Jakarta Genjot Event Besar Demi Jaga Laju Ekonomi, Perputaran Uang Capai Belasan Triliun

Akurat Banten - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mencari cara agar roda ekonomi ibu kota tetap bergerak kuat meski situasi ekonomi global tengah bergejolak.
Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperbanyak penyelenggaraan kegiatan berskala besar yang mampu mendorong aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan ekonomi yang dijalankan Gubernur Jakarta Pramono Anung yang menargetkan pertumbuhan ekonomi daerah tetap stabil dan tinggi.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pemerintahan, Desa Apridini, mengatakan pemerintah daerah menyadari bahwa kondisi ekonomi dunia saat ini penuh tantangan sehingga membutuhkan pendekatan baru dalam pembiayaan pembangunan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara bedah buku berjudul “Satu Tahun Kepemimpinan Gubernur Jakarta Pramono Anung Wibowo Kerja Cepat Tepat dan Maslahat” yang digelar di Jakarta Pusat.
Menurut Desa, pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan sumber pembiayaan konvensional, tetapi juga mulai mengembangkan konsep pembiayaan kreatif untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
“Tentu Pak Pram menginginkan perkembangan ekonomi ini terus tinggi. Karena itu melihat situasi global saat ini, kemudian melihat tantangan ekonomi, tentu creative financing itu dibutuhkan,” kata Desa.
Ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan berbagai festival dan event besar terbukti mampu menciptakan aktivitas ekonomi dalam waktu singkat sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha.
Baca Juga: Ibu Empat Anak di Jakarta Barat Tertangkap Usai Curi Uang Minimarket Demi Kebutuhan Keluarga
Kegiatan tersebut tidak hanya berdampak pada sektor hiburan, tetapi juga mendorong sektor perdagangan, pariwisata, hingga jasa.
Salah satu contoh nyata adalah program Jakarta Festive Wonder yang diselenggarakan menjelang akhir tahun.
Program ini menghadirkan rangkaian kegiatan hiburan, promosi wisata, serta aktivitas ekonomi yang melibatkan berbagai pelaku usaha.
Hasilnya, dalam waktu dua minggu saja perputaran uang di Jakarta mencapai angka yang sangat besar.
“Dalam dua pekan terakhir pada Desember lalu, melalui Jakarta Festive Wonder, perputaran ekonomi Jakarta mencapai sekitar Rp15,25 triliun,” ujar Desa.
Baca Juga: Dunia Gempar! Teka-teki 'Hilangnya' Netanyahu: Benarkah Terkena Rudal Iran atau Taktik Perang Saraf?
Tidak hanya melalui festival, momentum perayaan hari besar juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi ibu kota.
Perayaan Tahun Baru Imlek, misalnya, turut memicu lonjakan transaksi ekonomi di berbagai sektor.
Desa menyebutkan bahwa dalam kurun waktu empat hari selama perayaan tersebut, perputaran ekonomi mencapai angka yang sangat besar.
“Waktu perayaan Imlek, dalam empat hari itu perputaran ekonomi sekitar Rp9 triliun,” ujarnya.
Besarnya transaksi tersebut dinilai penting karena melibatkan banyak sektor usaha mulai dari pedagang kecil hingga pengusaha besar.
Selain itu, dampak ekonomi yang muncul juga langsung dirasakan oleh masyarakat luas.
Baca Juga: Penggiat Satwa Liar Somasi Balai TNUK dan Kemenhut soal Kematian Badak Jawa Hasil Translokasi
“Tentu pertumbuhan ekonomi seperti ini dan juga perputaran ekonomi yang dapat melibatkan banyak pengusaha dan juga banyak yang dirasakan langsung oleh masyarakat, itu yang kita butuhkan,” katanya.
Di sisi lain, Desa juga memaparkan arah kebijakan anggaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan anggaran daerah tetap berfokus pada belanja yang bersifat wajib dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Sektor pendidikan, kesehatan, serta program sosial menjadi prioritas utama yang tidak boleh terganggu oleh kebijakan lain.
“Kalau bicara soal kebijakan Pak Pram terkait politik anggaran untuk APBD, tentu kita fokus pada pengeluaran yang sifatnya wajib atau mandatori seperti pendidikan, kesehatan, dan sosial. Itu tidak boleh sama sekali terganggu,” jelasnya.
Selain memperkuat sektor dasar tersebut, pemerintah daerah juga terus meningkatkan konektivitas masyarakat melalui berbagai kebijakan transportasi.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan subsidi transportasi publik agar masyarakat dapat menikmati layanan mobilitas yang lebih terjangkau.
Baca Juga: Ibu Empat Anak di Jakarta Barat Tertangkap Usai Curi Uang Minimarket Demi Kebutuhan Keluarga
Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus mempermudah mobilitas warga di Jakarta.
“Dari sisi kebijakan tentu fokusnya ke pendidikan, kesehatan dan juga sosial serta membangun konektivitas lewat program yang sifatnya subsidi transportasi dan lain sebagainya,” kata Desa.
Menjelang musim mudik Lebaran, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan langkah khusus agar aktivitas ekonomi di ibu kota tidak mengalami penurunan drastis.
Pemerintah daerah menggagas program mudik ke Jakarta sebagai strategi untuk menarik masyarakat tetap berkunjung ke ibu kota selama periode libur panjang.
Program ini merupakan gagasan langsung dari Gubernur Pramono Anung untuk meningkatkan aktivitas wisata dan konsumsi masyarakat di Jakarta.
“Ada satu program juga yang kami gagas untuk meningkatkan keekonomian di Jakarta, itu adalah program mudik ke Jakarta. Mudik ke Jakarta itu program original diinisiasi oleh pak gubernur,” ujar Desa.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah daerah menggandeng berbagai pelaku usaha untuk memberikan sejumlah insentif kepada masyarakat.
Insentif tersebut diharapkan dapat mendorong wisatawan domestik maupun warga sekitar untuk tetap menikmati libur Lebaran di Jakarta.
“Misalnya, insentif hotel dari dua malam menjadi tiga malam, kemudian diskon tempat wisata dan juga diskon tempat-tempat belanja,” katanya.
Sementara itu, penulis buku yang menjadi bahan diskusi dalam acara tersebut, Aprilia Hariani, menjelaskan bahwa karyanya menyoroti berbagai kebijakan strategis yang dijalankan Pemprov DKI Jakarta.
Buku tersebut membahas arah pembangunan Jakarta yang kini diarahkan menuju kota global.
Aprilia mengungkapkan bahwa terdapat empat pilar utama yang menjadi fokus analisis dalam buku tersebut.
Keempat aspek tersebut meliputi peningkatan kesejahteraan masyarakat, percepatan pertumbuhan ekonomi, perbaikan kualitas lingkungan, serta penguatan tata kelola pemerintahan.
Baca Juga: Bukber di Era Medsos: Antara Silaturahmi, Konten, dan Gengsi
“Kami mencatat ada empat aspek, yaitu peningkatan kesejahteraan, akselerasi pertumbuhan ekonomi, peningkatan kualitas lingkungan dan penguatan tata kelola pemerintahan,” katanya.
Menurut Aprilia, Jakarta saat ini sedang berada dalam fase perubahan besar setelah tidak lagi berstatus sebagai ibu kota negara.
Meski demikian, arah pembangunan kota tetap difokuskan pada penguatan ekonomi masyarakat sebagai fondasi utama.
“Jakarta sedang mengganti jubahnya dari ibu kota menjadi kota global,” ujarnya.
Dalam kajian yang dilakukan, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tren yang cukup positif bagi Jakarta.
Salah satunya terlihat dari pertumbuhan ekonomi pada 2025 yang tercatat mencapai 5,21 persen.
Angka tersebut bahkan berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama.
Selain itu, kebijakan pemerintah daerah seperti subsidi transportasi publik serta dukungan bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah juga dinilai membantu menjaga daya beli masyarakat.
Langkah-langkah tersebut dianggap penting untuk memastikan aktivitas ekonomi Jakarta tetap stabil di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










