Banten

Terobosan Baru Ilmuwan AS Bawa Harapan Burung Dodo Hidup Kembali

Riski Endah Setyawati | 22 Mei 2026, 20:00 WIB
Terobosan Baru Ilmuwan AS Bawa Harapan Burung Dodo Hidup Kembali
Potret Burung Dodo (Istimewa)

AKURAT BANTEN - Perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat, Colossal Biosciences, mengumumkan pencapaian baru yang disebut menjadi langkah penting dalam proyek menghidupkan kembali spesies burung yang telah lama punah.

Melalui teknologi telur sintetis, perusahaan tersebut berhasil menetaskan 26 anak ayam sehat.

Keberhasilan itu dinilai menjadi fondasi awal dalam pengembangan proyek besar mereka untuk menghadirkan kembali burung Dodo dari Mauritius serta burung Moa raksasa yang dahulu hidup di Selandia Baru.

Baca Juga: Suami Pelaku KDRT di Sumbar Dijatuhi Hukuman Tak Biasa, Dilarang Minum Alkohol Selama Dua Tahun

Teknologi yang dikembangkan Colossal menggunakan sistem telur buatan dengan struktur menyerupai fungsi alami cangkang telur.

Dalam rancangan tersebut, terdapat membran silikon tipis yang ditempatkan di dalam wadah berbentuk heksagonal sebagai media inkubasi embrio.

Membran itu dirancang agar mampu menjalankan fungsi biologis layaknya cangkang asli, termasuk menjaga kelembapan, memungkinkan pertukaran oksigen, sekaligus melindungi embrio dari risiko kontaminasi.

Baca Juga: Kebakaran Auditorium Binus Anggrek Diduga Dipicu Overload Listrik, Puluhan Petugas Diterjunkan

Chief Biology Officer Colossal Biosciences, Andrew Pask, mengatakan proses penetasan tanpa bantuan cangkang alami selama ini menjadi tantangan besar dalam dunia sains.

Menurutnya, banyak eksperimen sebelumnya membutuhkan tambahan oksigen yang justru berpotensi mengganggu kestabilan DNA embrio.

“Ini adalah membran khusus yang sangat tipis, memungkinkan terjadinya pertukaran gas yang sangat efektif, persis seperti rancangan luar biasa pada cangkang telur biologis,” ujar Pask.

Baca Juga: Kejari Kota Tangerang Naikkan Status Dugaan Korupsi Sewa Pesawat PT Angkasa Pura Kargo ke Penyidikan

Salah satu fitur yang dianggap paling inovatif dari sistem tersebut adalah hadirnya panel transparan di bagian atas telur sintetis.

Fitur itu memungkinkan ilmuwan memantau pertumbuhan organ hingga perkembangan pembuluh darah embrio secara langsung tanpa harus membuka atau merusak lingkungan inkubasi.

Teknologi ini juga diklaim fleksibel karena ukurannya dapat disesuaikan dengan berbagai jenis telur burung.

Baca Juga: Suami Pelaku KDRT di Sumbar Dijatuhi Hukuman Tak Biasa, Dilarang Minum Alkohol Selama Dua Tahun

Mulai dari telur burung kecil seperti kolibri hingga telur burung Moa yang memiliki ukuran menyerupai bola sepak dapat diproses menggunakan sistem serupa.

Meski terdengar menjanjikan, sejumlah ilmuwan independen menilai jalan menuju kebangkitan burung purba masih sangat panjang.

Pakar genetika dari University at Buffalo, Vincent Lynch, menyebut inovasi membran silikon memang menarik, namun teknologi itu baru mencakup sebagian kecil dari keseluruhan sistem kehidupan embrio.

Baca Juga: Suami Pelaku KDRT di Sumbar Dijatuhi Hukuman Tak Biasa, Dilarang Minum Alkohol Selama Dua Tahun

Ia menilai keberhasilan penetasan belum cukup untuk memastikan proyek de-ekstingsi dapat berjalan sesuai harapan.

Selain itu, perusahaan juga belum mempublikasikan data ilmiah lengkap terkait tingkat keberhasilan penetasan atau hasil penelitian yang telah melalui proses peer-review.

Walau demikian, pencapaian tersebut tetap menjadi sorotan besar di dunia bioteknologi modern.

Baca Juga: Suami Pelaku KDRT di Sumbar Dijatuhi Hukuman Tak Biasa, Dilarang Minum Alkohol Selama Dua Tahun

Dalam beberapa tahun terakhir, Colossal Biosciences memang dikenal agresif mengembangkan teknologi de-ekstingsi untuk menghidupkan kembali spesies yang telah hilang dari bumi.

Selain proyek burung Dodo dan Moa, perusahaan dengan valuasi lebih dari USD 10 miliar itu juga tengah mengembangkan program kebangkitan Woolly Mammoth, Thylacine, hingga Dire Wolf.

Langkah tersebut memunculkan harapan baru sekaligus perdebatan besar mengenai masa depan rekayasa genetika dan batas kemampuan manusia dalam mengubah sejarah kehidupan di bumi.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.