Ditengah Isu Pencemaran Pestisida, Warga Bantaran Cisadane Tetap Cuci Baju di Sungai

AKURAT BANTEN - Kabar mengenai dugaan tercemarnya air Sungai Cisadane oleh pestisida masih menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Kota Tangerang.
Meski isu itu berembus cukup kencang dalam beberapa hari terakhir, aktivitas warga di bantaran sungai tampak berjalan seperti biasa. Sejumlah warga tetap datang untuk mencuci pakaian, seolah kabar tersebut belum cukup kuat mengubah kebiasaan mereka.
Baca Juga: Masjid Istiqlal Bersolek Sambut Ramadan 1447 H, Ribuan Porsi Buka Puasa Disiapkan Setiap Hari
Sejak pagi, beberapa orang terlihat memanggul ember berisi pakaian kotor dan membawa sabun dari rumah. Di tepian sungai yang airnya terus mengalir, mereka duduk berderet, mengucek pakaian, lalu membilasnya langsung menggunakan air sungai.
Pemandangan ini bukan hal baru, sebab tradisi mencuci di sungai sudah berlangsung turun-temurun di kawasan tersebut.
Salah seorang warga berusia 68 tahun yang tinggal di kawasan Beringin, Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, mengaku tetap memanfaatkan air Cisadane untuk mencuci. Ia mengatakan kebiasaan itu sudah dilakukannya sejak puluhan tahun lalu, jauh sebelum isu pencemaran ramai dibicarakan.
“Sudah kebiasaan saja. Dari dulu juga saya pakai air sini buat nyuci,” ujarnya saat ditemui pada Senin (16/2).
Menurutnya, ia memang telah mendengar kabar soal dugaan kandungan pestisida di aliran sungai.
Namun ia menilai penggunaan air hanya sebatas untuk mencuci pakaian, bukan untuk diminum atau memasak, sehingga dianggapnya masih aman untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kalau buat minum tentu saya tidak berani. Tapi ini cuma buat cuci baju, airnya juga terus mengalir,” katanya lagi.
Di sisi lain, sejumlah warga lain mengaku sedikit khawatir, meski belum sepenuhnya menghentikan aktivitas mereka di bantaran sungai.
Ada yang memilih lebih berhati-hati dengan membilas ulang pakaian menggunakan air sumur di rumah, sementara sebagian lainnya menunggu informasi resmi dari pemerintah setempat sebelum mengambil keputusan.
Dinas terkait di Kota Tangerang sebelumnya menyatakan tengah melakukan pengecekan kualitas air untuk memastikan ada tidaknya kandungan zat berbahaya. Pengambilan sampel disebut sudah dilakukan di beberapa titik aliran sungai, dan hasil uji laboratorium masih dalam proses.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk sementara waktu membatasi penggunaan air sungai untuk kebutuhan yang bersentuhan langsung dengan tubuh.
Baca Juga: Ribuan KPM Dapat Modal Ayam Petelur dari Kementerian Sosial Republik Indonesia
Pengamat lingkungan menilai kondisi ini mencerminkan ketergantungan warga terhadap sumber air alami yang mudah dijangkau dan tidak berbiaya.
Faktor ekonomi serta ketersediaan fasilitas air bersih menjadi alasan utama mengapa masyarakat tetap bertahan menggunakan sungai, meski isu pencemaran mencuat.
Di tengah ketidakpastian itu, aktivitas mencuci di Sungai Cisadane terus berlangsung. Bagi sebagian warga, sungai bukan sekadar aliran air, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang sulit dipisahkan. Namun harapan tetap ada agar hasil pemeriksaan segera diumumkan, sehingga masyarakat mendapat kepastian dan rasa aman dalam menjalani rutinitasnya.
Baca Juga: Ancaman Dicoret dari Bansos 2026, Jutaan Keluarga Disiapkan Modal Usaha agar Bangkit Mandiri
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










