Banten

HARAM! Bagi Roy Suryo: Jokowi Buka Pintu Maaf Lebar untuk Pusaran Kasus Ijazah

Abdurahman | 31 Maret 2026, 10:45 WIB
HARAM! Bagi Roy Suryo: Jokowi Buka Pintu Maaf Lebar untuk Pusaran Kasus Ijazah
Kolase Roy Suryo dan Jokowi (dok Ist)

AKURAT BANTEN – Sebuah kontras tajam mendadak jadi sorotan publik.

Di tengah kabar mengejutkan mengenai sinyal perdamaian yang ditiupkan Presiden Joko Widodo terkait kasus dugaan ijazah palsu, muncul satu nama yang seolah "terharamkan" dari pintu maaf tersebut: Roy Suryo.

Langkah ini memicu spekulasi liar. Mengapa untuk urusan ijazah pintu maaf dibuka lebar, namun bagi mantan Menpora tersebut, jalur hukum tetap tegak lurus tanpa kompromi?

Baca Juga: WFH ASN Usai Lebaran Diterapkan Sepekan Sekali, Pemprov DKI Pastikan Bukan Hari Rabu

Sinyal Damai yang Pilih Kasih?

Belakangan, publik dikejutkan dengan narasi bahwa pihak Istana membuka ruang bagi para tersangka dalam pusaran kasus ijazah untuk menyelesaikan perkara secara damai atau melalui mekanisme restorative justice.

Langkah ini awalnya dianggap sebagai bentuk kearifan Presiden untuk menyudahi kegaduhan panjang.

Namun, harapan itu pupus bagi pihak Roy Suryo. Seolah ada garis api yang memisahkan, status Roy Suryo justru dipertegas sebagai pihak yang "tidak masuk dalam radar pengampunan".

3 Alasan Mengapa Roy Suryo "Diharamkan" dari Pintu Maaf

Banyak pengamat menilai ada alasan strategis di balik ketegasan ini:

Vokalitas yang Dianggap Berbahaya: Roy Suryo bukan sekadar pengkritik biasa. Kapasitasnya sebagai pakar telematika seringkali dianggap mampu menggiring opini publik melalui data teknis yang sulit dibendung.

Efek Jera Digital: Pemerintah tampaknya ingin mengirimkan pesan kuat bahwa kritik yang menyentuh ranah digital dan teknis memiliki konsekuensi yang jauh lebih berat.

Simbolisme Politik: Membuka pintu damai untuk kasus ijazah dianggap sebagai cara meredam isu personal, sementara tetap memproses Roy Suryo dianggap sebagai cara menjaga wibawa institusi dari serangan kritik tajam.

Baca Juga: Serangan AS-Israel Tewaskan Komandan Angkatan Laut IRGC Alireza Tangsiri, Perang Timur Tengah Memanas

"Hukum Harus Adil, Bukan Tebang Pilih"

Kekecewaan mulai mengalir dari berbagai aktivis hukum. Mereka menilai jika Presiden ingin melakukan rekonsiliasi, maka standar yang digunakan haruslah sama.

"Jika pintu maaf dibuka untuk pemalsu ijazah demi ketenangan negara, mengapa untuk seorang kritikus seperti Roy Suryo pintu itu seolah diharamkan?" ujar salah satu praktisi hukum dalam sebuah diskusi publik.

Ketimpangan ini dikhawatirkan akan membentuk persepsi bahwa hukum di Indonesia bisa menjadi "elastis" untuk kawan, namun tetap "baja" untuk lawan.

Baca Juga: Timur Tengah Makin Panas! Dunia Sudah Diambang Kiamat? Ini Daftar Negara dan Milisi Raksasa yang Siap Pasang Badan, Bantu Iran Gempur AS-Israel!

Nasib Roy Suryo di Ujung Tanduk

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda pelunakan sikap dari pihak pelapor maupun otoritas terkait posisi hukum Roy Suryo.

Sementara para tersangka lain di pusaran isu ijazah mungkin bisa bernapas lega dengan skema perdamaian, Roy Suryo harus bersiap menghadapi dinginnya dinding sel dan palu hakim.

Kesimpulannya: Pintu maaf Jokowi memang terbuka, tapi ternyata tidak untuk semua orang. Bagi Roy Suryo, kata "Damai" tampaknya masih menjadi barang mewah yang mustahil digapai.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman