KOPI LESEHAN 017: Seorang GURU di Denda 50 Juta, Gara-gara Suruh Murid SHOLAT

AKURAT BANTEN - Assalamu'alaikum...! Apa kabarnya sobat sabit Kopi Lesehan, Dimanapun berada ? hmmm! Adem bener hari ini, Selasa 10 Oktober 2023 sepertinya akan turun hujan, Soalnya angin agak beda, terasa basah, roman-romannya mo ngajakin gerimis neh, Moga aja sih ujannya ga' ngeprank doang. Huft klo ujan turun neh, dia bakal jadi jagoan yang turun dari langit untuk mengusir bala kering-kerontang yang melanda ampir separo negeri ini.
Ya, Kita Doakan aja!
Hari ini niatnya mo ke tengah sawah, di gubuk atau di balenya Aki Bakonih biar sekalian orat-oret Artikel tentang kasus guru honor yang di polisikan.
Hmmm! Miris dengarnya, sosok guru di polisikan oleh orang tua murid gara-gara anaknya di suruh sholat, trus pake denda pula yang nilainya ga tanggung-tanggung 50 juta brow, Mikir dong, Ini guru HONOR gajinya cuma Rp 800.000. Apa kita sudah lupa kalau guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa? Atau kita lupa kisah tauladan dari Kaisar Jepang? Nah gini ceritanya! Ketika Jepang hancur lebur di bom oleh negara adi kuasa Amerika Serikat, Trus segera Sang kaisar memanggil dan mengumpulkan seluruh menterinya, kemudian bertanya hanya satu hal yaitu, Apakah masih ada guru yang hidup?
Baca Juga: GURU di MUTASI Karena Tolak Bayar Jasa Toilet Rp. 500 Untuk SISWA
Mendengar penjelasan para menterinya tentang kabar bahwa guru masih banyak yang hidup, Betapa girangnya sang Kaisar karena dia yakin bahwa guru adalah sumber dari kekuatan sebuah negara.
Dia sangat percaya bahwa guru-guru tersebut akan mampu menyalakan kembali lilin-lilin yang telah redup untuk kembali memberikan secercah cahaya dalam kegelapan bagi seluruh generasi muda Jepang setelahnya, Dan apa yang terjadi sekarang, Hmmm! Sungguh Luar Biasa.
Trus gimana guru-guru di Indonesia? Bagai langit dan bumi, Indonesia lebih suka tol dan kereta cepat daripada harus membangun SDM bangsanya, Indonesia lebih suka mendatangkan tenaga tehnik asing dari pada tenaga tehnik bangsanya sendiri Akhirnya kita dapati generasi kita lebih suka tawuran di bandingkan harus keperpustakaan, Lebih suka dijalan di bandingkan harus ke sekolah, kita tidak mampu melindungi para guru dengan baik, mereka dibiarkan hidup seperti Umar Bakri, Sering kali di Buli, di kecilkan, tidak dapat perhatian khusus hingga kesejahteraannya sampai pada titik nadir, kadang mereka sampai mengakhiri masa pensiun dan meninggal di hunian kontrakan.
Lalu, mau jadi apa negeri ini?
Pengen kaya Jepang? Hahaha!
Mulai dariAnggaran Pendidikan yang menjadi tuntutan undang-undang saja, di hitung dari Indonesia merdeka sampai saat ini, blom juga mampu di penuhi, Sementara rentetan kekacauan para koruptor yang menjadikan prilaku korupsi seperti sebuah TREN saat ini dan telah merajalela hampir di semua deprtemen maupun BUMN sampai ada indikasi atau dugaan yang sangat memalukan yaitu pemerasan yang dilakukan oleh KPK yang seharusnya sebagai benteng terakhir untuk menjaga kelalaian para pejabat negara untuk tidak semena-mena memanipulasi anggaran, tapi naas, Korupsi yang kecil di urus lebih serius, saking detailnya, uang yang di bawah ketek aja masih ketauan!
Baca Juga: Kisah Guru SDN 1 Pasir Kupa Nyambi Jadi Peternak Jangkrik, Raup Untung Jutaan Rupiah
Alamaaak! Giliran para sindikat sipit yang bergandengan tangan dengan pemegang kekuasaan yaitu para pejabat dan aparatur negara, telah dengan sengaja membawa kabur uang negare ratusan triliun ampe ribuan triliun sukses pindah ke luar negeri, Lalu apa yang terjadi? Semua pade MINGKEM dan tiba-tiba aje bute mate, bute hati, buta pikiran dan buta telinge hahaha... dudul!
