Rebutan Sekolah antar SPPG Warnai Pelaksanaan Program Makan Bergizi di Kabupaten Tangerang

AKURAT BANTEN – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tangerang menghadapi persoalan serius akibat lemahnya koordinasi antar Sentra Penyedia Pangan Gizi (SPPG). Sejumlah sekolah menjadi “rebutan” antar mitra dapur tersebut.
"Kita mendapatkan informasi ada rebut-rebutan antar SPPG, antara dapur ini buat mereka mengikat sekolah tadi," ujar Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, Agus Supriatna, dikutip Rabu (27/08/2025).
Bahkan, kata Agus, pihaknya juga menerima laporan adanya pihak sekolah yang sudah bekerjasama dengan SPPG yang belum beroperasi.
Sebagai informasi, per Agustus 2025 ini sebanyak 16 unit SPPG telah berdiri di Kabupaten Tangerang.
“Kami menerima laporan ada sekolah yang sudah diajak kerja sama oleh SPPG yang belum beroperasi, sementara ada SPPG lain yang sudah jalan tapi tidak bisa masuk. Ini jelas bikin sekolah bingung,” ungkapnya.
Menurutnya, situasi ini seharusnya bisa dicegah bila koordinasi antar-Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) berjalan maksimal.
Baca Juga: Kementrian Haji dan Umrah Resmi Disahkan, Dedi Mulyadi Justru Singgung Tempat Ini, Apa Hubungannya?
Kata Agus, SPPI yang ditunjuk BGN sebagai koordinator setiap SPPG, semestinya mengatur wilayah dan komunikasi antar penyedia agar tidak terjadi tumpang tindih.
“Seharusnya SPPI berkoordinasi satu sama lain. Mereka kan ditugaskan oleh BGN untuk memastikan pembagian wilayahnya jelas. Kalau itu dijalankan, sekolah tidak akan merasa jadi rebutan,” ujarnya.
Meski demikian, Agus menegaskan, peran Disdik hanya sebatas menyajikan data sekolah dan jumlah siswa. Pihaknya tidak memiliki kewenangan mengatur penempatan SPPG maupun mengawasi jalannya program.
Baca Juga: Ratusan Buruh dari Tangerang Mulai Bersiap Kepung Kantor Gubernur Banten, Tuntut Kenaikan Upah 2026
"Nah kan sekarang mereka kan liar nih, ada surat penunjukkan BGN sebagai SPPG, mereka lokasi titiknya di mana juga tidak koordinasi dengan kita dan mereka langsung melakukan pendirian," jelasnya.
"Kami dari sekolah sebenarnya sangat terbuka. Silakan saja mau menawarkan makanan gratis, tapi jangan sampai satu sekolah punya dua mitra. Itu yang bikin masalah,” tambahnya.
Kepada BGN, Agus berharap, persoalan ini segera ditangani dan tidak berlarut-larut. Sebab persoalan ini akan semakin sengkarut lantaran jumlah SPPG di Kabupaten Tangerang akan terus bertambah kedepannya.
Kedepannya, Ia meminta Disdik bisa dilibatkan lebih jauh mengenai penempatan titik pendirian dapur untuk menghindari kompetisi antar SPPG yang dapat menghambat program pemerintah pusat ini.
"Mereka harus terkoneksi dengan kita Dinas Pendidikan, sehingga mereka enggak kebingungan lagi dengan titik sekolah sekolahnya," kata Agus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 6Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 7Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 10Bikin Guru Terharu, Celine dari Pontianak Dipercaya Bawa Baki Merah Putih di Istana







