Banten

Polemik LCC 4 Pilar MPR Kalbar Memanas, 5 Juri dan MC Langsung Dinonaktifkan

Aullia Rachma Puteri | 13 Mei 2026, 10:52 WIB
Polemik LCC 4 Pilar MPR Kalbar Memanas, 5 Juri dan MC Langsung Dinonaktifkan
5 JURI DAN MC LCC 4 PILAR MPR DINONAKTIFKAN

AKURAT BANTEN - Kontroversi pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR tingkat Kalimantan Barat menjadi sorotan publik setelah lima orang yang bertugas dalam kegiatan tersebut dinonaktifkan sementara.

Mereka terdiri dari empat juri dan satu pembawa acara atau MC yang terlibat dalam jalannya perlombaan.

Keputusan penonaktifan itu diambil setelah muncul berbagai protes terkait hasil kompetisi yang digelar di Pontianak.

Sejumlah peserta dan pendamping sekolah mempertanyakan proses penilaian yang dilakukan dewan juri dalam babak final perlombaan.

Baca Juga: MPR RI Langsung Nonaktifkan Dewan Juri dan MC LCC Empat Pilar Usai Polemik Penilaian Final

Situasi tersebut kemudian memicu polemik di kalangan peserta maupun masyarakat.

Perdebatan terkait objektivitas penilaian ramai dibahas di media sosial hingga akhirnya menarik perhatian publik secara luas.

Pihak penyelenggara akhirnya mengambil langkah evaluasi dengan menonaktifkan sementara juri dan MC yang bertugas.

Langkah itu disebut dilakukan untuk mempermudah proses pemeriksaan internal terhadap dugaan pelanggaran prosedur selama perlombaan berlangsung.

Baca Juga: Alih Fungsi Kali Ciputat Disorot, Pemprov Banten: Tidak Boleh Dibiarkan!

LCC 4 Pilar MPR sendiri merupakan agenda tahunan yang bertujuan meningkatkan pemahaman pelajar terhadap nilai-nilai kebangsaan.

Kompetisi ini mengangkat materi tentang Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Ajang tersebut biasanya diikuti siswa SMA sederajat dari berbagai daerah dan menjadi salah satu program edukasi kebangsaan yang cukup populer di kalangan pelajar.

Namun pelaksanaan tahun ini di Kalimantan Barat justru diwarnai polemik.

Baca Juga: Pembayaran PKB di Pemprov Banten Tidak Langsung ke Rekening Kas Daerah

Beberapa pihak menilai terdapat kejanggalan dalam proses penentuan pemenang sehingga memicu keberatan dari peserta lomba.

Kontroversi tersebut membuat suasana kompetisi yang seharusnya edukatif berubah menjadi perdebatan panjang.

Banyak masyarakat meminta agar penyelenggara memberikan penjelasan terbuka mengenai proses penilaian yang dilakukan.

Penyelenggara menyatakan keputusan menonaktifkan sementara para juri dan MC dilakukan demi menjaga netralitas pemeriksaan.

Baca Juga: Pembayaran PKB di Pemprov Banten Tidak Langsung ke Rekening Kas Daerah

Mereka memastikan evaluasi internal masih berlangsung untuk menelusuri apakah ada pelanggaran aturan maupun prosedur dalam pelaksanaan lomba.

Selain itu, pihak panitia juga menegaskan bahwa proses evaluasi dilakukan secara profesional agar hasil akhirnya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Kasus ini kemudian memunculkan perhatian dari berbagai kalangan, termasuk pengamat pendidikan.

Mereka menilai transparansi dan objektivitas sangat penting dalam setiap kompetisi pelajar agar kepercayaan peserta tetap terjaga.

Baca Juga: Jembatan Ambles Diabaikan Pemprov Banten, Kemacetan 10 Km Lumpuhkan Jalur Mauk–Teluk Naga Tangerang

Menurut mereka, lomba bertema kebangsaan seharusnya menjadi contoh dalam menjunjung nilai sportivitas dan keadilan.

Karena itu, setiap polemik yang muncul harus ditangani secara serius dan terbuka.

Di sisi lain, sejumlah peserta berharap persoalan tersebut segera diselesaikan agar tidak merusak semangat pelajar dalam mengikuti kegiatan akademik dan pendidikan karakter.

LCC 4 Pilar MPR selama ini dianggap sebagai ajang positif untuk memperkuat pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai kebangsaan.

Baca Juga: WFH ASN Usai Lebaran Diterapkan Sepekan Sekali, Pemprov DKI Pastikan Bukan Hari Rabu

Karena itu, publik berharap polemik yang terjadi tidak mengurangi tujuan utama dari kegiatan tersebut.

Hingga kini, proses pemeriksaan internal terkait kontroversi LCC 4 Pilar MPR di Kalimantan Barat masih berlangsung.

Belum ada keputusan final mengenai status lima orang yang dinonaktifkan sementara tersebut.

Masyarakat pun menantikan hasil evaluasi resmi dari penyelenggara agar polemik yang berkembang dapat diselesaikan secara transparan dan tidak menimbulkan ketidakpercayaan terhadap kegiatan pendidikan kebangsaan di masa mendatang.

Baca Juga: Mudik Gratis ke Kepulauan Seribu Dibuka Pemprov DKI Jakarta, Warga Bisa Pulang Kampung Tanpa Biaya

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.