia 2026.

Meski demikian, banyak pengamat menilai pertandingan tetap menyuguhkan kualitas tinggi. Spanyol mampu mempertahankan karakter bermain berbasis penguasaan bola, sedangkan Argentina menunjukkan organisasi pertahanan yang disiplin serta transisi cepat yang beberapa kali merepotkan lini belakang La Roja.

Baca Juga: Spanyol Pernah Hancurkan Argentina 6-1! Rekam Jejak Pertemuan Jelang Final Piala Dunia 2026

Legenda Prancis Thierry Henry bahkan menyebut kemenangan Spanyol sebagai kemenangan bagi filosofi sepak bola menyerang. Menurutnya, La Roja tetap berusaha memainkan sepak bola atraktif meski menghadapi lawan yang tampil sangat agresif dalam bertahan.

Komentar senada datang dari Zlatan Ibrahimovic, yang menilai Spanyol pantas menjadi juara karena mampu mempertahankan gaya bermainnya hingga akhir pertandingan. Ia menyebut keberhasilan La Roja menunjukkan bahwa permainan kolektif dan keberanian menguasai bola masih bisa menjadi jalan menuju gelar juara.

Di sisi lain, sejumlah pengamat juga mengingatkan agar kritik terhadap Argentina tidak berlebihan. Dalam sepak bola modern, pendekatan pragmatis merupakan bagian dari strategi yang sah. Banyak tim juara di berbagai kompetisi besar juga menggunakan pelanggaran taktis, pengelolaan tempo, dan manajemen waktu untuk mengamankan hasil.

Karena itu, perdebatan yang muncul lebih banyak berkaitan dengan aspek estetika permainan daripada persoalan sportivitas atau pelanggaran aturan. Argentina dinilai bermain keras dan sangat kompetitif, tetapi tidak melakukan tindakan yang berada di luar koridor regulasi.

Baca Juga: Arsene Wenger Buka Suara! Jawaban Tegas soal Aturan Jeda Minum Piala Dunia 2026 yang Banjir Kritik

Final Piala Dunia 2026 pada akhirnya menyisakan dua cerita berbeda. Di satu sisi, Spanyol merayakan gelar juara dunia berkat permainan kolektif yang memukau. Di sisi lain, pendekatan taktis Argentina memicu diskusi panjang tentang batas antara strategi untuk meraih kemenangan dan menjaga keindahan sepak bola.

Perdebatan tersebut kemungkinan masih akan terus berlanjut. Namun satu hal yang pasti, final Piala Dunia 2026 bukan hanya menghasilkan juara baru, melainkan juga membuka kembali diskusi lama tentang bagaimana sebuah tim seharusnya mengejar kemenangan di panggung terbesar sepak bola dunia.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.