DDT Bekasi-Cikarang Dikebut Usai Kecelakaan, Pengamat Ingatkan Keselamatan Tak Cukup Hanya Tambah Jalur

AKURAT BANTEN - Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan menjadikan pembangunan jalur double-double track (DDT) di koridor Bekasi-Cikarang sebagai agenda prioritas setelah insiden kecelakaan kereta yang terjadi di Bekasi Timur.
Langkah ini dipandang sebagai upaya memperbesar kapasitas perjalanan kereta sekaligus mengurangi potensi gangguan operasional di jalur padat tersebut.
Namun, para pengamat menilai pembangunan infrastruktur tambahan saja belum cukup untuk menjawab persoalan keselamatan secara menyeluruh.
Pengamat transportasi Universitas Indonesia, Andyka Kusuma, menegaskan bahwa fokus utama seharusnya bukan hanya pada penambahan jalur rel, tetapi juga penghapusan perlintasan sebidang yang selama ini masih menjadi titik rawan kecelakaan.
“Prinsipnya untuk meningkatkan keselamatan di kawasan perkotaan. Seharusnya dihilangkan simpang sebidang persilangan kereta. Kalau hanya DD itu hanya meningkatkan kapasitas. DD juga bisa dibangun layang,” ujarnya.
Menurut Andyka, peningkatan kapasitas melalui DDT memang penting, tetapi tujuan keselamatan akan sulit tercapai tanpa perubahan besar pada sistem persimpangan kereta dan jalan raya.
Baca Juga: Kepala Dinas Banten Tabrak Siswa SD, 1 Korban Tewas, Diduga Mengemudi dengan Selang Oksigen
Ia juga menyoroti pentingnya modernisasi teknologi persinyalan agar sistem pengoperasian kereta lebih aman dan responsif.
“Iya benar (perlu modernisasi persinyalan) ya, mulai dari sistem yang moving block, hingga ATC di kereta apinya sendiri,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan pengamat transportasi dan tata kota Universitas Trisakti, Yayat Supriatna.
Baca Juga: Negosiasi Buntu! Trump Lanjutkan Blokade, Iran Siapkan Balasan 'Tak Terduga'
Ia menilai keberadaan banyak perlintasan sebidang, terutama yang dibangun secara mandiri oleh masyarakat, justru menjadi hambatan utama dalam menciptakan transportasi rel yang aman.
“Dulu ide banyak, tutup aja perlintasan-perlintasan sebidang itu yang dibuat oleh masyarakat. Disuruh muter masyarakatnya atau dibuat underpass. Nah selama itu tidak diamankan atau tidak dijaga dengan sistem otomatik, itu nggak akan pernah, nggak ada manfaatnya DDT,” jelas Yayat.
Meski begitu, Yayat mengakui bahwa penutupan atau penggantian perlintasan sebidang dengan underpass maupun flyover bukan perkara mudah.
Persoalan pembebasan lahan, biaya konstruksi tinggi, hingga koordinasi antarinstansi masih menjadi hambatan besar.
Ia juga mengkritik lemahnya sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menangani masalah tersebut.
“Dan lempar tanggung jawab antara, oh ini tanggung jawab Dirjen Perkeretaapian, oh ini tanggung jawab pemda, pemerintah,” tegasnya.
Yayat menambahkan, pembangunan DDT tetap relevan jika frekuensi perjalanan kereta terus meningkat.
Namun, tanpa perencanaan terpadu dengan jaringan jalan di sekitarnya, proyek ini justru berisiko memunculkan kemacetan baru.
Selain infrastruktur fisik, penggunaan teknologi sinyal yang lebih canggih juga dinilai wajib menjadi prioritas.
Baca Juga: Kepala Dinas Banten Tabrak Siswa SD, 1 Korban Tewas, Diduga Mengemudi dengan Selang Oksigen
“Teknologi soal pengaturan sinyal yang maksimal. Kan harus kita nunggu dari KNKT,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan proyek DDT Bekasi-Cikarang tidak sepenuhnya mengandalkan dana APBN.
Pendanaan akan melibatkan investasi dari PT Kereta Api Indonesia (Persero), yang juga nantinya mendapat tanggung jawab pengelolaan prasarana perkeretaapian di jalur tersebut.
Dengan demikian, proyek ini diharapkan bukan sekadar memperluas kapasitas transportasi, tetapi benar-benar menjadi solusi komprehensif untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta di kawasan perkotaan padat.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 7Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan
- 105 Alasan Manchester United Tak Akan Melepas Bruno Fernandes pada Musim Panas 2026







