Masih Ribut Tarawih 8 atau 20 Rakaat? Ulama Tegaskan Dua-Duanya Sah, Ini Penjelasan Lengkapnya

AKURAT BANTEN - Setiap bulan Ramadhan, umat Islam berbondong-bondong melaksanakan salat Tarawih di masjid maupun di rumah.
Namun, hampir setiap tahun pula muncul kembali perdebatan lama soal jumlah rakaat Tarawih apakah 8 rakaat atau 20 rakaat yang paling benar.
Sejumlah ulama menegaskan bahwa polemik tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi.
Kedua jumlah rakaat itu sama-sama sah menurut syariat Islam dan telah dipraktikkan sejak masa awal Islam.
Baca Juga: Qunut Tarawih Ramadan Mulai Malam ke 16, Begini Cara Membaca Doa Qunut dalam Salat Sunnah
Perbedaan jumlah rakaat Tarawih berawal dari praktik ibadah pada masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.
Dalam beberapa riwayat, Nabi melaksanakan salat malam tidak dengan jumlah tertentu secara berjamaah terus-menerus.
Setelah beliau wafat, Khalifah Umar bin Khattab menghidupkan kembali Tarawih berjamaah di masjid dengan jumlah 20 rakaat.
Sejak saat itu, tradisi 20 rakaat menyebar luas di banyak wilayah Islam.
Namun, sebagian ulama juga berpendapat bahwa Tarawih 8 rakaat tetap memiliki dasar kuat dari riwayat ibadah malam Nabi.
Para ulama mengingatkan bahwa tujuan Tarawih adalah meningkatkan kualitas ibadah di malam Ramadhan.
Jumlah rakaat bukan inti utama, melainkan kekhusyukan, konsistensi, dan niat karena Allah SWT.
Ulama menilai tidak ada dalil yang secara tegas melarang Tarawih 8 rakaat atau mewajibkan 20 rakaat.
Baca Juga: Viral! Live TikTok Saat Salat Tarawih Berjamaah, Netizen Tuai Komentar Negatif
Keduanya termasuk amalan sunnah yang memiliki dasar dalam sejarah Islam.
Karena itu, umat Islam tidak perlu saling menyalahkan hanya karena perbedaan praktik.
Sebagian jamaah memilih Tarawih 8 rakaat karena lebih ringan, terutama bagi lansia atau pekerja yang kelelahan setelah berpuasa.
Selain itu, pelaksanaan yang lebih singkat memungkinkan jamaah tetap konsisten hadir setiap malam.
Baca Juga: Besok, Syekh Khalid Abdul Kafi Pimpin Salat Tarawih di Masjid Raya Al Azhom Tangerang
Ada pula yang mengikuti praktik di beberapa negara Timur Tengah yang banyak melaksanakan 8 rakaat dengan bacaan panjang.
Di Indonesia, mayoritas masjid menjalankan 20 rakaat karena mengikuti tradisi ulama terdahulu sejak masa Umar bin Khattab.
Selain itu, jamaah merasa lebih puas memperbanyak ibadah di malam Ramadhan.
Namun, ulama menegaskan bahwa jumlah tersebut bukan ukuran kualitas ibadah.
Baca Juga: 30 Juz Semalam, Salat Tarawih di Pondok Pesantren Al Fatah Temboro Baru Selesai Jam 3 Pagi
Umat Islam di Banten dan seluruh Indonesia diimbau menjaga ukhuwah dan tidak memperdebatkan hal yang bersifat khilafiyah.
Perbedaan dalam ibadah sunnah adalah bagian dari kekayaan tradisi Islam.
Yang terpenting adalah menjaga niat, memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, dan meningkatkan amal kebaikan selama Ramadhan.
Tarawih, baik 8 maupun 20 rakaat, tetap menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Baca Juga: Perang Petasan Usai Tarawih di Lebak Resahkan Warga
Daripada memperdebatkan jumlahnya, lebih baik memperbaiki kualitas ibadah dan mempererat persaudaraan sesama umat Islam.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









