Banten

Heboh Kapal Migran Indonesia Tenggelam di Malaysia, Data Jumlah Penumpang Ternyata Salah

Viona Sebastian Nolani | 19 Mei 2026, 13:24 WIB
Heboh Kapal Migran Indonesia Tenggelam di Malaysia, Data Jumlah Penumpang Ternyata Salah
Ilustrasi kapal tenggelam di perairan Malaysia. (flickr/Cristian Ştefănescu)

AKURAT BANTEN - Pemerintah Malaysia pada 18 Mei mengumumkan penghentian operasi pencarian korban kapal migran asal Indonesia yang tenggelam di perairan barat negara tersebut pekan lalu.

Keputusan itu diambil setelah jasad korban ke-16 yang sebelumnya dinyatakan hilang berhasil ditemukan.

Badan Penegakan Maritim Malaysia (MMEA) wilayah Perak menyebutkan sebanyak 23 penumpang berhasil diselamatkan usai kapal yang mereka tumpangi karam di sekitar perairan Pulau Pangkor, sebelah barat Semenanjung Malaysia, pada 11 Mei lalu.

Direktur MMEA Perak Mohamad Shukri Khotob mengatakan bahwa operasi pencarian resmi dihentikan pada 16 Mei.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.600 per USD, BI Prediksi Menguat dalam Beberapa Bulan ke Depan

"Prosedur standar kami adalah melakukan misi pencarian dan penyelamatan selama enam hari. Kami mengakhiri pencarian pada pukul 7 malam hari Sabtu setelah tidak ada penemuan baru di area tersebut," kata Mohamad Shukri melalui telepon pada tanggal 18 Mei .

Ia menjelaskan bahwa seluruh korban selamat merupakan warga negara Indonesia.

Namun, pihaknya belum dapat memastikan apakah seluruh korban meninggal juga berasal dari Indonesia.

Para migran tersebut diketahui hendak menuju sejumlah wilayah di Malaysia seperti Penang, Terengganu, Selangor, hingga Kuala Lumpur untuk mencari pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik.

Baca Juga: Kecam Aksi Israel, Kemlu RI Pantau Ketat Nasib WNI dan Jurnalis yang Ditahan di Kapal Global Sumud Flotilla

Menurut Mohamad Shukri, data awal dari para penyintas yang menyebut jumlah penumpang hanya 37 orang ternyata tidak tepat.

Berdasarkan hasil akhir pencarian, total penumpang kapal mencapai 39 orang, terdiri dari korban selamat dan korban meninggal.

Selain MMEA, operasi pencarian dan penyelamatan turut melibatkan Angkatan Laut Kerajaan Malaysia, Polisi Maritim, serta bantuan para nelayan setempat.

Malaysia selama ini menjadi tujuan utama para pekerja migran dari berbagai wilayah miskin di Asia.

Banyak di antara mereka bekerja tanpa dokumen resmi di sektor konstruksi, perkebunan, hingga pertanian.

Meski demikian, perjalanan laut ilegal yang diatur sindikat perdagangan manusia kerap berisiko tinggi dan berujung tragedi, termasuk kecelakaan kapal tenggelam.

Salah satu tragedi terbesar terjadi pada November 2025 ketika 36 migran dilaporkan meninggal dunia setelah kapal yang mereka tumpangi terbalik di dekat perairan perbatasan Thailand-Malaysia.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.