Banten

Terungkap! Modus Pig Butchering di Solo Baru Jawa Tengah, Kerugian Tembus Rp 41 Miliar

Viona Sebastian Nolani | 26 Mei 2026, 12:31 WIB
Terungkap! Modus Pig Butchering di Solo Baru Jawa Tengah, Kerugian Tembus Rp 41 Miliar
Ilustrasi penipuan online. (iStock

AKURAT BANTEN - Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah berhasil mengungkap jaringan penipuan online atau scammer internasional dengan modus pig butchering yang beroperasi di kawasan Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Dalam menjalankan aksinya, sindikat ini memanfaatkan perempuan berpenampilan menarik untuk memancing korban hingga bersedia mentransfer uang ke rekening mereka.

Kelompok tersebut diketahui menyamar sebagai perusahaan konsultan bernama PT Digi Global Konsultan yang berkantor di ruko kawasan Jalan Ir Soekarno.

Penggerebekan dilakukan pada Senin (25/5/2026), dengan proses penggeledahan yang berlangsung lebih dari sembilan jam, mulai pukul 10.00 WIB hingga 19.30 WIB.

Baca Juga: Yasinta Moiwend Protes Film “Pesta Babi”: Mengaku Tak Pernah Beri Izin dan Merasa Dijebak

Dalam operasi tersebut, polisi menyita 117 barang bukti, termasuk CPU, monitor komputer, serta berbagai perangkat elektronik lainnya.

Lima orang tersangka turut diamankan di lokasi kejadian.

Direktur Reserse Siber Polda Jateng, Kombes Pol Himawan Sutanto Saragih, menyebutkan bahwa total tersangka yang telah diamankan mencapai 38 orang.

“Total tersangka yang kami tangkap sebanyak 38 orang, semuanya karyawan. Untuk direkturnya belum kami amankan dan masih dalam proses penyidikan,” ujar Himawan.

Baca Juga: Inovasi Baru Polri: ETLE Pakai Face Recognition, Pelanggar Lalu Lintas Tak Bisa Lagi Sembunyi

Dari keseluruhan tersangka, sebanyak 27 orang merupakan warga negara Indonesia, sementara empat lainnya berasal dari Myanmar dan tujuh dari Nepal.

Polisi mengungkap bahwa sindikat ini menggunakan modus pig butchering, yakni teknik penipuan dengan membangun kedekatan emosional dengan korban melalui media sosial dan aplikasi percakapan.

Para pelaku memakai identitas palsu serta foto perempuan menarik untuk mendekati target.

Bahkan, mereka juga menyiapkan model asli untuk melakukan panggilan video agar korban semakin yakin.

Baca Juga: Geopolitik Global Memanas, DPR Ingatkan Risiko Besar bagi Produksi PT INKA

“Korban dibuat merasa memiliki hubungan personal sehingga tanpa sadar melakukan transfer dana secara bertahap dalam jumlah besar,” kata Himawan.

Setelah korban terlanjur percaya, pelaku kemudian menawarkan investasi kripto melalui platform palsu yang dirancang seolah-olah memberikan keuntungan besar.

Korban terus didorong untuk menyetor dana hingga akhirnya platform tersebut menghilang.

Berdasarkan hasil penyelidikan, jaringan ini diduga telah beroperasi sejak Juli 2025 hingga Mei 2026 dengan total keuntungan mencapai sekitar US$ 2.327.625 atau setara Rp 41,1 miliar.

Baca Juga: Jemaah Haji Indonesia Hilang Lalu Ditemukan Meninggal, DPR Soroti Dugaan Kelalaian Petugas

Sindikat tersebut menargetkan sekitar 5.000 orang, dengan sedikitnya 133 korban yang telah teridentifikasi, sebagian besar merupakan warga negara asing.

Jaringan ini juga memiliki struktur organisasi yang tertata layaknya perusahaan, mulai dari supervisor, leader, marketing, hingga asisten marketing.

Para anggotanya bahkan menggunakan nama samaran untuk menyembunyikan identitas asli.

Hingga kini, pihak kepolisian masih memburu direktur perusahaan yang diduga sebagai otak utama di balik sindikat penipuan tersebut.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.