Heboh Kapal Migran Indonesia Tenggelam di Malaysia, Data Jumlah Penumpang Ternyata Salah

AKURAT BANTEN - Pemerintah Malaysia pada 18 Mei mengumumkan penghentian operasi pencarian korban kapal migran asal Indonesia yang tenggelam di perairan barat negara tersebut pekan lalu.
Keputusan itu diambil setelah jasad korban ke-16 yang sebelumnya dinyatakan hilang berhasil ditemukan.
Badan Penegakan Maritim Malaysia (MMEA) wilayah Perak menyebutkan sebanyak 23 penumpang berhasil diselamatkan usai kapal yang mereka tumpangi karam di sekitar perairan Pulau Pangkor, sebelah barat Semenanjung Malaysia, pada 11 Mei lalu.
Direktur MMEA Perak Mohamad Shukri Khotob mengatakan bahwa operasi pencarian resmi dihentikan pada 16 Mei.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.600 per USD, BI Prediksi Menguat dalam Beberapa Bulan ke Depan
"Prosedur standar kami adalah melakukan misi pencarian dan penyelamatan selama enam hari. Kami mengakhiri pencarian pada pukul 7 malam hari Sabtu setelah tidak ada penemuan baru di area tersebut," kata Mohamad Shukri melalui telepon pada tanggal 18 Mei .
Ia menjelaskan bahwa seluruh korban selamat merupakan warga negara Indonesia.
Namun, pihaknya belum dapat memastikan apakah seluruh korban meninggal juga berasal dari Indonesia.
Para migran tersebut diketahui hendak menuju sejumlah wilayah di Malaysia seperti Penang, Terengganu, Selangor, hingga Kuala Lumpur untuk mencari pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik.
Menurut Mohamad Shukri, data awal dari para penyintas yang menyebut jumlah penumpang hanya 37 orang ternyata tidak tepat.
Berdasarkan hasil akhir pencarian, total penumpang kapal mencapai 39 orang, terdiri dari korban selamat dan korban meninggal.
Selain MMEA, operasi pencarian dan penyelamatan turut melibatkan Angkatan Laut Kerajaan Malaysia, Polisi Maritim, serta bantuan para nelayan setempat.
Malaysia selama ini menjadi tujuan utama para pekerja migran dari berbagai wilayah miskin di Asia.
Banyak di antara mereka bekerja tanpa dokumen resmi di sektor konstruksi, perkebunan, hingga pertanian.
Meski demikian, perjalanan laut ilegal yang diatur sindikat perdagangan manusia kerap berisiko tinggi dan berujung tragedi, termasuk kecelakaan kapal tenggelam.
Salah satu tragedi terbesar terjadi pada November 2025 ketika 36 migran dilaporkan meninggal dunia setelah kapal yang mereka tumpangi terbalik di dekat perairan perbatasan Thailand-Malaysia.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 7Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 8Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”









