Dilema Umat Muslim Indonesia Jelang Idulfitri, Pilih Tarawih atau Ikut Gema Takbir?

AKURAT BANTEN - Lebaran tahun ini memang luar biasa, dan menjadi ujian keimanan dan keyakinan pribadi selaku umat Islam. Hal ini menjadi bahas diskusi hangat disetiap jamaah masjid untuk menyikapi penentuan 1 syawal yang baru-baru ini ditetapkan oleh pemerintah, yaitu Sabtu, 21 Maret 2026.
Berdasarkan temuan Akurat Banten di lapangan, hal ini justru terjadi disalah satu masjid di Lingkungan RW.015 Masjid Jami Baitul Muttaqin Kelurahan Uwung Jaya Kecamatan Cibodas Kota Tangerang Provinsi Banten. Selepas berjamaah Isya, mereka bingung apakah harus lanjut salat tarawih atau tidak.
Dilematis memang, ketika gema takbir terdengar keras dari kampung sebelah di saat mereka sedang melaksanakan tarawih, maka jamaah dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) lainnya, dihadapkan dengan satu pilihan terbaik bagi mereka.
Kemudian ustaz Rahmat Mubarok selaku tokoh ulama, mencoba untuk menenangkan para jamaah dengan memberikan pengertian agar bijaksana dalam menyikapi kejadian ini.
Baca Juga: Hilal Belum Cukup Umur, Sidang Isbat Putuskan Lebaran 2026 Tak Jatuh Besok!
"Karena suasana sudah tidak kondusif jika salat Tarawih dilanjutkan, maka bagi yang mau melakukannya, termasuk perkara besok puasa pun, dipersilahkan sesuai dengan keyakinan masing-masing." tutur ustaz Rahmat.
"Yang jelas DKM Masjid Jami Baitul Muttaqin tetap mengikuti keputusan pemerintah dengan melaksanakan Salat Ied di hari Sabtu, 21 Maret 2026." katanya melanjutkan.
Akhirnya selepas Isya, DKM melanjutkan untuk melayani warga sekitar yang menunaikan zakat fitrahnya.
Seperti diketahui, keputusan Pemerintah dalam sidang isbat yang berlangsung pada hari kamis pukul.19.45 WIB, ditetapkan pada waktu sudah melewati waktu salat Isya dan mulai mengawali salat tarawih di wilayah Indonesia bagian Barat.
Ini merupakan cerita kecil di lingkungan jamaah, yang mungkin juga terjadi di berbagai masjid di seluruh Indonesia. Untuk itu bagaimana umat Islam Indonesia menyikapinya?
Sikap Umat Islam Indonesia
Menghormati perbedaan: karena ini adalah ijtihad ulama, bukan hal yang perlu diperdebatkan secara keras.
Menjaga ukhuwah (persatuan): artinya Jangan sampai perbedaan hari Lebaran merusak silaturahmi.
Mengikuti otoritas yang diyakini: Bisa mengikuti pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia atau organisasi yang kita percayai.
Fokus pada makna ibadah: Intinya adalah meningkatkan ketakwaan, bukan sekadar tanggal.
Baca Juga: Geger di Istanbul! Ketika Jilbab Dilempar ke Wajah Laki-Laki sebagai Protes Atas Penindasan Al-Aqsa
Hilal Belum Dapat Dirukyat
Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia telah melaksanakan Sidang Isbat untuk menetapkan awal bulan Syawal 1447 Hijriah pada tanggal 19 Maret 2026. Sidang ini dihadiri oleh para ulama, perwakilan organisasi masyarakat Islam, ahli astronomi, serta instansi terkait.
Berdasarkan hasil pemantauan hilal (rukyat) yang dilakukan di berbagai titik di seluruh wilayah Indonesia, serta didukung oleh perhitungan astronomi (hisab), posisi hilal pada saat matahari terbenam masih belum memenuhi kriteria visibilitas yang telah ditetapkan.
Pemerintah memutuskan, karena hilal belum dapat dirukyat, sehingga 1 Syawal 1447 Hijriah ditetapkan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 atau digenapkan menjadi 30 hari.
Pemerintah mengimbau kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk menerima keputusan ini dengan penuh keikhlasan, serta menjaga persatuan dan ukhuwah Islamiyah di tengah adanya potensi perbedaan dalam penetapan hari raya Idulfitri. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






