Banten

GP Ansor Kota Tangerang Desak Polisi Usut Tuntas Penganiayaan Terhadap Anggota Banser

Irsyad Mohammad | 5 Oktober 2025, 13:29 WIB
GP Ansor Kota Tangerang Desak Polisi Usut Tuntas Penganiayaan Terhadap Anggota Banser

AKURAT BANTEN - Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Tangerang, Mifyani, mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus dugaan penganiayaan terhadap kader Banser bernama Ridha, yang mengalami luka serius usai dianiaya oleh sekelompok orang dalam sebuah kegiatan di Kota Tangerang pada Minggu 21 September 2025 lalu.

Menurut Mifyani, banyak informasi menyesatkan beredar di publik yang menyebut korban merupakan anggota organisasi Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS) . Ia menegaskan bahwa kabar tersebut tidak benar.

"Saya pastikan seribu persen, Ridha adalah kader Banser, bukan anggota PWI atau organisasi lain. Ia adalah Kasat Orion atau Kepala Satuan Banser di PAC Kecamatan Tangerang," tegas Mifyani, Sabtu (4/10/2025).

Baca Juga: Sorotan Publik: Istri Direksi Jasa Raharja Diduga Gunakan Fasilitas Dinas, KAMAKSI Desak KPK Turun Tangan!

Peristiwa bermula ketika Ridha, yang hadir dalam acara Maulid di wilayah Cipondoh Kota Tangerang dan mencoba mendekat untuk bersalaman dengan

Namun, beberapa orang mencurigainya dan langsung mengamankan tanpa alasan jelas.

"Padahal ia hanya ingin bersalaman, tidak membawa apa pun. Setelah diamankan, ia dibawa ke sebuah ruangan," jelas Mifyani.

Baca Juga: Bukan Isu! PERPRES 79 Tahun 2025 Sah!: Prabowo Balas Jasa ASN, Gaji Naik Gila-Gilaan Hingga 12 Persen, Rapel Cair November!

Lebih lanjut kata Mifyani, di dalam ruangan itu, Ridho justru mengalami kekerasan fisik dari sekelompok orang yang ditugaskan untuk melakukan pengamanan.

"Di ruang pertama ia dipukul sebentar, lalu dipindahkan ke ruangan kedua dan dianiaya secara membabi buta hingga mengalami luka berat di pelipis dan harus dijahit beberapa kali," ujarnya.

Mifyani mengungkapkan bahwa selain dianiaya, korban juga sempat mendapat ancaman pembunuhan dari kelompok tersebut.

Baca Juga: Bedeng Proyek di Gading Serpong Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Rp400 Juta

"Ridho bahkan dikalungi senjata tajam. Bekas goresan di lehernya masih terlihat hingga kini. Ini jelas bukan pengamanan, tapi penganiayaan serius," tegasnya.

Pihak GP Ansor bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) kata Mifyani, akan terus mengawal kasus ini agar tidak berhenti di tengah jalan.

"Kami datang ke Polres Metro Tangerang Kota untuk memastikan proses hukum berjalan sesuai prosedur. Semua pelaku yang terlibat harus diseret ke meja hijau," kata Mifyani.

Menurutnya, tindakan kekerasan terhadap kader Banser tersebut sudah melukai rasa kemanusiaan.

"Ini bukan lagi soal ormas atau organisasi, tapi soal kemanusiaan. Siapa pun pelakunya harus dihukum seberat-beratnya. Perbuatan itu sangat biadab," ujar Mifyani dengan tegas.

Baca Juga: Dahsyatnya Sedekah Subuh: Ini 5 Amalan Ringan Setelah Subuh yang Pahalanya Setara Haji dan Umrah!

Mifyani juga membantah keras isu yang menyebut korban hendak menyerang seorang pendakwah. Ia menyebut tuduhan itu fitnah yang tidak berdasar.

"Setelah kami telusuri dari video dan keterangan langsung Ridha, jangankan menjambak atau memukul, jarak satu meter pun ia sudah diamankan. Tidak ada upaya menyerang sama sekali," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sebagai kader Nahdlatul Ulama (NU), Ridha justru dikenal sangat menghormati para ulama.

Baca Juga: Daftar Titik Parkir HUT TNI di Monas Warga Banten Wajib Tahu Biar Tidak Terjebak Macet

"Ridha ini dikenal sangat mahabbah terhadap para pendakwah. Kader NU diajarkan untuk takzim kepada ulama, bukan sebaliknya," kata Mifyani.

Menurut Mifyani, kasus ini telah memicu gelombang solidaritas dari kader Ansor di berbagai wilayah.

Kata dia, kader ansor meminta kejelasan dan keadilan terkait kasus tersebut lantaran sudah melakukan tindakan kekerasan yang merugikan warga.

Baca Juga: Pernah Sebut Jokowi Bodoh Bibit Waluyo Kini Diganjar Jenderal Kehormatan Oleh Presiden Prabowo

"Sahabat-sahabat Ansor di seluruh Indonesia sudah bersuara. Mereka meminta kejelasan dan keadilan atas kasus ini. Kami tidak akan diam," ujarnya.

Mifyani menegaskan bahwa GP Ansor menuntut penegakan hukum yang adil dan transparan.

"Negara ini negara hukum. Tidak boleh ada yang main hakim sendiri dengan alasan apa pun. Semua pelaku kekerasan harus dihukum setimpal," tutupnya. Sabtu (4/10/25) di Polres Metro Tangerang Kota.

Sementara itu, Kordinator LBH PC GP Ansor Kota Tangerang, Suhendar, menjelaskan sementara ini pihak kepolisian telah menetapkan tiga orang yang ditetapkan menjadi tersangka akibat dari peristiwa itu.

Ia mengatakan, seharunya masih ada tersangka lain yang jadi tersangka dalam kejadian itu, sebab kata Suhendar, berdasarkan penuturan korban (Ridha) lebih dari 10 orang yang memukulinya.

"Udah ada tiga tersangka, berdasarkan informasi dari korban harusnya ada tersangka lagi, karena kejadian itu melibatkan lebih dari sepuluh orang," katanya.

Baca Juga: Disdukcapil: 178 Warga Tangerang Resmi Jadi Penghayat Kepercayaan

Oleh karena itu, GP Ansor Kota Tangerang mendatangi Polres Metro Tangerang Kota untuk memberikan dukungan penuh agar pihak kepolisian segera mengungkapkan kasus tersebut.

"Kami hanya memberikan dukungan kuat bahwa kepolisian negara tidak boleh takut dan kalah dengan arogansi pihak-pihak yang melakukan kekerasan dan penganiayaan. Kami percayakan polres bisa mengungkap secara tepat," tandasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.