Banten

Harga Plastik Melonjak Tajam, Puan Ajak UMKM Beralih ke Kemasan Alami yang Lebih Ramah Lingkungan

Riski Endah Setyawati | 16 April 2026, 18:54 WIB
Harga Plastik Melonjak Tajam, Puan Ajak UMKM Beralih ke Kemasan Alami yang Lebih Ramah Lingkungan
Ilustrasi Plastik (Istimewa)

AKURAT BANTEN - Ketua DPR RI Puan Maharani menilai kenaikan signifikan harga plastik dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk kembali menggunakan kemasan berbahan alami yang lebih berkelanjutan.

Menurutnya, selain lebih ekonomis, bahan kemasan organik juga memiliki dampak lingkungan yang jauh lebih rendah karena mudah terurai.

“Meskipun plastik dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari karena kepraktisannya, kita ketahui bersama beban ekologinya sangat tinggi. Maka kenaikan harga plastik bisa menjadi momentum untuk kita beralih ke ekonomi hijau,” kata Puan Maharani.

Baca Juga: Terduga Pelaku Penganiayaan Petugas BPBD Kota Tangerang Diperiksa, Polisi Segera Gelar Perkara

Lonjakan harga plastik di Indonesia tercatat mencapai 30 hingga 80 persen pada April 2026 akibat terganggunya rantai pasok global.

Kondisi ini dipicu konflik geopolitik yang berdampak pada distribusi bahan baku, sementara industri dalam negeri masih bergantung hingga 60 persen pada impor.

Situasi tersebut dinilai paling berdampak pada pelaku usaha kecil, khususnya sektor kuliner yang masih mengandalkan kemasan sekali pakai.

Baca Juga: Duel Maut Sengketa Lahan Tanah Abang: Ahli Waris vs PT KAI, Siapa Pemilik Sah 3,4 Hektar Emas di Jantung Jakarta?

“Harga plastik yang melonjak hingga berkali-kali lipat dan pasokan mulai sulit diperoleh menyebabkan pelaku usaha kecil yang selama ini bekerja dengan keuntungan terbatas semakin kesulitan dari sisi ekonomi,” paparnya.

Puan kemudian mendorong agar pelaku usaha mulai melirik kembali praktik kemasan tradisional yang sarat nilai kearifan lokal.

Ia menyebut, pada masa lalu, bahan alami seperti daun sudah menjadi pilihan utama dalam membungkus makanan.

Baca Juga: Prostitusi di Hotel Cipondoh Kota Tangerang Diduga Diatur Langsung di Lokasi

“Di pendahulu kita dulu, penggunaan kemasan dari bahan alami seperti daun menjadi alternatif utama. Pedagang makanan atau pangan bisa kembali memanfaatkan kemasan ramah lingkungan seperti itu,” tuturnya.

Penggunaan daun pisang maupun daun jati yang masih banyak dijumpai di sejumlah daerah disebutnya sebagai solusi nyata yang mudah diterapkan.

Contoh tersebut terlihat pada makanan seperti nasi liwet, gudeg, hingga mi tradisional yang tetap menjaga cita rasa sekaligus memperkaya aroma.

Baca Juga: Blokade Selat Hormuz Gagal Total? Puluhan Kapal Tetap Lolos dari Pengawasan AS

Bahkan, kemasan alami disebut mampu memperpanjang daya tahan makanan tertentu seperti lontong dan lemper.

“Dengan memakai kemasan dari bahan organik, pelaku usaha tak hanya bisa menghindari tekanan ekonomi karena tingginya bahan baku dari impor, tapi juga bisa menambah nilai jual,” ungkap Puan.

Ia menambahkan bahwa keunikan kemasan tradisional juga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Baca Juga: Di Balik Negosiasi Iran vs AS, Ini 6 Tokoh Penentu yang Punya Kuasa Besar

“Termasuk dari segi keunikannya yang buat beberapa kalangan masyarakat bisa menjadi daya tarik untuk membeli,” sambungnya.

Selain aspek ekonomi, penggunaan kemasan organik juga sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan atau SDGs, khususnya dalam pengelolaan limbah.

Puan menilai langkah ini sekaligus dapat memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

Baca Juga: Terduga Pelaku Penganiayaan Petugas BPBD Kota Tangerang Diperiksa, Polisi Segera Gelar Perkara

“Kemasan organik yang sarat terhadap kearifan lokal juga merupakan inovasi ekonomi kreatif. Selain mendukung warisan budaya Indonesia, kita juga turut mengkampanyekan gerakan ramah lingkungan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan soal tingginya volume sampah plastik global yang menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan.

Berdasarkan laporan United Nations Environment Programme, sekitar 2.000 truk sampah plastik dibuang ke laut, sungai, dan danau setiap hari.

Baca Juga: Di Balik Negosiasi Iran vs AS, Ini 6 Tokoh Penentu yang Punya Kuasa Besar

Secara tahunan, jumlah limbah plastik yang mencemari perairan dunia mencapai 19 hingga 23 juta ton.

“Jadi semangat kita di sini adalah, selagi harga plastik sedang tinggi harganya, kita bisa mencari alternatif penggunaan kemasan lain, yang sekaligus mengurangi sampah plastik,” ujar Puan.

Meski demikian, ia menyadari perubahan kebiasaan masyarakat tidak bisa terjadi secara instan.

Baca Juga: Terduga Pelaku Penganiayaan Petugas BPBD Kota Tangerang Diperiksa, Polisi Segera Gelar Perkara

“Mungkin bisa dimulai dari rumah makan untuk tidak memakai wadah plastik sekali pakai saat menyajikan makanan dan minuman untuk pembelian makan di tempat,” kata Puan.

Ia juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam proses transisi tersebut.

“Dan tentunya memang harus ada dukungan juga bagi Pemerintah untuk transisi penggantian kemasan dari bahan plastik ke kemasan berbahan alami,” lanjutnya.

Baca Juga: Di Balik Negosiasi Iran vs AS, Ini 6 Tokoh Penentu yang Punya Kuasa Besar

Puan meminta kementerian dan lembaga terkait menyiapkan regulasi, sistem pendukung, serta edukasi kepada masyarakat.

Menurutnya, jika sistem telah terbentuk dengan baik, masyarakat akan lebih mudah beradaptasi.

“Pada dasarnya masyarakat akan menyesuaikan kebiasaan yang ada. Apabila sistemnya mendukung, saya yakin bukan tidak mungkin bahan organik bisa menggantikan kemasan plastik sekali pakai,” ucap Puan.

Baca Juga: Terungkap! Ini Pihak yang Berpotensi Hancurkan Blokade AS di Selat Hormuz

Ia juga mendorong adanya kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan solusi kemasan alternatif yang terjangkau.

“Pemerintah perlu memberikan support dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat terhadap alternatif kemasan, khususnya bagi para pelaku usaha dan konsumen. Kami di DPR akan ikut melakukan pengawasan sesuai tugas dan kewenangan dewan,” tutupnya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.