Harga Solar Tembus Rp 30 Ribu, Ratusan Nelayan di Pati Terpaksa Berhenti Melaut

AKURAT BANTEN - Ratusan nelayan di wilayah pesisir Indonesia di Pulau Jawa terpaksa menghentikan aktivitas melaut.
Mereka mengungkapkan bahwa lonjakan harga bahan bakar kini mengancam mata pencaharian dan kondisi ekonomi keluarga mereka.
Meski harga bahan bakar bersubsidi tidak mengalami perubahan, tarif bahan bakar non-subsidi, termasuk solar industri, melonjak hingga sekitar 30.000 rupiah per liter sejak April.
Sebelumnya, harga solar masih berada di kisaran 14.000 rupiah hingga 23.000 rupiah per liter sebelum kenaikan signifikan terjadi.
Baca Juga: Heboh Warga Sumatera Gugat Presiden usai Banjir Dahsyat 2025, Tuntutan Ini Diserukan
Ratusan nelayan kemudian menggelar aksi demonstrasi di Pati, kota pesisir di Jawa Tengah, pada 4 Mei.
Mereka menuntut pemerintah segera menurunkan harga solar yang menjadi kebutuhan utama untuk operasional kapal nelayan.
Salah satu nelayan di Pati, Bapak Zen Zen Al Wijaini, mengatakan dirinya tidak lagi bisa bekerja karena pemilik kapal tempatnya bekerja sudah tidak mampu menanggung biaya bahan bakar yang mencapai sekitar 70 persen dari total operasional.
"Jadi, kami tidak bisa mencari nafkah untuk keluarga kami karena biaya operasionalnya sangat tinggi. Akhirnya kami hanya menganggur di rumah," kata pria berusia 40 tahun itu pada 7 Mei.
Baca Juga: Kabar Besar dari Solo, Mentan Sudaryono Sebut Indonesia Tak Lagi Impor Beras
Perusahaan minyak dan gas milik negara, Pertamina, pada April lalu menyebut kenaikan harga tersebut dipicu kondisi geopolitik global.
Mereka merujuk pada konflik di Timur Tengah yang menyebabkan harga minyak dunia ikut melonjak.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi mengatakan pihaknya akan mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat di Jakarta agar harga bahan bakar non-subsidi dapat diturunkan demi membantu para nelayan.
"Jika nelayan tidak bisa melaut, implikasinya sangat luas," katanya saat pertemuan bersama nelayan pada 8 Mei.
Baca Juga: Jaringan Judi Online Internasional Dibongkar di Jakarta, 321 Warga Asing Ditahan
"Produksi ikan akan terganggu, harga ikan mungkin naik, inflasi dapat terpengaruh, dan ekosistem ekonomi di daerah pelabuhan juga akan terganggu," tambahnya.
Asosiasi Nelayan Indonesia wilayah Jawa Tengah menyebut sebagian besar dari sekitar 1.600 kapal penangkap ikan yang bersandar di sepanjang Sungai Juwana, Pati, kini sudah berhenti beroperasi akibat tingginya biaya bahan bakar.
"Sebagai seorang nelayan... saya sungguh-sungguh memohon penurunan harga bahan bakar non-subsidi untuk para nelayan," kata Bapak Waluyo, nelayan asal Pati yang mengaku harus berutang demi membeli bahan bakar.
"Karena, apa pun yang terjadi, dapur, makanan kita, perut kita, kebutuhan-kebutuhan itu tidak bisa menunggu," pungkasnya. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 7Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 8Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”









