JK Hadirkan Pelaku Sejarah Poso dan Ambon untuk Jawab Polemik Pernyataan yang Viral

AKURAT BANTEN - Jusuf Kalla kembali menjadi sorotan setelah mengundang sejumlah tokoh yang terlibat langsung dalam proses perdamaian konflik Poso dan Ambon guna memberikan klarifikasi atas pernyataannya yang diperdebatkan publik.
Pertemuan tersebut berlangsung di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, dan dihadiri oleh berbagai pihak yang memiliki pengalaman langsung dalam konflik tersebut.
Dalam konferensi pers usai acara, JK menyampaikan pesan tegas kepada pihak-pihak yang dinilai memperkeruh suasana melalui kritik yang dianggap tidak berdasar.
Baca Juga: Hujan Meteor Lyrid Hiasi Langit Indonesia Dini Hari Ini, Ini Waktu Terbaik Menyaksikannya
“Untuk teman-teman yang suka bikin gaduh, bikin fitnah ini. Ade Armando CS, dengar ini; Bapak-bapak ini yang pernah dulu mengalami keadaan pada waktu itu,” ujar JK.
Ia menekankan bahwa pernyataannya dalam ceramah di Universitas Gadjah Mada tidak berkaitan dengan ajaran agama, melainkan merujuk pada fakta sejarah yang terjadi sekitar 25 tahun lalu.
“Apa yang saya sampaikan itu adalah hal yang terjadi di Poso dan Ambon, yang terjadi pada 25 tahun yang lalu,” tegasnya.
Baca Juga: Detik Detik Imam Masjid di Depok Wafat Saat Pimpin Salat Subuh, Jemaah Sempat Panik
Untuk memperjelas konteks tersebut, Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku, Pendeta John Ruhulessin, turut memberikan penjelasan di hadapan publik.
Ia menyatakan bahwa apa yang disampaikan JK merupakan gambaran realitas sosial saat konflik berlangsung, bukan bentuk penistaan agama.
“Pertama, apa yang dikemukakan oleh Pak JK di dalam ceramahnya adalah menyangkut Maluku dan Poso. Tidak ada yang menyangkut yang lain,” katanya.
Baca Juga: JK Sentil Soal Ijazah Jokowi, Respons Presiden Bikin Kaget 'Cuma Senyum'
Menurutnya, konflik yang terjadi saat itu justru dipicu oleh penyalahgunaan agama sebagai alat pembenaran kekerasan.
“Kalau pada waktu itu doktrin agama itu diberlakukan, saya yakin tidak akan terjadi konflik di Maluku,” ujarnya.
Ia bahkan mengakui bahwa fenomena tersebut merupakan kenyataan pahit yang sulit disangkal.
Baca Juga: Hujan Meteor Lyrid Hiasi Langit Indonesia Dini Hari Ini, Ini Waktu Terbaik Menyaksikannya
“Dan itu yang membuat mengapa orang saling membunuh. Dan saya kira itu fakta, tidak bisa kita ingkari,” tambahnya.
Pandangan serupa juga disampaikan Pendeta Rinaldi Damanik yang terlibat langsung dalam konflik Poso.
Ia menyebut bahwa pernyataan JK merupakan analisis sosiologis atas situasi yang terjadi, bukan ajaran teologis.
Baca Juga: Misteri 7 Pekan Jenazah Ali Khamenei: Mengapa Teheran Belum Berani Menguburkan Sang Pemimpin?
“Itu adalah analisis sosiologis tentang realitas pahit konflik secara khusus di Poso dan di Ambon,” ungkapnya.
Ia bahkan mengakui adanya keyakinan keliru yang berkembang di tengah konflik saat itu.
“Saya pun sendiri berani ke mana-mana karena saya yakin waktu itu saya pasti masuk surga,” katanya.
Baca Juga: Hujan Meteor Lyrid Hiasi Langit Indonesia Dini Hari Ini, Ini Waktu Terbaik Menyaksikannya
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa proses perdamaian melalui Deklarasi Malino menjadi titik penting dalam mengakhiri konflik berkepanjangan tersebut.
“Tidak ada yang dimenangkan di konflik itu. Semua sudah salah, semua hancur,” ujarnya.
Sementara itu, Ustaz Sugiyanto Kaimuddin yang turut menjadi bagian dari perundingan Malino menilai bahwa apa yang disampaikan JK merupakan fakta di lapangan.
Baca Juga: Detik Detik Imam Masjid di Depok Wafat Saat Pimpin Salat Subuh, Jemaah Sempat Panik
“Karena apa yang disampaikan oleh Pak JK itu adalah fakta lapangan. Di sana teriak 'Darah Yesus', di sebelah berteriak 'Allahu Akbar',” katanya.
Ia juga menyoroti pihak-pihak yang dianggap memperkeruh situasi melalui narasi yang memicu kegaduhan publik.
“Justru mereka ini yang membuat gaduh sebenarnya,” tegasnya.
Baca Juga: Dana Rp28 Miliar Umat Gereja Dipastikan Kembali, BNI Janjikan Pengembalian Secepatnya
Di sisi lain, polemik ini berujung pada laporan terhadap JK oleh organisasi tertentu atas dugaan penistaan agama.
Namun, pihak JK menilai bahwa pernyataan tersebut telah dipotong sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
“Mudah-mudahan Allah memaafkan para pemfitnah itu. Al-fitnatu asyaddu minal qatl,” kata JK.
Baca Juga: Misteri 7 Pekan Jenazah Ali Khamenei: Mengapa Teheran Belum Berani Menguburkan Sang Pemimpin?
Sementara itu, sejumlah pihak juga melaporkan tokoh lain ke kepolisian atas dugaan provokasi terkait potongan video ceramah tersebut.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”