Woe! Fokus lage... udah jauh kayaknya neh... Yuuu kembali ke laptop!
Duhhh! Penulis pengennya sih singkat aja curhatnya, Tapi karena kasus ini rame di bicarakan, jadi nulisnya pun ampe kemane-mane juga tuh hehehe!
Oke, biar ga makin panjang kali lebar, baiknya kita OTW dengan kasus sesuai judul di atas, Check it Out!
Melansir Kompas.com, Akbar merupakan guru Pendidikan Agama Islam di sebuah SMK Negeri di Kabupaten Sumbawa Barat.Ia baru dua tahun mengajar atau sebagai pendidik dan masih berstatus sebagai honorer.
Kejadian yang dialami Akbar itu bermula pada Selasa (26/9/2023 ), saat sekolah menerima bantuan mesin buku. Karena mesin buku tidak bisa masuk ke halaman sekolah, maka salah satu gerbang kemudian dibongkar, pada saat itu ia melihat beberapa siswa yang duduk nongkrong di samping gerbang, Selain itu, ada juga beberapa anak yang pulang tanpa izin atau membolos.
"Saya bertanya pada siswa di situ, siapa tadi yang kabur (bolos), tapi mereka tidak mau menjawab, Lalu saya minta anak-anak itu untuk jangan pulang dulu, sampai bel pulang berbunyi," ujar Akbar.
Baca Juga: Hindari Lubang Jalan, Seorang Guru Tewas Terlindas Truk
Tak lama kemudian, adzan zhuhur berkumandang, Akbar lalu mengajak siswa yang tengah nongkrong di gerbang untuk salat berjamaah di mushola, Namun tidak ada siswa yang mau bergerak dan mengikuti ajakannya.
"Mereka hanya diam dan lanjut ngobrol gitu," terangnya.
Meski tiga kali ditolak, dia masih berusaha untuk mengajak siswa tersebut untuk melaksanakan sholat, Lagi-lagi, tidak ada siswa yang beranjak, Anak yang tidak mau ini, salah satunya adalah korban. Korban kemudian menatap saya dengan tajam, seolah-olah ingin menantang" terangnya.
Lalu, ia mengambil beberapa tindakan yaitu menakut-nakuti muridnya dengan sebilah bambu, agar siswa segera melaksanakan sholat.
"Pada saat saya pura-pura ingin memukul, mereka berdiri, bambu tersebut mengenai tas ransel korban," jelasnya.
Baca Juga: Penggelapan Saham PT Blue Bird Taxi, Ini Penjelasan Guru Besar Hukum Pidana
"Saya lalu colek bagian lengan dan pundak A dengan tangan, seperti cubit sedikit. Dua sampai 3 kali saya colek gitu," bebernya.
Setelahnya, para siswa menuju mushola untuk menunaikan salat dzuhur berjamaah.Setelah sholat, Dia terpikir untuk mengecek keadaan siswa yang ia tegur.
"Saya lalu bertanya kepada beberapa siswa yang mengenalnya, di mana siswa yang terkena pukul tadi, temannya bilang kalau dia sudah pulang," terangnya.
Ketika itu, Akbar mengaku sempat menanyakan apakah ada diantara kalian yang terluka, Siswa lainnya menjawab tidak ada. Dalam kesempatan itu, Akbar juga meminta maaf kepada semua siswa yang ditegurnya tadi.
"Tapi saya sempatkan juga, untuk menyampaikan salam permohonan maaf termasuk ke A lewat teman-teman dekatnya" ucapnya.
Setibanya di rumah, Akbar mendapat telepon dari kepala sekolah yang mengabarkan bahwa ayah A datang ke sekolah.
Akbar pun mengaku telah meminta maaf. "Saya sudah minta maaf kepada orang tua siswa, bahkan upaya mediasi yang telah dilakukan oleh pihak sekolah sampai tiga kali," jelasnya.
Dan tidak berhenti sampai di situ saja, Bahkan Akbar juga, telah mendatangi langsung kediaman rumah orang tua A, pihak keluarga, sanak familinya dan atau kerabat terdekat A untuk meminta maaf. Namun hasilnya nihil, tiada kata maaf bagi guru tersebut.
"JANGAN karena NILA SETITIK maka RUSAK susu SEBELANGA"
Jangan ribuan kebaikan seorang guru yang selalu memperhatikan kita selama ini, hanya dengan satu kesalahan langsung menuduhnya bak seorang penjahat atau pembunuh.
OKE semoga bermanfaat!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










