Awas! Wabah Difteri Meningkat 2026, Penyakit Paling Menular dan Picu Kematian Sejumlah Wilayah di Indonesia

AKURAT BANTEN - Awas kasus wabah Difteri kembali mengancam Indonesia sejak awal 2026, penyakit yang disebut paling menular ini, mendapat perhatian serius, bahkan disebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) karena timbulkan sejumlah kematian.
Hal ini ditandai dengan kejadian di beberapa daerah yang memicu KLB, seperti Sorong (Papua Barat Daya), Kabupaten Bima melaporkan 40 suspek dan 3 kematian. Tercatat kasus positif pada Maret hingga April 2026, Penularan disinyalir akibat cakupan imunisasi yang rendah.
Daerah Terpapar Kasus Difteri 2026
Sorong, Papua Barat Daya: 1 kasus terkonfirmasi positif (Maret-April 2026), memicu respon imunisasi massal (ORI).
Kabupaten Bima, NTB: Terjadi KLB dengan 40 orang suspek dan 3 dilaporkan meninggal dunia.
Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat: Respon cepat (investigasi epidemiologi & pelacakan kontak) dilakukan awal Maret 2026.
DKI Jakarta, Jawa Barat terdapat 600 yang terpapar Difteri, 38 meninggal. Jadi memang kejadian luar biasa. Upaya yang dilakukan Dinkes DKI Jakarta mengadakan imunisasi masal.
Seorang pelajar kelas empat sekolah dasar (SD) di Lamongan, Jawa Timur, terpaksa dilarikan ke RSUD dr Soetomo Surabaya karena positif terjangkit Penyakit Difteri.
Seperti diketahui, penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini melepaskan racun (toksin) yang merusak selaput lendir hidung/tenggorokan, membentuk lapisan kelabu tebal.
Wabah ini juga berisiko menyerang jantung, ginjal, dan saraf. Penularannya sangat cepat melalui droplet (bersin/batuk), kontak langsung dengan benda terkontaminasi, atau luka di kulit.
Bagaimana Cara Pencegahan dan Tindakannya?
Memastikan imunisasi dasar pada usia kurang dari 1 tahun, lanjutan 1 sampai 2 tahun serta lanjutan untuk usia sekolah dasar kelas satu sampai lima.
Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini, segera periksa ke puskesmas atau dokter jika timbul gejala demam, sakit tenggorokan, dan muncul membran keabu-abuan di tenggorokan.
Sebagai informasi, KLB atau peningkatan luar biasa pada kasus difteri, sering kali muncul kembali di wilayah dengan cakupan imunisasi yang melemah. Selain itu, pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).*******
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 9Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan
- 105 Alasan Manchester United Tak Akan Melepas Bruno Fernandes pada Musim Panas 2026







