Banten

IHSG Anjlok Usai MSCI Depak 6 Emiten Indonesia, Ini Daftar Lengkapnya

Viona Sebastian Nolani | 15 Mei 2026, 10:03 WIB
IHSG Anjlok Usai MSCI Depak 6 Emiten Indonesia, Ini Daftar Lengkapnya
Bursa Efek Indonesia. (dok. BEI)

AKURAT BANTEN - Penyedia indeks global MSCI mengumumkan akan mengeluarkan 6 emiten dari indeks Indonesia pada akhir Mei sebagai bagian dari dorongan reformasi pasar. 

Langkah ini diambil setelah MSCI menilai pasar modal Indonesia masih menghadapi persoalan transparansi, yang kemudian memicu tekanan besar pada saham perusahaan terkait pada perdagangan Rabu.

Dari enam perusahaan yang terdampak, dua di antaranya sebelumnya telah menjadi perhatian otoritas Indonesia karena struktur kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi.

Kondisi itu juga menjadi salah satu fokus evaluasi MSCI terhadap pasar Indonesia yang dijadwalkan rampung pada Juni mendatang.

Baca Juga: Bukan Soal Trofi, Inilah Alasan Berkelas Kepala SMAN 1 Pontianak Tolak Final Ulang LCC yang Viral!

MSCI pertama kali menyoroti isu transparansi pasar saham Indonesia pada Januari lalu.

Pernyataan tersebut sempat mengguncang pasar karena muncul kekhawatiran Indonesia bisa turun status menjadi "pasar perbatasan" atau frontier market. 

Sejak saat itu, regulator dan otoritas pasar mempercepat berbagai reformasi untuk memperkuat integritas pasar modal.

Pada perdagangan Rabu, indeks utama Bursa Efek Indonesia atau IHSG turun 1,98% dan ditutup di level terendah dalam lebih dari satu tahun setelah pengumuman MSCI dirilis.

Baca Juga: Ramai Larangan Nobar “Pesta Babi”, Yusril: Bukan Arahan Pemerintah

Meski demikian, investor maupun pemerintah menilai langkah tersebut sebenarnya sudah banyak diperkirakan sebelumnya.

Pelaku pasar menilai pengurangan saham dalam indeks MSCI justru dapat membuka peluang bagi pencabutan pembatasan penambahan emiten Indonesia ke dalam indeks global tersebut.

Hal itu dinilai sejalan dengan berbagai kebijakan reformasi yang lebih ramah investor.

"Kami melihat kemungkinan besar bahwa Indonesia akan menghindari penurunan peringkat menjadi status Pasar Perbatasan," kata Ari Jahja, kepala riset Indonesia di Macquarie Capital.

Baca Juga: Piala Presiden 2026 Jadi Panggung Daerah, Talenta Lokal Kini Punya Kesempatan Besar

Gary Tan, manajer portofolio di Allspring Global Investments, mengatakan penyesuaian indeks oleh MSCI merupakan "langkah konstruktif dalam membersihkan nama-nama dengan tata kelola yang lebih lemah, mendukung upaya Indonesia untuk meningkatkan kualitas pasar secara keseluruhan".

"Kami memperkirakan tekanan akan terus berlanjut hingga penyeimbangan ulang pada 29 Mei dan awal Juni seiring penyesuaian dana pasif," kata Tan, yang tetap selektif dalam menempatkan investasinya dengan memilih saham berkualitas tinggi dan likuid.

Setelah penutupan perdagangan, penyedia indeks global FTSE Russell juga mengumumkan akan menghapus saham-saham Indonesia dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi mulai berlaku pada 22 Juni.

Data bursa menunjukkan investor asing telah mencatat penjualan bersih saham Indonesia sekitar 2,2 miliar dolar AS sepanjang tahun ini.

Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan arus keluar dana akibat penyesuaian portofolio bisa mencapai sekitar 1,6 miliar dolar AS.

MSCI menghapus saham Amman Mineral International, Chandra Asri Pasifik, Dian Swastatika Sentosa, Barito Renewables Energy, Petrindo Jaya Kreasi, dan Sumber Alfaria Trijaya dari indeks Indonesia.

Selain itu, sebanyak 13 perusahaan lainnya juga dikeluarkan dari indeks emiten berkapitalisasi kecil.

Mayoritas saham perusahaan yang terkena dampak tercatat turun sekitar 10%. Namun, saham Sumber Alfaria Trijaya bergerak stabil hingga penutupan perdagangan karena operator minimarket tersebut dipindahkan ke indeks small-cap MSCI Indonesia.

Menurut Tan dari Allspring, tekanan jual paling besar terjadi pada saham dengan kepemilikan yang sangat terkonsentrasi, free float rendah, dan minim kepemilikan asing aktif.

Amman Mineral, Barito Renewables, dan Dian Swastatika bahkan masuk dalam daftar 10 saham terbesar di Bursa Efek Indonesia per Maret 2026.

Kepala Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan, Hasan Fawzi, menilai reaksi pasar masih berada dalam batas wajar dan tidak menunjukkan aksi jual panik.

Menurut Hasan, keputusan MSCI mencerminkan reformasi yang mulai dijalankan Indonesia sejak Februari, termasuk kewajiban pengungkapan detail kepemilikan saham yang lebih rinci dan peningkatan jumlah saham free float.

"Tentu saja reformasi yang lebih berani terkait integritas pasar, dengan tujuan menjadikan pasar kita lebih kredibel dan layak investasi... akan dilanjutkan dalam jangka menengah hingga panjang," kata Fawzi.

Barito Renewables dan Dian Swastatika sebelumnya memang sempat menjadi sorotan regulator karena struktur kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi.

Pengusaha Indonesia Prajogo Pangestu diketahui menjadi pemegang saham pengendali di Chandra Asri, Barito Renewables, dan Petrindo Jaya Kreasi. Sementara Dian Swastatika merupakan bagian dari Sinar Mas Group, salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia milik keluarga Widjaja.

Hingga laporan ini diterbitkan, perusahaan-perusahaan terkait belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang dikirim Reuters melalui email.

Sejumlah emiten small-cap lain yang terdampak antara lain perusahaan tambang pelat merah Aneka Tambang, perusahaan sawit Astra Agro Lestari milik Astra International, serta perusahaan properti Bumi Serpong Damai yang berada di bawah Sinar Mas Group.

Astra Agro menyatakan menghormati keputusan MSCI dan menegaskan perusahaan tetap fokus menjalankan komitmen operasionalnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.