Banten

Indonesia Terancam Krisis BBM? Iran Blokade Selat Hormuz, Kapal Pertamina Tertahan Akibat Sengketa Rp1,17 Triliun!

Abdurahman | 28 Maret 2026, 00:17 WIB
Indonesia Terancam Krisis BBM? Iran Blokade Selat Hormuz, Kapal Pertamina Tertahan Akibat Sengketa Rp1,17 Triliun!
Kapal tanker raksasa yang tampak 'terkunci' di perairan sempit Selat Hormuz saat matahari terbenam (dok Ist)

Ketahanan energi Indonesia kini berada dalam zona merah. Sebuah keputusan hukum di Jakarta berbuntut panjang hingga ke Selat Hormuz, jalur nadi minyak dunia, yang kini tertutup rapat bagi armada Indonesia

AKURAT BANTEN – Sebuah kabar mengejutkan datang dari perairan Timur Tengah. Indonesia secara resmi "didepak" dari daftar negara sahabat yang diizinkan melintasi Selat Hormuz oleh pemerintah Iran.

Langkah drastis ini diambil Teheran sebagai bentuk protes keras atas pelelangan kapal tanker dan minyak milik mereka oleh otoritas Indonesia senilai Rp1,17 triliun.

Dampaknya tidak main-main: pasokan minyak mentah nasional kini terancam, dan bayang-bayang krisis BBM mulai menghantui.

Baca Juga: Indonesia 4-0 Saint Kitts And Nevis: Sihir Ole Romeny dan Brace Beckham Putra Bikin Lawan Bertekuk Lutut!

Kronologi "Sakit Hati" Teheran: Berawal dari Lelang Kapal

Ketegangan ini bermula saat Kejaksaan Agung (Kejagung) RI memutuskan untuk melelang kapal tanker raksasa berbendera Iran, MT Arman 114.

Tidak hanya kapalnya, muatan minyak mentah di dalamnya yang bernilai fantastis juga ikut dilelang setelah proses hukum yang panjang di tanah air.

Pihak Iran dikabarkan telah berulang kali meminta kelonggaran diplomatik agar aset tersebut dilepaskan.

Namun, Indonesia tetap tegak lurus pada aturan hukum yang berlaku.

Hasilnya? Iran membalas dengan kebijakan "pintu tertutup" di Selat Hormuz.

"Kita berada dalam keadaan perang, jadi kapal-kapal musuh tidak bisa melintasi Selat Hormuz," tegas Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Baca Juga: Israel di Ambang Lumpuh! 8000 Tentara 'Lenyap' dari Medan Tempur, Krisis Militer Terparah Sejak 1948

Nasib Kapal Pertamina: Terjebak di Jalur Konflik

Bukan sekadar gertakan sambal, blokade ini sudah memakan korban. Laporan terkini dari The National Maritime Institute (Namarin) mengungkapkan bahwa sejumlah kapal tanker milik Pertamina kini tertahan dan tidak bisa melanjutkan perjalanan melalui Selat Hormuz.

Penahanan ini menjadi ancaman serius bagi distribusi minyak mentah ke kilang-kilang di Indonesia. Jika jalur ini terus diblokade bagi armada RI, maka:

Biaya Logistik Meroket: Kapal harus memutar jauh, menambah biaya angkut yang luar biasa besar.

Stok BBM Menipis: Gangguan pada supply chain minyak mentah dapat menyebabkan kelangkaan BBM di SPBU dalam waktu singkat.

Harga Energi Tidak Stabil: Ketidakpastian ini berpotensi memicu kenaikan harga energi domestik.

Baca Juga: Sorotan Publik Soal Yaqut, Dinilai KPK Jadi Energi Dukungan dalam Kasus Kuota Haji

Daftar Putih Iran: Indonesia Tidak Terdaftar

Dalam pengumuman resminya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) hanya memberikan izin melintas kepada kapal-kapal dari enam negara sahabat, yaitu:

  • China

  • Rusia

  • India

  • Pakistan

  • Irak

  • Bangladesh

Absennya nama Indonesia dalam daftar ini mengonfirmasi bahwa hubungan diplomatik kedua negara tengah berada di titik terendah akibat sengketa tanker tersebut.

Baca Juga: TPP ASN Tangsel Disorot, Diduga Tak Proporsional Antar Kelas Jabatan

Dilema Besar: Tegakkan Hukum atau Amankan BBM?

Pemerintah Indonesia kini berada di persimpangan jalan yang sulit.

Di satu sisi, pelelangan MT Arman 114 adalah bentuk kedaulatan hukum Indonesia atas pelanggaran di wilayah perairan nasional.

Di sisi lain, harga yang harus dibayar adalah ancaman krisis energi yang bisa melumpuhkan ekonomi rakyat.

Masyarakat kini menunggu langkah nyata dari Kementerian Luar Negeri dan Kementerian ESDM.

Apakah akan ada jalur negosiasi khusus untuk "mendinginkan" suasana di Selat Hormuz sebelum stok BBM nasional benar-benar kritis? (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman