Banten

Kasus Penyakit Aorta Kompleks di Indonesia Masih Terkendala Fasilitas dan Dokter Spesialis

David Amanda | 19 Mei 2026, 22:48 WIB
Kasus Penyakit Aorta Kompleks di Indonesia Masih Terkendala Fasilitas dan Dokter Spesialis
Kasus Penyakit Aorta Kompleks di Indonesia Masih Terkendala Fasilitas dan Dokter Spesialis (foto: istimewa)

AKURAT BANTEN - Penanganan penyakit aorta kompleks di Indonesia dinilai masih menghadapi keterbatasan fasilitas dan tenaga medis spesialis. Padahal, penyakit pada pembuluh darah utama jantung tersebut termasuk kondisi darurat dengan risiko kematian tinggi apabila terlambat ditangani.

Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular di Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Dicky Aligheri Wartono mengatakan, salah satu kondisi paling berbahaya adalah acute aortic dissection atau robekan pada dinding aorta.

"Aortic dissection merupakan kondisi ketika lapisan dinding aorta robek dan darah masuk ke lapisan pembuluh darah. Pada fase akut, risiko kematian dapat meningkat sekitar 1-2 persen setiap jam dalam 24-48 jam pertama apabila tidak mendapatkan penanganan," kata dr. Dicky.

Baca Juga: Viral Teror Pocong di Tangerang Resahkan Warga, Diduga Bawa Sajam dan Jadi Modus Begal

Ia menjelaskan, penyakit aorta kerap tidak menunjukkan gejala spesifik hingga memasuki fase kritis. Kondisi itu membuat banyak pasien datang ke rumah sakit dalam keadaan darurat.

Secara global, angka kejadian acute aortic syndromes mencapai sekitar 4,8 kasus per 100 ribu orang per tahun. Sementara di Indonesia, layanan penanganan aorta kompleks masih sangat terbatas.

Dari lebih dari 2.500 rumah sakit di Indonesia, hanya sekitar 120 hingga 150 rumah sakit yang memiliki layanan bedah jantung. Namun, rumah sakit yang mampu menangani kasus aorta kompleks dengan dukungan teknologi dan tim multidisiplin jumlahnya jauh lebih sedikit.

Baca Juga: 'Ini Uang Rakyat, Jangan Main-main' MBG Mulai Disorot Jadi Ladang Mega Korupsi?

Menurut dr. Dicky, penanganan penyakit aorta membutuhkan sistem layanan yang terintegrasi mulai dari instalasi gawat darurat, radiologi, ruang operasi, ICU hingga rehabilitasi medis.

"Keberhasilan penanganan kasus aorta tidak hanya ditentukan oleh satu dokter atau satu prosedur, tetapi kesiapan sistem pelayanan secara keseluruhan," ujarnya.

Saat ini, Siloam Hospitals Lippo Village telah menerapkan teknik Frozen Elephant Trunk (FET), metode bedah modern untuk menangani gangguan aorta kompleks yang melibatkan area dada hingga perut.

Baca Juga: Persib Bisa Juara, Bandung Bersiap Membara! Pengamanan Super Ketat Disiapkan di GBLA

Selain operasi terbuka, rumah sakit tersebut juga menyediakan layanan Endovascular Aortic Repair (EVAR/TEVAR), ICU kardiovaskular khusus pascaoperasi, serta CT Scan kardiovaskular 24 jam untuk mempercepat diagnosis pasien kritis.

"Penyakit aorta merupakan kondisi yang sangat bergantung pada kecepatan diagnosis dan tindakan. Keterlambatan beberapa jam saja dapat meningkatkan risiko fatal secara signifikan," tutup dr. Dicky. ***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.