Beban 'Tong Sampah' Jokowi dan Momen 'Jagoan Baru' Dunia: Setahun Prabowo di Mata Pengamat

-Sorotan Tajam Pengamat: Mengurai Bayang-Bayang Warisan Rezim Sebelumnya dan Kebangkitan Citra Global
AKURAT BANTEN-Tepat satu tahun memimpin, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan utama para analis.
Dua nama vokal, Sri Radjasa Chandra dan Rocky Gerung, mengurai kompleksitas kepemimpinan Prabowo, yang disebut masih dibayangi warisan rezim sebelumnya, sekaligus membawa angin segar ke panggung internasional.
Beban Warisan dan Dilema Psikologis Kepemimpinan
Pengamat Intelijen, Sri Radjasa Chandra, secara blak-blakan menyebut bahwa perjalanan setahun kepemimpinan Prabowo Subianto masih terikat kuat oleh era pendahulunya.
“Kita lihat satu tahun perjalanan Prabowo ini, yang paling mencolok, Prabowo masih dibebani oleh legacy Jokowi,” ujar Sri Radjasa, dikutip dari Ten Ten Podcast.
Senada dengan hal tersebut, pengamat politik Rocky Gerung menyoroti adanya beban psikologis yang mendera Presiden Prabowo. Beban ini muncul dari dilema antara melihat kembali ke masa lalu (warisan Jokowi) atau terus berlari ke depan demi memenuhi janji-janji kerakyatan.
Janji Kerakyatan yang Menjadi Palu Godam
Menurut Rocky Gerung, janji-janji kampanye Prabowo yang berorientasi kerakyatanlah yang kini menjadi beban terberat.
“Apalagi seorang pemimpin seperti Pak Prabowo yang sudah menjanjikan bahwa dia akan pro rakyat, kebijakan dia itu akan menghasilkan kesejahteraan, demokrasi akan dijadikan alat utama untuk menghasilkan peradilan,” ucap Rocky.
Ia bahkan menyinggung konsep Sumitronnomics—prinsip ekonomi kerakyatan—yang dicanangkan Prabowo, sebagai standar tinggi yang harus dipenuhi.
Prabowo dan 'Tong Sampah' Rezim Sebelumnya
Secara metaforis, Rocky Gerung menggambarkan situasi ini sebagai kondisi di mana Prabowo seolah-olah membawa "tong sampah" dari rezim sebelumnya.
Beban kepemimpinan ini akan terus membesar jika tidak ada pemilahan atau penguraian yang tepat sebagai jalan keluar.
“Sebetulnya kita diam-diam merasa bahwa Prabowo itu dibebankan semacam tong sampah di belakang dia yang isinya adalah rezim sebelumnya,” kata Rocky.
Lantas, mengapa 'tong sampah' itu belum diurai? Rocky melihat adanya 'kesopansantunan politik' yang ditunjukkan Prabowo kepada Presiden sebelumnya.
“Pasti Pak Prabowo punya kesopansantunan politik pada seseorang yang dianggap pernah jadi pemimpin Indonesia dan itu watak keprajuritan yang bagus,” pujinya.
Namun, ia segera menambahkan, “Tetapi, publik menganggap bahwa kalau terlalu sopan, nanti keenakan yang disopani kan, masalahnya itu.”
Rocky percaya bahwa Prabowo, yang terlatih dalam strategi militer, kemungkinan besar hanya sedang menunggu momen yang tepat untuk melakukan pergerakan besar.
Indonesia Kembali Dilihat Dunia, Prabowo Sang 'Global Player'
Di tengah bayang-bayang domestik, Rocky Gerung memberikan apresiasi tinggi terhadap peran Prabowo di kancah internasional.
Kehadiran dan performa Prabowo di forum-forum kenegaraan internasional, termasuk di forum PBB, dinilai berhasil menyelamatkan citra buruk Indonesia.
“Harus kita ucapkan secara jujur bahwa Presiden Prabowo berhasil menyelamatkan imej buruk Indonesia di dalam politik internasional dengan kehadiran beliau di berbagai forum dan yang terakhir di forum PBB,” tegasnya.
Rocky menutup analisisnya dengan pandangan optimis terhadap kebangkitan peran global Indonesia. Ia menyandingkan peran Prabowo dengan tokoh-tokoh besar masa lalu.
“Ini jadi pengingat bahwa setelah Bung Karno, setelah Pak Harto, akhirnya Prabowo memunculkan kembali ingatan publik bahwa Indonesia pernah menjadi global player yang dihitung secara ideologis, secara ekonomi, bahkan secara pertahanan,” pungkasnya (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










