Banten

Hutan Bambu Senilai Rp1,8 Miliar di Cisoka Tangerang Tuai Pro Kontra, Pemkab Beri Penjelasan

A. Zaki Iskandar | 6 Januari 2026, 18:06 WIB
Hutan Bambu Senilai Rp1,8 Miliar di Cisoka Tangerang Tuai Pro Kontra, Pemkab Beri Penjelasan

AKURAT BANTEN - Pembangunan kawasan Hutan Bambu di Desa Bojong Loa, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, Banten, menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Proyek bernilai Rp1,8 miliar tersebut menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial dan dinilai sebagian warga sebagai pemborosan anggaran.

Dalam sejumlah unggahan media sosial, warga mempertanyakan urgensi pembangunan Hutan Bambu di tengah kebutuhan infrastruktur dasar yang dinilai masih mendesak di wilayah tersebut.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Senin (5/1/2026), lokasi pembangunan Hutan Bambu itu sepi dari aktivitas proyek. Papan informasi proyek tampak roboh dan masuk ke saluran air di dekat pintu masuk kawasan.

Baca Juga: Jambret Beraksi di Kelapa Gading Saat Korban Hendak Beribadah Polisi Buru Pelaku

Berdasarkan papan proyek, pembangunan Hutan Bambu merupakan kegiatan Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan dengan nilai anggaran Rp1.805.120.026 yang bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2025. Proyek tersebut dikerjakan oleh CV Putra Kosambi Jaya dengan masa pelaksanaan 90 hari kalender.

Informasi serupa juga tercantum dalam laman Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) Kabupaten Tangerang dengan nama paket pekerjaan “Pembangunan Hutan Bambu Cisoka” yang diumumkan pada 15 Agustus 2025.

Menanggapi polemik tersebut, Camat Cisoka Sumartono mengatakan pembangunan Hutan Bambu masih dalam tahap awal dan akan dilakukan secara bertahap. Menurutnya, proyek tersebut memiliki tujuan jangka panjang sebagai ruang terbuka publik dan penggerak ekonomi lokal.

Baca Juga: Nadiem Buka Kisah Hidup dan Alasan Terjun ke Pemerintahan

“Pembangunan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama difokuskan pada pemerataan lahan dan penyesuaian saluran air untuk mencegah banjir, karena kawasan ini merupakan jalur aliran air dari permukiman,” kata Sumartono saat ditemui, Selasa (6/1/2026).

Sumartono menjelaskan, Hutan Bambu dirancang sebagai ruang terbuka yang dapat diakses masyarakat secara gratis sekaligus mendukung potensi ekonomi warga sekitar, khususnya perajin bambu.

Ia menyebut sekitar 27 hingga 28 persen wilayah Cisoka ditumbuhi bambu, sehingga komoditas tersebut menjadi ciri khas sekaligus potensi ekonomi daerah. Keberadaan Hutan Bambu juga diharapkan dapat menghidupkan kembali aktivitas ekonomi warga Kampung Janur Cisoka yang sejak lama dikenal sebagai sentra anyaman bambu.

Baca Juga: Polri Siapkan Kurikulum Baru Polwan untuk Perkuat Perlindungan Perempuan dan Kelompok Rentan

Ke depan, kawasan tersebut direncanakan dilengkapi berbagai fasilitas publik, antara lain jalur joging, saung berbahan bambu, area pertunjukan masyarakat, penerangan kawasan, spot swafoto, serta danau dengan air mancur di bagian tengah kawasan.

Sumartono menargetkan pembangunan Hutan Bambu secara keseluruhan dapat rampung pada pertengahan 2026.

“Setelah selesai, kawasan ini diharapkan bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang publik sekaligus penggerak ekonomi lokal,” ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.