Banten

27 Negara Berebut Dana Darurat Bank Dunia Imbas Perang Iran, Nilainya Bisa Tembus Ratusan Miliar Dolar

Riski Endah Setyawati | 24 Mei 2026, 22:24 WIB
27 Negara Berebut Dana Darurat Bank Dunia Imbas Perang Iran, Nilainya Bisa Tembus Ratusan Miliar Dolar
Ilustrasi Perang (Istimewa)

AKURAT BANTEN - Dampak perang yang terjadi di Iran mulai mengguncang stabilitas ekonomi banyak negara di dunia.

Sebanyak 27 negara dilaporkan telah mengajukan permintaan pendanaan darurat kepada World Bank atau Bank Dunia guna menghadapi tekanan ekonomi akibat konflik tersebut.

Informasi itu terungkap dalam dokumen internal yang dikutip Reuters.

Baca Juga: Tangis Haru Kakek Mujiran Bebas, Intervensi Tegas Kepala BP BUMN Runtuhkan Kekakuan Hukum!

Namun, Bank Dunia tidak membeberkan identitas negara-negara yang mengajukan bantuan maupun total nilai dana yang diminta.

Lembaga keuangan internasional tersebut juga belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan itu.

Dari puluhan negara yang mengajukan permohonan, tiga negara disebut sudah memperoleh persetujuan pencairan dana darurat.

Baca Juga: Akhir Drama Pengantin Pati yang Kabur Jelang Akad: Sang Pacar Sanggup Bayar Ganti Rugi Rp 70 Juta dan Siap Menikahi!

Sementara itu, sisanya masih berada dalam tahap evaluasi dan proses administrasi.

Sebelumnya, pejabat dari Kenya dan Iraq mengonfirmasi bahwa pemerintah mereka mengajukan bantuan keuangan kepada Bank Dunia.

Permintaan itu dilakukan untuk menahan tekanan fiskal akibat kenaikan harga bahan bakar yang terus melonjak sejak konflik di Iran memanas.

Baca Juga: Indonesia Bangun Tembok Laut Raksasa 500 Km, Solusi Banjir atau Ancaman Baru?

Lonjakan harga energi disebut telah membebani anggaran negara dan memperburuk kondisi ekonomi domestik.

Sebanyak 27 negara tersebut merupakan bagian dari 101 negara yang memiliki akses ke fasilitas pendanaan darurat milik Bank Dunia.

Selain itu, terdapat pula 54 negara yang tergabung dalam skema Rapid Response Option.

Baca Juga: Tangis Haru Kakek Mujiran Bebas, Intervensi Tegas Kepala BP BUMN Runtuhkan Kekakuan Hukum!

Melalui mekanisme tersebut, negara peminjam diperbolehkan mengalihkan hingga 10 persen dari sisa dana proyek yang belum dicairkan untuk kebutuhan mendesak.

Skema itu dirancang agar negara-negara dapat bergerak cepat ketika menghadapi situasi krisis, termasuk gejolak perang dan lonjakan harga komoditas global.

Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, sebelumnya sempat menyinggung kesiapan lembaganya dalam menghadapi situasi darurat global.

Baca Juga: Indonesia Bangun Tembok Laut Raksasa 500 Km, Solusi Banjir atau Ancaman Baru?

Ia mengatakan Bank Dunia memiliki dana siaga yang bisa segera dikucurkan.

“Jumlahnya diperkirakan mencapai USD 20 hingga 25 miliar,” ujar Ajay Banga.

Di sisi lain, International Monetary Fund atau IMF juga menghadapi permintaan bantuan serupa dari berbagai negara.

Baca Juga: Tangis Haru Kakek Mujiran Bebas, Intervensi Tegas Kepala BP BUMN Runtuhkan Kekakuan Hukum!

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyebut ada 12 negara yang sedang berharap memperoleh bantuan jangka pendek.

Nilai bantuan yang diajukan ke IMF disebut berada di kisaran USD 20 miliar hingga USD 50 miliar.

Pengamat ekonomi global dari Universitas Boston, Kevin Gallagher, menilai banyak negara kini lebih memilih mencari bantuan ke Bank Dunia dibanding IMF.

Baca Juga: Tangis Haru Kakek Mujiran Bebas, Intervensi Tegas Kepala BP BUMN Runtuhkan Kekakuan Hukum!

Menurutnya, program bantuan IMF umumnya disertai syarat penghematan anggaran yang cukup ketat.

Kebijakan semacam itu dinilai berisiko memperparah tekanan sosial dan ekonomi di dalam negeri.

“Program IMF biasanya menuntut langkah penghematan yang dapat memperburuk kondisi sosial suatu negara,” kata Kevin Gallagher.

Baca Juga: Indonesia Bangun Tembok Laut Raksasa 500 Km, Solusi Banjir atau Ancaman Baru?

Ia mencontohkan situasi di Kenya yang dinilai rentan mengalami tekanan sosial ketika kebijakan penghematan diterapkan secara agresif.

Konflik di Iran kini bukan hanya menjadi ancaman geopolitik kawasan Timur Tengah.

Perang tersebut mulai menciptakan efek domino terhadap stabilitas ekonomi global, terutama bagi negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi dan dukungan pembiayaan internasional.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.