Aliran Kali Ciputat Diduga Dikorbankan untuk BXChange, Dampak Lingkungan Kian Terasa

AKURAT BANTEN - Sorotan terhadap dugaan penutupan sebagian aliran Kali Ciputat di Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), terus menguat. Perubahan aliran sungai tersebut dikaitkan dengan pembangunan pusat perbelanjaan BXChange Mall oleh pengembang kawasan Bintaro, PT Jaya Real Property Tbk.
Penelusuran langsung yang dilakukan pada Kamis (30/4/2026) hingga Jumat (1/5/2026) menemukan adanya perubahan fisik aliran, terutama di titik pertemuan arus di kawasan Pintu Air Nuri, Kelurahan Sawah Lama, Kecamatan Ciputat.
Dari penelusuran berbasis citra satelit Google Earth, terlihat bahwa hingga 2012 aliran Kali Ciputat masih mengalir normal dari Pintu Air Nuri, melintasi rel kereta di sekitar Stasiun Jurangmangu, kemudian menerus ke arah Pondok Jaya.
Baca Juga: Tuding Seskab Teddy Gay, Amien Rais Santai Diterpa Ancaman Hukum: Kita Buktikan Nanti!
Namun pada citra tahun 2013, jalur aliran tersebut tidak lagi terlihat setelah melewati ruas tol, dan lokasinya tampak telah berubah menjadi area pembangunan BXChange.
Keberadaan aliran sungai ini juga tercatat dalam arsip lama. Peta kolonial Belanda yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden, bertajuk Kebajoran tahun 1937, menunjukkan aliran sungai bernama K. Tjipoetat lengkap dengan percabangannya.
Salah satu cabang di sisi barat diduga merupakan jalur yang kini telah berubah fungsi.
Baca Juga: Ekspor Anjlok, Iran Pangkas Produksi Minyak Imbas Blokade AS
Kondisi terkini menunjukkan aliran kali tersebut tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.
Dari bagian hulu, aliran air terhenti akibat pintu air yang tertutup. Bahkan saat dibuka, aliran tidak kembali ke jalur lama, melainkan mengarah ke aliran utama akibat adanya sodetan.
Selain itu, kondisi sungai juga mengalami pendangkalan yang cukup parah akibat sedimentasi, tumbuhan liar, serta batang pohon yang tumbang.
Baca Juga: Video Viral Amien Rais Soal Prabowo-Teddy Dihapus, Komdigi Sebut Fitnah dan Berisi Ujaran Kebencian
Di bagian hilir, tepatnya di sekitar rumah pemotongan hewan dan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE), aliran kembali muncul. Namun sumber air berasal dari limbah domestik warga, drainase jalan Cendrawasih, serta aliran buangan lain yang belum teridentifikasi.
Air yang mengalir pun berbau tidak sedap dan menyempit hingga sekitar satu meter saat mendekati rel kereta di kawasan Stasiun Jurangmangu.
Kesaksian warga memperkuat perubahan tersebut. Indra (53), warga sekitar Pintu Air Nuri, menyebut aliran Kali Ciputat kecil mulai mati setelah adanya proyek rehabilitasi pintu air serta pembangunan tanggul di aliran utama pada 2024. Ia mengenang kondisi sungai di masa lalu yang jauh berbeda.
Baca Juga: Tawaran Damai Iran Ditolak? Trump Buka Suara, Ancaman Militer Kembali Menguat
"Kalau dulu alami banget, bisa berenang mandi segala macam. Saya pernya nyusurin (sungai) sampai ke Pondok Jaya, dulu kali-nya enggak seperti ini lebih serem angker. Saya sama orang tua saya (dahulu sering menyusuri) kali ini sama orang tua saya buat nyari ikan," kata Indra.
Ia juga menjelaskan bahwa berdasarkan cerita ayahnya yang dahulu menjadi penjaga pintu air, aliran tersebut merupakan sungai alami yang dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian warga.
"Alirannya dari sini (hulu di pintu air) terus ke Stasiun Jurangmangu, ke arah Pondok Jaya membelah (kini mal Bintaro) XChange itu. Dulu fungsinya itu buat sawah, airnya mengalir bagus," kata dia.
Baca Juga: Bikin Heboh Guntur Romli Sebut Isu Ijazah Jokowi Diduga Cuma Pengalihan Kasus Besar
Indra juga berharap kondisi sungai dapat dipulihkan kembali. "Yang penting hidup lagi, dirapihin lah," kata dia.
Dampak dari perubahan aliran ini diduga turut dirasakan di kawasan hilir. Salah satu wilayah yang terdampak adalah Komplek Taman Mangu Indah yang berada di antara Kelurahan Jurang Mangu Barat dan Pondok Aren.
Di kawasan ini, aktivitas warga masih berlangsung, namun suasana berbeda tampak di RW 12 di sisi barat aliran sungai.
Baca Juga: Roy Suryo Seret Isu Mobil Esemka Saat Bahas Ijazah Jokowi, Publik Heboh
Sejumlah rumah terlihat kosong dan dipasangi plang penjualan. Tercatat sekitar 38 unit rumah menawarkan diri untuk dijual.
Seorang warga yang telah menetap lebih dari 30 tahun menyebut banjir sebagai alasan utama. "Saya kurang tahu detailnya, tapi yang jelas karena banjir," ujarnya.
Sebagai informasi fenomena meningkatnya rumah dijual di kawasan tersebut mulai terlihat sejak 2024, beriringan dengan meningkatnya intensitas banjir yang kerap melanda wilayah itu. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 3Sengketa Honor LKM Ciomas: Penagihan Kredit Tembus Rp856 Juta, Upah Tim Likuidasi Malah Menggantung
- 4Adik Eks Kepala BNPB Diduga Gunakan Dana Bencana untuk Beli Saham, KPK Bongkar Kasusnya
- 5UMKM Wajib Tahu! Cara Daftar Sertifikat Halal Online, Ada 1,35 Juta Kuota Gratis pada 2026
- 6Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!
- 7Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 8Haaland Langgar Aturan Aneh Maresca di Liga Champions, Tapi Justru Jadi Pahlawan Man City di Tengah Kekalahan
- 9Yarmolyuk Menanduk Jacquet di Kotak Penalti, Kok Liverpool Malah Tak Dapat Penalti? Ini Aturannya!
- 10Chelsea Ketar-ketir Tanpa Reece James, 3 Gelandang Ini Masuk Radar Xabi Alonso untuk Januari 2027










