Banten

Tak Banyak yang Tahu, Adik Ulama Besar Buya Hamka Ternyata Seorang Pendeta Terkemuka di AS

Abdurahman | 22 Mei 2026, 23:58 WIB
Tak Banyak yang Tahu, Adik Ulama Besar Buya Hamka Ternyata Seorang Pendeta Terkemuka di AS
Kolase Willy Amrull lahir 7 Juni 1927 di Kampung Kubu, Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat. Terpaut usia 19 tahun dengan Buya Hamka (dok Ist)

AKURAT BANTEN-Nama Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah—atau yang lebih kita kenal sebagai Buya Hamka—telah abadi dalam sejarah Indonesia.

Beliau adalah ulama karismatik, sastrawan legendaris, sekaligus mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sangat dihormati.

Namun, di balik nama besar sang ulama, ada sebuah lembaran kisah keluarga yang selama ini tersimpan rapat dan jarang tersorot publik.

Tak banyak yang tahu, Buya Hamka memiliki seorang adik kandung seayah yang memilih jalan hidup yang berbalik 180 derajat.

Sama-sama mendedikasikan hidup untuk syiar agama, sang adik justru dikenal sebagai pendeta terkemuka di Amerika Serikat.

Namanya adalah Abdul Wadud Karim Amrullah, yang kemudian lebih dikenal dunia sebagai Pendeta Willy Amrull.

Bagaimana kisah perjalanan spiritualnya yang berliku hingga memicu kontroversi besar di tanah kelahirannya?

Baca Juga: Bikin Merinding, Ini Target Nyata John Herdman yang Bikin Fans Timnas Indonesia Layak Optimis! Berikut Alur Penyisihan Grup

Pengembaraan Pemuda Minang ke Dunia Barat

Willy Amrull lahir pada 7 Juni 1927 di Kampung Kubu, Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat.

Terpaut usia 19 tahun dengan Buya Hamka, Willy merupakan anak dari istri lain ayahnya, Syekh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul).

Sejak usia muda, darah pengembara khas Minang mengalir deras di tubuhnya.

Pada tahun 1947, ia memutuskan merantau meninggalkan Indonesia menuju Eropa hingga akhirnya menetap di Amerika Serikat.

Saat menginjakkan kaki di negara adidaya tersebut, Willy masih memeluk agama Islam.

Kehidupan perantauannya di California berjalan dinamis. Ia bahkan sempat aktif mengurus komunitas Muslim dan menjadi bagian dari pergerakan Islamic Center di Los Angeles selama bertahun-tahun.

Di AS pula, ia mengikat janji suci dengan seorang wanita Indo bernama Vera Ellen George, yang kala itu memutuskan menjadi mualaf demi menikah dengannya pada tahun 1970.

Baca Juga: GAWAT! Sumatera Lumpuh Total! Listrik Padam Massal Malam Ini dari Riau, Sumut, hingga Aceh, Sinyal HP Mulai Hilang

Titik Balik Spiritual di Pulau Dewata

Badai kehidupan mulai mengguncang ketika Willy memboyong keluarganya kembali ke Indonesia pada tahun 1977.

Ia sempat bekerja di Bali dan mencoba membuka usaha toko bersama istrinya.

Namun, serangkaian nasib buruk menimpa mereka; toko mereka berulang kali kemalingan, menciptakan tekanan finansial dan psikologis yang hebat.

Guncangan ini membuat sang istri merasa kehilangan kedamaian spiritual dan meminta izin untuk kembali ke agama lamanya, Kristen.

Prahara rumah tangga dan pencarian kedamaian batin inilah yang akhirnya membawa Willy pada keputusan besar yang mengubah arah hidupnya selamanya.

Pada Februari 1983, Willy Amrull resmi dibaptis oleh Pendeta Gerard Pinkston di Gereja Baptis Kebayoran Baru, Jakarta.

Peristiwa krusial ini terjadi hampir dua tahun setelah Buya Hamka wafat pada 24 Juli 1981.

Banyak pengamat sejarah menilai, Willy baru membulatkan tekad dan mengumumkan perpindahan agamanya setelah sang kakak tiada, demi menjaga perasaan ulama besar tersebut.

Dari satu rahim ayah yang sama di tepian Danau Maninjau, garis takdir menuntun dua bersaudara ini ke puncak spiritual yang bertolak belakang. Yang satu berdiri di mimbar sebagai jangkar iman umat Islam Indonesia, sementara yang lain menyeberangi samudra untuk menggembalakan jemaat di pesisir California.

Baca Juga: Dilema Surya Paloh: Rela Dipimpin Jokowi, Sejajar dengan Prabowo, Bagaimana Nasib Anies?!

Menjadi Misionaris dan Pulang ke Tanah Kelahiran

Usai dibaptis, Willy kembali ke Amerika Serikat untuk memperdalam ilmu teologi hingga akhirnya ditasbihkan menjadi pendeta di Gereja Pekabaran Injil Indonesia (GPII) California.

Jemaatnya sebagian besar adalah warga terasing dan diaspora Indonesia yang bermukim di sana.

Puncak dari perjalanan hidupnya terjadi pada tahun 1996.

Sebagai seorang penginjil, Willy mendapatkan misi besar: kembali ke kampung halamannya di Sumatera Barat, wilayah yang dikenal sangat kental dengan adat Minangkabau dan syariat Islam (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah).

Untuk melancarkan misinya, Willy bergerak secara senyap.

Ia tidak menggunakan nama Willy Amrull, melainkan nama samaran Badru Amrullah dan mengaku sebagai pengusaha yang bekerja untuk Kedutaan RI di Amerika.

Dibantu oleh tokoh lokal, ia berhasil membentuk Persekutuan Kristen Sumatera Barat (PKSB) dan melakukan metode pendekatan terhadap sejumlah anak muda setempat.

Baca Juga: Gubernur Jabar Siapkan Rp750 Juta: Cari Aman Yani yang Hilang 10 Tahun Tapi Cairkan Dana Pensiun!

Kontroversi "Kasus Wawah" yang Mengguncang Publik

Langkah senyap Pendeta Willy di ranah Minang akhirnya memicu benturan keras pada tahun 1998.

Sebuah kasus besar merebak dan mengguncang publik Sumatera Barat: dugaan pengkristenan terhadap seorang siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Padang bernama Khairiah Enniswah, atau yang akrab disapa Wawah.

Nama Pendeta Willy Amrull terseret dan dituding sebagai salah satu sosok di balik layar gerakan tersebut.

Kasus ini bahkan sempat diabadikan oleh sejarawan Deliar Noer dalam catatan sejarah pergerakan Islam.

Ketika tensi publik di Kota Padang memanas dan massa mulai bergerak, keberadaan Willy mendadak misterius.

Ia ternyata telah bergegas terbang kembali ke Amerika Serikat demi keamanan dirinya.

Dalam memoar pribadinya yang terbit di kemudian hari, Willy mencurigai bahwa kasus tersebut sengaja diembuskan untuk menjebak dan menghentikan langkahnya.

Sejak peristiwa menggemparkan tahun 1998 itu, Pendeta Willy Amrull tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di bumi Indonesia hingga ia mengembuskan napas terakhirnya di California pada 25 Maret 2012.

Kisah Buya Hamka dan Pendeta Willy Amrull kini menjadi salah satu catatan sejarah unik tentang bagaimana pilihan hidup, konsekuensi keyakinan, dan hubungan persaudaraan berjalan di atas koridor takdir yang penuh misteri.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman