Banten

Waspada Campak Saat Lebaran Dinkes DKI Ingatkan Hindari Mencium Bayi Saat Silaturahmi

Riski Endah Setyawati | 14 Maret 2026, 12:39 WIB
Waspada Campak Saat Lebaran Dinkes DKI Ingatkan Hindari Mencium Bayi Saat Silaturahmi
Ilustrasi Campak (Istimewa)

Akurat Banten - Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap potensi penyebaran penyakit campak saat perayaan Idul Fitri yang identik dengan aktivitas silaturahmi.

Menurut Ani, kebiasaan masyarakat yang gemar menggendong, mencium, atau memegang bayi dan balita saat berkumpul bersama keluarga perlu dihindari karena kelompok usia tersebut memiliki sistem imun yang masih lemah.

Ia menyampaikan bahwa tindakan sederhana tersebut berpotensi menjadi jalur penularan berbagai penyakit menular, termasuk campak.

“Salah satu pesannya adalah jangan suka megang, mencium anak-anak, terutama yang masih bayi dan balita, karena daya tahan tubuhnya masih sangat rentan,” kata Ani.

Baca Juga: Terungkap Dugaan Fee Proyek Berulang Bupati Rejang Lebong, KPK Temukan Aliran Dana Ratusan Juta Rupiah

Ani menjelaskan bahwa hingga saat ini pemerintah provinsi belum menemukan laporan kasus campak di wilayah DKI Jakarta.

Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa penyakit tersebut telah muncul di sejumlah daerah yang berada di sekitar ibu kota.

Situasi tersebut membuat pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan agar penularan tidak sampai meluas ke Jakarta.

Ia menilai momentum Lebaran yang diwarnai mobilitas tinggi masyarakat serta pertemuan keluarga besar dapat menjadi faktor yang meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kesehatan serta memperhatikan interaksi dengan bayi dan anak-anak.

Ani menegaskan bahwa kewaspadaan bersama sangat penting agar potensi penyebaran penyakit dapat dicegah sejak dini.

“Jadi, ini tetap menjadi kewaspadaan kita sama-sama, terutama menjelang hari raya,” ujar Ani.

Ia juga meminta para orang tua agar lebih memperhatikan kondisi kesehatan anak selama masa libur Lebaran.

Baca Juga: Strategi Baru Pemprov DKI Tekan Sampah Jakarta, Beban TPST Bantargebang Ditarget Berkurang Drastis

Langkah pencegahan sederhana seperti menjaga kebersihan tangan, membatasi kontak fisik dengan bayi, serta memastikan anak telah mendapatkan imunisasi yang lengkap dinilai sangat penting.

Sementara itu, Dokter Spesialis Anak dari RSUD Pasar Rebo, dr. Arifianto, Sp.A, Subsp.Neuro(K) mengungkapkan bahwa penyakit campak sebenarnya masih sering ditemukan hingga saat ini.

Menurutnya, salah satu penyebab utama campak belum sepenuhnya hilang adalah masih adanya anak yang belum menerima imunisasi secara lengkap.

Ia mengaku hampir setiap minggu menangani pasien anak dengan kondisi serius akibat infeksi campak.

Beberapa di antaranya bahkan harus mendapatkan perawatan intensif di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan menggunakan alat bantu pernapasan.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa campak bukan penyakit ringan dan dapat menimbulkan komplikasi berbahaya pada anak.

Arifianto menekankan bahwa sebenarnya penyakit ini dapat dicegah melalui imunisasi yang tepat.

Vaksinasi campak berfungsi membantu tubuh membentuk antibodi sehingga mampu melawan virus yang masuk ke dalam tubuh.

Oleh karena itu, ia mengingatkan para orang tua untuk tidak menunda atau melewatkan jadwal imunisasi bagi anak-anak mereka.

Baca Juga: Strategi Baru Pemprov DKI Tekan Sampah Jakarta, Beban TPST Bantargebang Ditarget Berkurang Drastis

Menurut Arifianto, anak-anak yang masih kecil umumnya belum pernah terpapar berbagai jenis virus atau bakteri.

Karena itu, vaksin menjadi cara penting untuk memperkenalkan sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai patogen yang berpotensi menimbulkan penyakit.

Dengan adanya vaksin, tubuh anak dapat membangun pertahanan sehingga lebih siap menghadapi infeksi di masa mendatang.

Jika suatu saat virus campak menyerang, sistem imun yang sudah terbentuk akan lebih mampu menahan dan melawan penyakit tersebut.

Ia menjelaskan bahwa imunisasi campak rubela diberikan dalam tiga tahap agar perlindungannya maksimal.

Dosis pertama diberikan saat anak berusia sekitar sembilan bulan.

Kemudian dilanjutkan dengan dosis penguat ketika anak memasuki usia 18 bulan.

Selanjutnya, anak akan mendapatkan dosis tambahan lagi ketika berada pada rentang usia enam hingga tujuh tahun.

Rangkaian imunisasi tersebut menjadi bagian penting dari upaya melindungi anak dari ancaman penyakit campak yang masih berpotensi muncul di masyarakat.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.