Belajar dari Perbedaan: Memahami Penentuan 1 Syawal 1447 H, Lebaran 20 atau 21 Maret?

AKURAT BANTEN - Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar Sidang Isbat pada hari Kamis 19 Maret 2026 (29 Ramadan 1447 H) untuk menetapkan 1 Syawal 1447 H.
Bagi negara Indonesia hal ini mencerminkan kekayaan ijtihad umat Islam dengan keragaman pendekatan ilmiah dan keagamaan yang secara resmi berdasarkan rukyatul hilal dan hisab.
Sementara itu, PP Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal pada hari Jumat 20 Maret 2026 menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, di mana hilal dianggap lahir jika berada di atas ufuk saat matahari terbenam pasca-ijtimak.
Metode Rukyatul Hilal vs Hisab
Nahdlatul Ulama (NU) dan pemerintah menganut rukyatul hilal bil fi'li atau imkan rukyat, dengan kriteria minimal ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat sebagai standar MABIMS, memastikan hilal mungkin terlihat secara astronomis.
Metode hisab, seperti yang digunakan Muhammadiyah, didasarkan pada QS Yunus:5 dan Yasin:39-40, menekankan perhitungan pasti posisi hilal tanpa tergantung pengamatan mata telanjang.
Kedua pendekatan ini memiliki dasar kuat dari mazhab Syafi'i, Hanafi, Maliki, dan Hambali yang mayoritas mendukung rukyat, sementara sebagian ulama membolehkan hisab sebagai pelengkap jika rukyat mustahil.
Kajian Ilmiah dan Pendapat Ahli
Secara astronomi, perbedaan muncul karena variasi kriteria visibilitas hilal, seperti umur hilal minimal 8 jam atau elongasi 3 derajat di Indonesia, yang telah diformulasikan sejak 1990-an berdasarkan data rukyat.
Pendapat ahli seperti dari Planetarium UIN Walisongo menegaskan perhitungan ijtimak akurat memprediksi posisi hilal, mendukung dialog antar-metode untuk toleransi.
Baca Juga: Sudah Diambang Pintu! Ini Jadwal Sidang Isbat dan Prediksi Lebaran Idul Fitri 2026 Menurut Ahli
Menyikapi Perbedaan dengan Bijak
Perbedaan ini bukan konflik, melainkan bukti kemajuan ilmu falak di Indonesia; masyarakat didorong menghormati keputusan resmi pemerintah sambil memahami ijtihad ormas seperti NU dan Muhammadiyah.
Sebagai pendidikan, ajak keluarga berdiskusi tentang dasar Al-Qur'an dan sains di baliknya, memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah keberagaman.*****
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 5Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 6Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 7Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 8Man City Dihantam Kasus Finansial, Steven Gerrard Angkat Suara: Bukan Degradasi, Hukuman Ini yang Harus Diterima!
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!







