Banten

Terjebak di 'Mulut Naga': Alasan Tak Terduga Iran Belum Lepas 2 Kapal Raksasa Pertamina

Abdurahman | 12 April 2026, 22:12 WIB
Terjebak di 'Mulut Naga': Alasan Tak Terduga Iran Belum Lepas 2 Kapal Raksasa Pertamina
Dua kapal tanker raksasa milik PT Pertamina International Shipping (PIS) masih tertahan di Selat Hormuz (dok Ist)

Ringkasan Berita

  • Status: Dua kapal tanker Pertamina masih tertahan di kawasan Selat Hormuz oleh otoritas Iran. Alasan Utama: Protokol keamanan pasca-konflik yang ekstrem dan ancaman ranjau laut yang belum dibersihkan. Kondisi Jalur: Iran membatasi perlintasan hanya 12 kapal per hari dengan prosedur pemeriksaan yang sangat mendalam. Dampak: Negosiasi diplomasi terus dilakukan untuk menjamin keselamatan awak dan kedaulasi energi nasional.

AKURAT BANTEN – Ketegangan di Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang sering dijuluki "Mulut Naga", kembali memanas.

Dua kapal tanker raksasa milik PT Pertamina International Shipping (PIS), Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini masih tertahan dalam dekapan keamanan ketat Iran.

Meski isu gencatan senjata mulai berhembus, kenyataan di lapangan justru berbicara lain.

Baca Juga: Iran Tegaskan Hak di Selat Hormuz Usai Negosiasi Buntu dengan AS di Islamabad

Protokol Perang di Jalur Sipil

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengungkapkan bahwa Selat Hormuz saat ini sedang tidak dalam kondisi "normal".

Status jalur tersebut telah ditingkatkan menjadi pengawasan keamanan tingkat tinggi yang menyerupai kondisi perang.

Bagi kapal sekelas Pertamina Pride, melintasi kawasan ini bukan lagi sekadar urusan navigasi rutin, melainkan harus melewati barisan birokrasi militer Iran yang sangat berlapis.

"Selat Hormuz saat ini berada di bawah pengawasan ketat. Setiap kapal, termasuk milik Pertamina, wajib mengikuti protokol keamanan khusus yang ditetapkan otoritas kami demi keselamatan mereka sendiri di zona sensitif ini," tegas Mohammad Boroujerdi.

Baca Juga: Kiamat Logistik? Iran Wajibkan Kapal Bayar Tol di Selat Hormuz, Urat Nadi Minyak Dunia Kini Tak Lagi Gratis!

Ancaman Nyata: 'Hantu' Ranjau di Bawah Laut

Satu alasan tak terduga yang membuat kapal-kapal ini tertahan adalah keberadaan ranjau laut.

Konflik yang sempat memanas di kawasan tersebut menyisakan ancaman mematikan di bawah permukaan air.

Iran dan beberapa pihak terkait dikabarkan masih dalam proses pembersihan ranjau yang membutuhkan waktu lama dan akurasi tinggi.

Memaksakan kapal tanker berukuran raksasa untuk melintas tanpa jaminan keamanan 100% dari ranjau sama saja dengan mengirim muatan energi tersebut ke lubang kehancuran.

Inilah yang membuat otoritas Iran memilih untuk "menahan" kapal-kapal tersebut hingga jalur benar-benar dinyatakan steril.

Baca Juga: Jokowi Tegaskan Ijazah Asli Hanya Dibuka di Pengadilan, Tanggapi Permintaan JK dengan Sikap Tegas

Negosiasi di Tengah Ketidakpastian

Selain faktor teknis keamanan, muncul isu mengenai biaya kompensasi keamanan yang sangat tinggi bagi kapal-kapal yang ingin mendapatkan prioritas melintas.

Iran dikabarkan menetapkan kuota terbatas, hanya 12 kapal per hari, yang memicu antrean panjang di pintu masuk Selat Hormuz.

Pemerintah Indonesia melalui kementerian terkait tidak tinggal diam. Diplomasi terus diupayakan agar dua aset vital ini bisa segera keluar dari "Mulut Naga".

Fokus utamanya adalah memastikan bahwa Pertamina Pride dan Gamsunoro bisa pulang dengan selamat tanpa harus terseret lebih jauh dalam pusaran geopolitik Timur Tengah.

Baca Juga: Gencatan Senjata Paskah Kembali Retak, Ukraina dan Rusia Saling Klaim Ribuan Pelanggaran

Data Teknis Kapal yang Tertahan:

Nama Kapal

Lokasi Terakhir

Status Operasional

Pertamina Pride

Lepas Pantai Arab Saudi

Menunggu Izin Melintas

Gamsunoro

Lepas Pantai Dubai

Menunggu Izin Melintas


Tertahannya kapal ini menjadi pengingat bagi Indonesia bahwa ketergantungan pada jalur Selat Hormuz memiliki risiko tinggi.

Ke depannya, diversifikasi jalur pasokan energi menjadi hal yang sangat mendesak agar ketahanan energi nasional tidak "tersandera" oleh situasi politik luar negeri. (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman