Penjualan Menurun, Pedagang Laksa Tangerang Keluhkan Fasilitas Sentra Kuliner

AKURAT BANTEN - Penjualan laksa di sentra kuliner laksa Kota Tangerang mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Ismail, salah satu pedagang laksa yang telah berjualan sejak 2011.
Ia menilai menurunnya jumlah pembeli salah satunya dipengaruhi oleh kondisi fasilitas sentra kuliner yang dinilai sudah tidak memadai.
Ismail menjelaskan, sentra laksa tersebut telah berdiri sejak sekitar 2008 atau 2009. Namun, perbaikan terakhir yang dilakukan pemerintah hanya sebatas perbaikan atap pada 2017.Sejak saat itu, tidak ada lagi pembenahan fasilitas hingga sekarang.
"Kalau hujan sering bocor. Pembeli dan pedagang kehujanan. Banyak pelanggan yang mengeluh," ujar Ismail saat ditemui di lokasi. Selasa (3/2/26)
Menurut Ismail, penurunan penjualan mulai terasa dalam tiga tahun terakhir. Jika sebelumnya mampu menjual hingga tiga bakul atau sekitar 300 porsi per hari, kini penjualan rata-rata hanya berkisar 100 hingga 200 porsi.
Bahkan, dua bakul laksa yang disiapkan setiap hari kerap tidak habis hingga malam.
"Sekarang dua bakul saja sering tidak habis. Kalau dulu kadang bisa sampai tiga bakul," katanya.
Ia menyebut, dalam kondisi normal saat ini omzet kotor harian sulit menembus angka Rp1 juta. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya omzet kotor per hari bisa mencapai lebih dari Rp4 juta.
Ismail menegaskan, penurunan tersebut bukan disebabkan oleh perubahan cita rasa. Resep laksa yang digunakan merupakan resep turun-temurun yang diwarisi dari keluarga.
Proses pembuatan laksa pun masih dilakukan secara tradisional tanpa menggunakan mesin.
Bahan utama laksa adalah tepung beras yang berasal dari beras pera. Beras tersebut direndam selama beberapa jam, kemudian ditepungkan, diolah dengan air panas, dan dikukus selama sekitar empat hingga lima jam sebelum dicetak menjadi mie laksa menggunakan alat tradisional. Seluruh proses pembuatan dilakukan di rumah.
Baca Juga: Tetap Jalan Saat Puasa, Skema MBG Ramadan 2026 Diatur: Siswa Muslim Dapat Menu Kering
Laksa yang telah matang hanya dapat bertahan selama satu hari satu malam. Apabila tidak habis terjual, kualitasnya akan menurun dan tidak lagi dijual keesokan harinya.
Dalam sehari, Ismail memproduksi sekitar 10 liter laksa. Dari jumlah tersebut, 5 liter dapat menghasilkan sekitar 100 porsi.
Selain laksa, pedagang juga menyiapkan kuah kuning yang dimasak dari tumisan bumbu seperti kunyit, cabai, bawang merah, bawang putih, dan kemiri, serta dicampur santan, kentang, dan kacang hijau.
Untuk harga, Ismail menyebut tarif laksa tidak mengalami kenaikan sejak sekitar 2015 hingga 2016.
Baca Juga: Polisi Kejar Empat Debt Collector Usai Aksi Dugaan Perampasan Motor di Cengkareng
Laksa polos dijual seharga Rp10.000 per porsi, laksa telur dan ati ampela Rp15.000, sedangkan laksa ayam Rp25.000. Meski harga bahan pokok mengalami kenaikan, porsi dan kualitas tetap dipertahankan.
"Sampai sekarang belum pernah naik. Porsi juga tidak dikurangi," ujarnya.
Selain menghadapi penurunan penjualan, pedagang juga mulai dibebankan biaya sewa lapak sejak 2025 sebesar sekitar Rp4 juta per tahun. Sebelumnya, lapak tersebut tidak dikenakan biaya sewa.
Selain itu, pedagang juga membayar retribusi sampah sebesar Rp20.000 per minggu.
Baca Juga: Bacaan Niat Sholat Nisfu Syaban Lengkap dengan Tata Caranya
"Kalau retribusi sampah tidak masalah. Tapi kalau melihat fasilitas yang seperti ini, ya berat juga," kata Ismail.
Saat ini, terdapat tujuh kios laksa di sentra tersebut. Namun, hanya sekitar tiga kios yang beroperasi hingga malam hari.
Sebagian besar pedagang lainnya memilih tutup lebih awal karena sepinya pengunjung.
Ismail menyebut, pengunjung sentra laksa tidak hanya berasal dari Kota Tangerang, tetapi juga dari luar daerah, bahkan luar provinsi seperti Kalimantan.
Sebagian besar pengunjung mengetahui sentra laksa melalui rekomendasi dari mulut ke mulut maupun media sosial.
Meski demikian, jumlah pengunjung cenderung menurun terutama saat musim hujan.
Kondisi tersebut semakin memperberat pedagang yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas berjualan laksa untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Ismail berharap Pemerintah Kota Tangerang dan Kementerian Hukum dan Ham dapat memberikan perhatian terhadap kondisi sentra laksa sebagai salah satu ikon kuliner dan bagian dari budaya lokal.
Baca Juga: Prabowo Ultimatum Gubernur-Bupati Bali! Sindir Masalah Sampah yang Bikin Citra Pariwisata Buruk
Ia meminta adanya renovasi dan peningkatan fasilitas agar sentra laksa kembali menarik minat pengunjung.
"Laksa ini sudah jadi makanan khas Tangerang. Harapannya fasilitasnya dibenahi supaya pengunjung ramai lagi," ujarnya.
Hingga berita ini dipublikasikan redaksi Akurat Banten masih berupaya melakukan konfirmasi terkait hal tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










