Banten

Trump Meledak! Sebut NATO Penakut dan 'Pengkhianat' Karena Ogah Bantu AS Gempur Iran

Abdurahman | 21 Maret 2026, 12:10 WIB
Trump Meledak! Sebut NATO Penakut dan 'Pengkhianat' Karena Ogah Bantu AS Gempur Iran
Ilustrasi Kolase Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dengan Perang di Timur Tengah, sebut negara-negara anggota NATO sebagai "Penakut" (dok Ist)

AKURAT BANTEN– Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengguncang panggung geopolitik global.

Kali ini, kemarahannya pecah dan menyasar langsung ke jantung aliansi pertahanan NATO.

Dalam pernyataan terbaru yang sangat keras, Trump menyebut negara-negara anggota NATO sebagai "penakut" dan "pengkhianat" setelah mereka menolak memberikan dukungan militer penuh untuk menghadapi eskalasi panas dengan Iran.

Hubungan transatlantik yang sudah tegang kini berada di titik nadir.

Trump merasa Amerika Serikat dibiarkan berjuang sendirian di tengah krisis Selat Hormuz yang mengancam pasokan energi dunia.

Baca Juga: Rayakan Lebaran, Istana Negara Open House Siap Sambut 5.000 Pengunjung Usai Zuhur

"Kalian Semua Penakut!" – Amukan Trump di Truth Social

Kemarahan Trump meledak melalui platform media sosialnya, Truth Social.

Ia tidak menyaring kata-katanya saat mengomentari keputusan NATO yang menarik sebagian personel militer mereka dari wilayah konflik di Timur Tengah.

"Negara-negara NATO adalah penakut! Kita telah melindungi mereka selama puluhan tahun, tapi saat AS membutuhkan bantuan untuk mengamankan dunia dari ancaman Iran, mereka lari bersembunyi. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap aliansi!" tulis Trump dalam unggahan yang langsung viral dan dibagikan jutaan kali.

Baca Juga: Di Tengah Perang Iran Rayakan Lebaran 21 Maret 2026, Suasananya Jadi Sorotan Dunia

Titik Didih di Selat Hormuz

Pemicu utama kemarahan Washington adalah blokade yang dilakukan Iran di Selat Hormuz—jalur air paling krusial bagi perdagangan minyak global.

Trump sebelumnya telah "mengetuk pintu" NATO untuk meminta bantuan spesifik:

Armada Kapal Perang: Untuk mengawal tanker minyak internasional.

Pasukan Khusus: Guna melakukan operasi pengamanan di titik-titik buta Selat Hormuz.

Sanksi Militer Bersama: Untuk menekan Teheran agar mundur.

Namun, NATO justru memberikan respon dingin dengan alasan ingin menghindari "perang besar" yang tidak terkendali di Timur Tengah.

Baca Juga: Pemerintah Ketok Palu! Hemat BBM, WFA ASN dan Sekolah Online Kembali Berlaku Mulai April 2026, Ada Apa?

Eropa Melawan: "Kami Bukan Pion AS"

Sikap Trump yang meledak-ledak ini mendapat perlawanan sengit dari para pemimpin Eropa.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan sekutu lainnya di Brussels menyatakan bahwa mereka tidak akan terseret dalam agenda perang sepihak.

"Tugas NATO adalah menjaga stabilitas, bukan memicu api peperangan baru. Kami tidak akan mengirim tentara kami ke dalam konflik yang bisa diselesaikan melalui diplomasi," tegas salah satu sumber diplomatik senior di markas NATO.

Baca Juga: Israel Larang Shalat Idul Fitri di Al-Aqsa, Warga Palestina Tetap Ibadah di Sekitar Kota Tua Yerusalem

Dampak Gawat bagi Indonesia dan Dunia

Konflik antara Trump dan NATO ini bukan sekadar urusan politik luar negeri.

Jika aliansi ini benar-benar pecah, dampaknya akan sangat terasa di Indonesia:

Harga BBM Terancam Melonjak: Jika Selat Hormuz tetap tidak aman dan NATO tidak turun tangan, harga minyak mentah dunia diprediksi bisa menembus angka yang tidak masuk akal.

Ketidakpastian Ekonomi: Ketegangan ini membuat investor global menarik modal dari pasar negara berkembang (termasuk RI) ke aset yang lebih aman.

Ancaman Perang Terbuka: Tanpa dukungan NATO, ada kekhawatiran Trump akan bertindak nekat melakukan serangan mandiri (unilateral) yang bisa memicu Perang Dunia III.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman