Banten

Belajar dari Perbedaan: Memahami Penentuan 1 Syawal 1447 H, Lebaran 20 atau 21 Maret?

Abdul Marta Nurdin | 18 Maret 2026, 14:01 WIB
Belajar dari Perbedaan: Memahami Penentuan 1 Syawal 1447 H, Lebaran 20 atau 21 Maret?
ilustrasi penentuan hisab dan rukyat (istimewa)

AKURAT BANTEN - Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar Sidang Isbat pada hari Kamis 19 Maret 2026 (29 Ramadan 1447 H) untuk menetapkan 1 Syawal 1447 H.

Bagi negara Indonesia hal ini mencerminkan kekayaan ijtihad umat Islam dengan keragaman pendekatan ilmiah dan keagamaan yang secara resmi berdasarkan rukyatul hilal dan hisab.

Sementara itu, PP Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal pada hari Jumat 20 Maret 2026 menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, di mana hilal dianggap lahir jika berada di atas ufuk saat matahari terbenam pasca-ijtimak.

Baca Juga: Geger! Rekaman CCTV Kematian Benjamin Netanyahu dalam Serangan Iran Dirilis Al Jazeera? Cek Faktanya!

Metode Rukyatul Hilal vs Hisab

Nahdlatul Ulama (NU) dan pemerintah menganut rukyatul hilal bil fi'li atau imkan rukyat, dengan kriteria minimal ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat sebagai standar MABIMS, memastikan hilal mungkin terlihat secara astronomis.

Metode hisab, seperti yang digunakan Muhammadiyah, didasarkan pada QS Yunus:5 dan Yasin:39-40, menekankan perhitungan pasti posisi hilal tanpa tergantung pengamatan mata telanjang.

Kedua pendekatan ini memiliki dasar kuat dari mazhab Syafi'i, Hanafi, Maliki, dan Hambali yang mayoritas mendukung rukyat, sementara sebagian ulama membolehkan hisab sebagai pelengkap jika rukyat mustahil.

Baca Juga: Jangan Cuma Jawab ‘Sama-Sama’, Ini 20 Balasan Minal Aidin Wal Faizin yang Benar, Sopan dan Dianjurkan Rasulullah!

Kajian Ilmiah dan Pendapat Ahli

Secara astronomi, perbedaan muncul karena variasi kriteria visibilitas hilal, seperti umur hilal minimal 8 jam atau elongasi 3 derajat di Indonesia, yang telah diformulasikan sejak 1990-an berdasarkan data rukyat.

Pendapat ahli seperti dari Planetarium UIN Walisongo menegaskan perhitungan ijtimak akurat memprediksi posisi hilal, mendukung dialog antar-metode untuk toleransi.

Baca Juga: Sudah Diambang Pintu! Ini Jadwal Sidang Isbat dan Prediksi Lebaran Idul Fitri 2026 Menurut Ahli

Menyikapi Perbedaan dengan Bijak

Perbedaan ini bukan konflik, melainkan bukti kemajuan ilmu falak di Indonesia; masyarakat didorong menghormati keputusan resmi pemerintah sambil memahami ijtihad ormas seperti NU dan Muhammadiyah.

Sebagai pendidikan, ajak keluarga berdiskusi tentang dasar Al-Qur'an dan sains di baliknya, memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah keberagaman.*****

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.