Banten

Jangan Remehkan Tahu Bulat: Di Baliknya Tersimpan Filosofi Kesuksesan

Abdul Marta Nurdin | 26 Maret 2026, 12:21 WIB
Jangan Remehkan Tahu Bulat: Di Baliknya Tersimpan Filosofi Kesuksesan
Andre Ompong pedagang keliing tahu bulat (istimewa)

AKURAT BANTEN - Pembelajaran kehidupan bagi kita sebagai makhluk hidup di alam semesta ini, bisa didapatkan dari mana saja bahkan disetiap waktu yang mengiringi detak jantung kita.

Artinya, setiap orang pasti menemukan pembelajaran hidup, terutama dari orang-orang sukses dan berhasil menjalani hidupnya dengan baik.

Begitupun jika kita dapatkan pembelajaran dari perjuangan seorang pedagang keliling "tahu bulat". Pedagang yang satu ini memiliki nama ngetopnya "Andre Ompong" yang sudah merantau ke Jakarta dari Purworejo sejak usia 5 tahun.

Baca Juga: Iran Permalukan Amerika: Jangan Topengi Kekalahan Anda dengan Gencatan Senjata!

Ia mencoba bergelut di tengah gemerlapnya kehidupan kota Jakarta yang "keras dan kejam" membuat Andri Ompong ini menjadi sosok yang tangguh dan ulet dalam mencari rezeki untuk keluarga, istri, dan anak-anaknya.

Meskipun dalam liku-liku hidupnya pernah "jaya" karena menjadi "guide" bagi orang asing yang berasal dari Korea Selatan, namun kondisi sakit dan masa covid-19 membuat Andre Ompong kembali harus banting tulang mengais rezeki yang halal dan berkah.

Banting setir menjadi pedagang keliling tahu bulat, merupakan pilihan tepat baginya hingga saat ini. Menurut cerita beliau, dari hasil lelahnya, kini anak-anaknya sudah ada yang bekerja di perbankan, Alhamdulillah.

Tinggal disebuah kontrakan yang sangat sederhana di sekitar kampung Cibodas Kecil, Cibodas Kota Tangerang. Andre Ompong mampu mengirim uang bulanan ke Istrinya, menurut dia besarannya sudah cukup, tentunya setelah dipotong kontrakan dan kebutuhan makan sehari-hari.

Baca Juga: Skandal Besar Terbongkar! Hakim Nyatakan Meta dan YouTube Sengaja 'Menjebak' Remaja dalam Candu Digital

Adapun pembelajaran dari pedagang keliling tahu bulat ini, ternyata cukup unik dan sederhana, filosofinya mirip tahu bulatnya: kecil, tapi bikin nagih.

1. Kreatif
Pedagang tahu bulat tidak menjual makanan mewah, Namun dengan inovasi digoreng dadakan, disajikan hangat, produk biasa ternyata bisa jadi punya nilai lebih. Ini mengajarkan bahwa kreativitas tidak harus mahal, tapi harus tepat sasaran.

2. Pemasaran yang Unik
Kalimat khas seperti “tahu bulat digoreng dadakan, lima ratusan…” adalah bentuk branding yang kuat. Tanpa media sosial pun, mereka sudah menerapkan konsep marketing yang efektif: sederhana, konsisten, dan mudah diingat.

3. Kerja Keras
Berjualan keliling dari satu tempat ke tempat lain menunjukkan semangat pantang menyerah. Dalam dunia pendidikan maupun kehidupan, keberhasilan seringkali lebih ditentukan oleh konsistensi daripada kecerdasan semata.

Baca Juga: Update Jadwal Kereta Jogja-Jakarta 2026: Cek Jam Keberangkatan Argo Lawu hingga Progo Hari Ini!

4. Peluang Ekonomi
Pedagang tahu bulat biasanya mangkal di tempat strategis: dekat sekolah, perumahan, atau keramaian. Ini mengajarkan pentingnya memahami lingkungan dan peluang sebelum bertindak.

5. Responsif
Mereka langsung menggoreng saat ada pembeli. Artinya, pelayanan cepat dan sesuai kebutuhan pelanggan adalah kunci kepuasan.

Baca Juga: Tok! Sekolah Daring Batal: Menko PMK Pastikan Siswa Tetap Masuk Kelas Meski Krisis Global, Ini Alasannya

6. Ekonomis dan Mandiri
Usaha kecil seperti ini menjadi bukti bahwa kemandirian ekonomi bisa dimulai dari hal sederhana. Ini penting ditanamkan dalam pendidikan karakter bahwa kerja keras dan usaha mandiri adalah hal yang mulia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.