Media Asing Tak Percaya Kepemimpinan Prabowo? Disebut Makin Otoriter dan Hamburkan Anggaran

AKURAT BANTEN – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan media internasional.
Kali ini, majalah ekonomi asal Inggris The Economist melontarkan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai berisiko bagi demokrasi dan kondisi fiskal Indonesia.
Dalam ulasannya, The Economist menyebut pemerintahan Prabowo menunjukkan kecenderungan kepemimpinan yang semakin kuat dan terpusat.
Media asing tersebut juga menilai berbagai program pemerintah membutuhkan anggaran jumbo yang berpotensi membebani keuangan negara.
Baca Juga: Media Asing Alarmkan Ekonomi RI Era Prabowo, Singgung Risiko Kembali ke Krisis 1998
Sorotan itu memicu perdebatan publik setelah ramai dibahas di media sosial dan sejumlah platform berita nasional.
Banyak pihak menilai kritik tersebut menjadi perhatian serius mengingat Indonesia sedang menghadapi tekanan ekonomi global.
The Economist menilai gaya kepemimpinan Prabowo yang berlatar belakang militer menimbulkan kekhawatiran sebagian pengamat internasional terkait arah demokrasi Indonesia ke depan.
Selain itu, perluasan peran militer dalam sejumlah program pemerintahan sipil juga disebut menjadi salah satu alasan munculnya anggapan bahwa Indonesia bergerak menuju pola pemerintahan yang lebih sentralistis.
Media tersebut turut menyoroti sejumlah program prioritas pemerintah yang memerlukan pembiayaan sangat besar.
Salah satunya program makan bergizi gratis yang selama ini menjadi andalan pemerintahan Prabowo.
Meski dianggap memiliki tujuan sosial yang baik, program tersebut dinilai membutuhkan pengelolaan anggaran yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan tekanan terhadap APBN.
Selain program sosial, kebijakan penguatan industri nasional dan pembentukan lembaga investasi baru juga menjadi perhatian media asing.
Langkah tersebut dipandang berpotensi memengaruhi stabilitas fiskal apabila tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia sebelumnya menegaskan seluruh kebijakan yang dijalankan bertujuan mempercepat pembangunan nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah juga memastikan pengelolaan anggaran negara tetap berada dalam jalur yang aman serta sesuai aturan fiskal yang berlaku.
Sejumlah pengamat politik dalam negeri menilai kritik media internasional terhadap Indonesia bukan hal baru.
Mereka menyebut posisi Indonesia sebagai negara besar di Asia Tenggara membuat arah kebijakan pemerintah selalu mendapat perhatian dunia.
Namun demikian, sebagian pihak mengingatkan agar kritik tersebut tidak langsung dianggap sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di Indonesia.
Pengamat menilai penggunaan istilah “otoriter” oleh media asing perlu dipahami dalam konteks sudut pandang internasional yang sering kali berbeda dengan dinamika politik domestik Indonesia.
Hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari pihak Istana terkait kritik yang disampaikan The Economist tersebut.
Meski begitu, sorotan terhadap pemerintahan Prabowo diperkirakan akan terus berlanjut, terutama terkait kebijakan ekonomi, stabilitas politik, dan arah demokrasi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 6Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 7Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan
- 105 Alasan Manchester United Tak Akan Melepas Bruno Fernandes pada Musim Panas 2026









