Banten

Meta Diguncang Protes Internal, Karyawan Tolak Software Pelacak Mouse yang Dinilai Jadi Cikal Bakal AI Pengganti Pekerja

Riski Endah Setyawati | 16 Mei 2026, 18:13 WIB
Meta Diguncang Protes Internal, Karyawan Tolak Software Pelacak Mouse yang Dinilai Jadi Cikal Bakal AI Pengganti Pekerja
Ilustrasi Meta (Istimewa)

AKURAT BANTEN - Gelombang penolakan muncul dari internal Meta setelah perusahaan memasang perangkat lunak pelacak aktivitas mouse di komputer para pegawainya di Amerika Serikat.

Langkah tersebut memicu keresahan luas karena banyak pekerja menilai sistem itu bukan sekadar alat pemantauan produktivitas, melainkan bagian dari strategi besar untuk membangun bot berbasis AI yang nantinya bisa menggantikan peran manusia.

Aksi protes dilakukan secara terbuka melalui penyebaran pamflet di berbagai sudut kantor, mulai dari ruang rapat, area mesin penjual otomatis, dispenser air, hingga kamar mandi.

Baca Juga: Mahasiswi Unpad Jadi Korban Percobaan Perampokan Brutal di Jatinangor, Pelaku Terancam 9 Tahun Penjara

Selebaran tersebut berisi ajakan kepada para pekerja agar bergabung dalam petisi daring demi menolak kebijakan perusahaan.

“Tidak mau bekerja di Pabrik Ekstraksi Data Karyawan? (Employee Data Extraction Factory),” demikian bunyi pesan provokatif yang tercetak dalam pamflet tersebut.

Kampanye ini berlangsung hanya sekitar satu pekan sebelum perusahaan dijadwalkan memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya pada 20 Mei 2026.

Baca Juga: Karina Ranau Diserang Netizen soal Unggahan Mendiang Epy Kusnandar, Tegaskan Bukan Cari Simpati tapi Cara Sembuhkan Luka

Waktu kemunculan protes itu semakin memperkuat kekhawatiran bahwa kebijakan baru Meta terkait pelacakan digital berkaitan erat dengan restrukturisasi besar-besaran berbasis kecerdasan buatan.

Banyak karyawan secara terbuka menyuarakan rasa tidak nyaman mereka melalui forum internal perusahaan.

“Ini membuat saya sangat tidak nyaman,” tulis seorang manajer teknik dalam papan diskusi internal.

Baca Juga: Resmikan Museum Marsinah, Prabowo Tegaskan Pentingnya Keadilan Kaum Buruh

Kecemasan serupa juga datang dari pegawai lain yang mempertanyakan masa depan pekerjaan mereka.

Sebagian besar merasa data aktivitas mereka dapat digunakan untuk melatih sistem otomatis yang kelak akan mengambil alih tugas-tugas mereka.

“Bagaimana cara kami keluar?” tanya salah satu karyawan.

Baca Juga: Mahasiswi Unpad Jadi Korban Percobaan Perampokan Brutal di Jatinangor, Pelaku Terancam 9 Tahun Penjara

Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, mengonfirmasi bahwa program tersebut memang tidak menyediakan opsi keluar bagi pekerja.

Kebijakan ini dianggap menjadi simbol paling nyata dari transformasi tenaga kerja yang tengah dijalankan Meta dengan fokus besar pada teknologi AI.

Selama beberapa bulan terakhir, keresahan internal terus berkembang seiring meningkatnya kekhawatiran atas PHK massal dan perubahan struktur kerja perusahaan.

Baca Juga: Kemenag Buka Beasiswa Double Degree 2026, Kesempatan Kuliah di Edinburgh dan SOAS

Banyak pekerja menilai penggunaan software pelacak mouse adalah langkah sistematis untuk mengumpulkan pola kerja manusia sebagai bahan pengembangan agen digital otomatis.

Di sisi lain, pihak Meta membela kebijakan tersebut sebagai bagian dari riset teknologi.

Perusahaan menjelaskan bahwa pengembangan agen AI membutuhkan data autentik tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan komputer sehari-hari.

Baca Juga: Pesawat N219 Buatan Indonesia Akhirnya Dilirik Swasta, PTDI Kantongi Kontrak Perdana

“Jika kami membangun agen untuk membantu orang menyelesaikan tugas sehari-hari menggunakan komputer, model kami membutuhkan contoh nyata tentang bagaimana orang benar-benar menggunakannya, hal-hal seperti gerakan mouse, mengklik tombol, dan menavigasi menu tarik-turun,” jelas pernyataan resmi perusahaan.

Pamflet dan petisi yang beredar juga menyinggung perlindungan hukum berdasarkan Undang-Undang Hubungan Perburuhan Nasional Amerika Serikat.

Dokumen itu menegaskan bahwa pekerja memiliki hak hukum untuk berserikat dan memperjuangkan kondisi kerja yang lebih baik.

Baca Juga: Karina Ranau Diserang Netizen soal Unggahan Mendiang Epy Kusnandar, Tegaskan Bukan Cari Simpati tapi Cara Sembuhkan Luka

Situasi ini menandai meningkatnya ketegangan antara ambisi teknologi perusahaan besar dengan kekhawatiran tenaga kerja manusia yang merasa posisinya semakin terancam di era otomatisasi.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.