Dorongan Sanksi Keras untuk Israel, Menguat Usai Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

AKURAT BANTEN - Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa mengambil langkah tegas dengan menjatuhkan sanksi berat kepada Israel setelah kembali jatuh korban dari prajurit TNI dalam misi perdamaian di Lebanon.
Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak bisa lagi dibiarkan tanpa respons konkret dari komunitas internasional.
“PBB sudah seharusnya menjatuhkan sanksi terhadap Israel yang dilaporkan oleh Kementerian Luar Negeri maupun Sekretariat PBB sebagai pelaku penyerangan yang menewaskan empat prajurit TNI dan melukai empat yang lainnya,” ujar HNW.
Baca Juga: Bantah Isu Rekayasa RJ, Kuasa Hukum Tegaskan Jokowi Tak Pernah Tawarkan Jalan Damai
Menurutnya, serangan yang terjadi telah melanggar aturan hukum internasional yang melindungi pihak nonkombatan serta personel PBB dalam konflik bersenjata.
Ia merujuk pada Konvensi Jenewa 1949 dan Konvensi Keselamatan Personel PBB 1994 sebagai dasar hukum yang dilanggar dalam insiden tersebut.
Ia menilai serangan itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang sebagaimana diatur dalam Statuta Roma.
Baca Juga: Bansos Dipastikan Aman dari Pemotongan, Mensos Tegas Lawan Hoaks yang Meresahkan Warga
Hal ini lantaran prajurit TNI yang menjadi korban tengah menjalankan mandat resmi sebagai bagian dari misi penjaga perdamaian di bawah naungan PBB.
Ia pun menekankan bahwa lembaga internasional tersebut memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan perlindungan maksimal kepada pasukan yang bertugas.
“Sehingga PBB harusnya bertanggung jawab hadirkan perlindungan maksimal dan memberikan sanksi keras kepada Israel yang menyerang pasukan perdamaian PBB, demi memberikan keadilan dan kedamaian bagi korban, keluarga, serta negara,” tuturnya.
Baca Juga: Diserang Iran, Oman Malah Rangkul Pertemuan Hangat Ini Bikin Dunia Kaget
Ia juga mengingatkan bahwa insiden serupa bukanlah yang pertama kali terjadi.
Pada tahun sebelumnya, serangan terhadap pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon juga sempat terjadi tanpa adanya sanksi tegas.
Menurutnya, ketiadaan tindakan tegas tersebut justru membuka ruang bagi terulangnya serangan yang kini berujung pada korban jiwa.
Baca Juga: Bansos Dipastikan Aman dari Pemotongan, Mensos Tegas Lawan Hoaks yang Meresahkan Warga
“Ketika itu tidak ada sanksi apa pun dari PBB. Akibat tidak ada sanksi itu, Israel leluasa melanjutkan kejahatannya. Kini, serangan Israel tersebut bahkan menimbulkan korban jiwa,” ucapnya.
Ia menilai, selain melakukan kecaman dan investigasi, PBB perlu segera mengambil langkah nyata demi menjaga kredibilitasnya di mata dunia.
Di sisi lain, ia menyatakan dukungan terhadap upaya Kementerian Luar Negeri RI yang tengah berkoordinasi dengan berbagai negara untuk mendorong penyelidikan yang transparan dan akuntabel.
Baca Juga: Bansos Dipastikan Aman dari Pemotongan, Mensos Tegas Lawan Hoaks yang Meresahkan Warga
“Langkah Kemlu ini memang kita dukung, tapi berharap agar ada tindak lanjutnya, yaitu dijatuhkannya sanksi berat kepada Israel, pelaku kejahatan perang itu,” katanya.
Selain itu, pemerintah Indonesia juga diminta mengevaluasi keterlibatan prajurit TNI dalam misi perdamaian jika aspek keamanan tidak terjamin.
Ia menilai langkah tersebut sejalan dengan amanat konstitusi yang tidak hanya mendorong kontribusi terhadap perdamaian dunia, tetapi juga menjamin perlindungan bagi seluruh warga negara.
Baca Juga: Kubu Roy Suryo Bongkar Janji Jokowi soal Ijazah, 'Disebut Hanya Ulangi Pernyataan Lama'
“Konstitusi tidak hanya menyebut tentang keikutsertaan hadirkan perdamaian dunia, seperti di Lebanon itu, tapi juga melindungi seluruh warga Indonesia, termasuk TNI anggota UNIFIL,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa opsi penarikan pasukan patut dipertimbangkan jika tidak ada jaminan keamanan serta tidak ada tindakan hukum tegas terhadap pelaku.
Sementara itu, kabar duka datang dari gugurnya Rico Pramudia yang meninggal dunia setelah mengalami luka berat akibat serangan di Lebanon selatan.
Baca Juga: Kubu Roy Suryo Bongkar Janji Jokowi soal Ijazah, 'Disebut Hanya Ulangi Pernyataan Lama'
Informasi tersebut disampaikan oleh UNIFIL melalui pernyataan resmi.
“UNIFIL prihatin atas wafatnya Praka Rico Pramudia, yang terluka parah akibat sebuah ledakan proyektil di markasnya di Adchit Al Qusayr pada 29 Maret malam,” tulis pernyataan tersebut.
Dengan kejadian ini, total empat prajurit TNI gugur dalam kurun waktu satu bulan terakhir saat menjalankan tugas bersama UNIFIL di Lebanon selatan.
Baca Juga: Bantah Isu Rekayasa RJ, Kuasa Hukum Tegaskan Jokowi Tak Pernah Tawarkan Jalan Damai
Sebelumnya, Farizal Rhomadhon meninggal akibat serangan artileri dalam peristiwa yang sama.
Sehari berselang, dua prajurit lainnya yakni Zulmi Aditya Iskandar dan Muhammad Nur Ikhwan juga gugur saat konvoi yang mereka kawal diserang.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Tiyo Ardianto: Dari Awal Saya Bilang MBG Itu 'Maling Berkedok Gizi'
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Sempat Dibela Dadan Hindayana, 41 Dapur MBG Anak Pejabat DPRD Sulsel Tuai Sorotan, Aktivis Desak Audit Menyeluruh
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan
- 7Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia
- 8Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil
- 9Jerman Peringatkan Rusia Bisa Ancam NATO pada 2029, Eropa Mulai Siaga Perang
- 10Tiga Kartu Merah dan Dua Gol, Meksiko Buka Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan Meyakinkan








