Perang Memanas! Iran Belum Respon Proposal Damai AS, Israel Bombardir Lebanon dan Selat Hormuz Kian Mencekam

AKURAT BANTEN - Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah memasuki hari ke-72 pada Minggu, 10 Mei 2026. Nampaknya perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah tersebut masih belum reda.
Situasi memanas setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah wilayah di Lebanon selatan, sementara ancaman di Selat Hormuz semakin meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap krisis energi global.
Mengutip laporan dari Al Jazeera, diketahui sedikitnya terdapat 24 orang tewas akibat rentetan serangan Israel yang menghantam lebih dari 10 kota di Lebanon selatan.
Baca Juga: Terungkap! Iran Akhirnya Beberkan Detail Kondisi Mojtaba Khamenei Usai Serangan AS-Israel
Dilaporkan wilayah yang disasar itu memiliki kaitan dengan kelompok Hizbullah.
Meski sebelumnya sempat diumumkan gencatan senjata regional pada bulan lalu. Namun, serangan tak dapat dihindarkan, membuat kondisi di perbatasan Lebanon-Israel kini kembali memanas.
Militer Israel mengklaim telah menghantam lebih dari 40 titik infrastruktur Hizbullah sepanjang akhir pekan. Di sisi lain, Hizbullah menyatakan pihaknya melakukan serangan terhadap buldoser militer Israel di kawasan Deir Siryan, Lebanon selatan.
Baca Juga: Heboh Warga Sumatera Gugat Presiden usai Banjir Dahsyat 2025, Tuntutan Ini Diserukan
AS Masih Tunggu Jawaban Iran
Di tengah meningkatnya eskalasi, Amerika Serikat masih menunggu respons resmi Iran terkait proposal perdamaian terbaru yang diajukan Washington.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan jawaban dari Teheran akan diterima dalam waktu dekat. Namun hingga Minggu pagi, pemerintah Iran disebut masih mempelajari sejumlah poin dalam proposal tersebut.
Berdasarkan laporan Al Jazeera, proposal perdamaian AS mencakup penghentian perang permanen, pembatasan program nuklir Iran, serta pengaturan keamanan baru di kawasan Selat Hormuz.
Baca Juga: Dua Pendaki Singapura yang Tewas di Letusan Gunung Dukono Belum Bisa Dievakuasi Karena 1 Alasan
Iran dikabarkan masih meninjau poin-poin penting, khususnya terkait pengayaan uranium dan pencabutan sanksi ekonomi.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan kembali mengeluarkan ancaman terhadap kepentingan AS di Timur Tengah. Mereka memperingatkan akan menyerang kapal atau aset Amerika jika tanker Iran kembali menjadi sasaran.
Media Iran juga melaporkan pemerintah memperingatkan negara-negara pendukung sanksi AS bisa menghadapi gangguan saat melintasi Selat Hormuz.
Baca Juga: Arsenal Menggila! Rekor Langka 66 Tahun Bisa Pecah di Markas West Ham
Adapun Presiden Rusia, Vladimir Putin, disebut menawarkan Moskow sebagai pihak pengawas dalam proses pemindahan dan penyimpanan uranium Iran yang telah diperkaya.
Sementara itu, Pakistan terus berupaya menjadi mediator antara Washington dan Teheran. Panglima militer Pakistan, Asim Munir, menegaskan negaranya akan melakukan segala upaya demi keberhasilan diplomasi.
Situasi di Selat Hormuz Kembali Jadi Sorotan
Ketegangan di kawasan Selat Hormuz juga semakin meningkat setelah sebuah kapal pengangkut barang dilaporkan terkena proyektil misterius di dekat perairan Qatar.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menyebut insiden itu terjadi sekitar 43 kilometer timur laut Doha.
Baca Juga: Kematian Misterius Haerul Saleh: Tragedi Biasa atau Bungkamnya Sang Penjaga Triliunan Rupiah?
Di saat bersamaan, sebuah kapal tanker LNG milik Qatar dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz menuju Pakistan. Pelayaran tersebut menjadi transit pertama kapal LNG Qatar sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu.
Laporan Reuters menyebut Inggris dan Prancis kini tengah menyiapkan misi keamanan maritim baru untuk melindungi jalur pelayaran internasional di kawasan tersebut.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) juga mengklaim telah menggagalkan puluhan kapal komersial memasuki pelabuhan Iran sejak pertengah
Memanasnya situasi di Selat Hormuz kembali menimbulkan kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Baca Juga: Laut Merah Membara: Iran Siap Tabrak Aturan Gencatan Senjata demi Usir Blokade AS
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui hampir seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.
Gangguan di kawasan itu berpotensi memicu lonjakan harga energi internasional sekaligus memperburuk kondisi ekonomi global yang masih rentan akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Tiyo Ardianto: Dari Awal Saya Bilang MBG Itu 'Maling Berkedok Gizi'
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Sempat Dibela Dadan Hindayana, 41 Dapur MBG Anak Pejabat DPRD Sulsel Tuai Sorotan, Aktivis Desak Audit Menyeluruh
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan
- 7Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia
- 8Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil
- 9Tiga Kartu Merah dan Dua Gol, Meksiko Buka Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan Meyakinkan
- 10Prediksi Australia vs Turki: Adu Generasi Baru di Laga Pembuka Grup D








