Banten

Media Asing Alarmkan Ekonomi RI Era Prabowo, Singgung Risiko Kembali ke Krisis 1998

Aullia Rachma Puteri | 17 Mei 2026, 18:59 WIB
Media Asing Alarmkan Ekonomi RI Era Prabowo, Singgung Risiko Kembali ke Krisis 1998
media asing soroti prabowo yang sebut dolar tidak penting

AKURAT BANTEN – Media asing ternama asal Inggris, The Economist, menjadi sorotan setelah menerbitkan ulasan mengenai kondisi ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam laporan tersebut, The Economist menyinggung adanya potensi tekanan ekonomi yang dinilai dapat menyeret Indonesia ke situasi sulit apabila tidak diantisipasi dengan baik.

Bahkan, media itu mengaitkannya dengan bayang-bayang krisis ekonomi 1998 yang pernah mengguncang Tanah Air.

Sorotan tersebut langsung ramai diperbincangkan publik dan memicu berbagai reaksi di media sosial.

Baca Juga: Diresmikan Presiden Prabowo, Benarkah Pembangunan Museum Marsinah Pakai Dana APBN? Bos Buruh Buka Suara

Banyak pihak menilai laporan itu sebagai bentuk peringatan terhadap tantangan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia saat ini.

The Economist menilai sejumlah faktor perlu menjadi perhatian serius pemerintah, termasuk kondisi nilai tukar rupiah, kepercayaan investor, hingga arah kebijakan ekonomi nasional di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.

Selain itu, tekanan ekonomi dunia akibat konflik geopolitik, perlambatan pertumbuhan global, dan gejolak pasar internasional disebut ikut memperbesar risiko terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam ulasannya, media tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas fiskal agar pasar tetap percaya terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan.

Baca Juga: 1.061 Koperasi Desa Resmi Beroperasi, Prabowo: Ini Tonggak Penting Indonesia

Kondisi rupiah yang mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat dinilai menjadi salah satu indikator yang harus diawasi.

Pelemahan mata uang dapat berdampak pada harga barang impor, utang luar negeri, hingga daya beli masyarakat.

Krisis 1998 sendiri menjadi salah satu peristiwa paling berat dalam sejarah ekonomi Indonesia.

Saat itu, nilai tukar rupiah jatuh drastis dan memicu krisis sosial-politik besar yang berakhir dengan tumbangnya pemerintahan Orde Baru.

Baca Juga: Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Simbol Penghormatan bagi Pejuang Buruh Indonesia

Meski begitu, sejumlah ekonom menilai situasi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih stabil dibandingkan periode krisis dua dekade lalu.

Fundamental ekonomi nasional dianggap lebih kuat dengan sistem keuangan yang lebih siap menghadapi tekanan eksternal.

Cadangan devisa Indonesia yang relatif besar serta pengawasan sektor perbankan yang lebih ketat disebut menjadi faktor pembeda utama dibandingkan kondisi pada 1998.

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah terkait laporan The Economist tersebut.

Baca Juga: Resmikan Museum Marsinah, Prabowo Tegaskan Pentingnya Keadilan Kaum Buruh

Namun sejumlah pengamat menilai kritik dan perhatian media asing terhadap Indonesia merupakan hal yang wajar mengingat posisi strategis Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

Pengamat juga menilai pemerintahan Prabowo akan terus menjadi perhatian dunia internasional, terutama terkait kemampuan menjaga stabilitas ekonomi nasional dan menarik investasi asing.

Di tengah berbagai dinamika global, pemerintah diharapkan mampu menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar agar Indonesia tidak mengalami tekanan berkepanjangan.

Sorotan dari media internasional seperti The Economist pun diperkirakan akan terus memengaruhi persepsi global terhadap arah ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.

Baca Juga: Geger! Rustam Effendi Bongkar 'Skenario' Ijazah Jokowi, Nama Pratikno Terseret: Presiden Prabowo Diminta Segera Copot Menko PMK!

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.