Cuaca Ekstrem Ancam Piala Dunia 2026, FIFA Dihantui Panas hingga Badai Petir

AKURAT BANTEN - Cuaca panas, tingkat kelembapan tinggi, hingga badai petir sudah menjadi ciri khas musim panas di banyak wilayah Amerika Utara.
Dalam beberapa pekan mendatang, kondisi tersebut juga diperkirakan menjadi tantangan besar bagi penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Turnamen sepak bola terbesar dunia itu akan berlangsung di 16 kota tuan rumah yang tersebar di AS, Kanada, dan Meksiko.
Sejumlah lokasi dikenal memiliki suhu musim panas ekstrem yang diperburuk oleh kelembapan tinggi sehingga terasa lebih menyengat.
Baca Juga: Trump Ancam Serangan Baru ke Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Berbalik Menguat
Selain itu, ancaman kebakaran hutan yang rutin melanda Kanada dan wilayah seperti California juga dapat memengaruhi kualitas udara selama turnamen berlangsung.
Risiko lain datang dari badai petir.
Di AS, cuaca musim panas kerap memicu gangguan pada berbagai aktivitas olahraga luar ruangan.
Secara umum, pertandingan wajib dihentikan selama 30 menit jika terjadi sambaran petir dalam radius sekitar 13 hingga 16 kilometer. Bila muncul kilatan berikutnya, waktu penundaan akan kembali dimulai dari awal.
Baca Juga: Blackout 17 Jam di Sumut Picu Tuntutan Kompensasi ke PLN, Warga Ngaku Rugi Besar
Piala Dunia Antarklub 2025 yang dijadikan simulasi menuju Piala Dunia 2026 mencatat enam laga mengalami penundaan panjang akibat cuaca buruk.
Para ilmuwan menilai situasi seperti itu bisa semakin sering terjadi seiring pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca.
Serangkaian penundaan pertandingan dalam turnamen klub tersebut memunculkan kritik dari sejumlah pelatih dan pengamat yang mempertanyakan kelayakan AS sebagai tuan rumah ajang besar sepak bola.
Enzo Maresca, yang kala itu masih melatih Chelsea, menyebut penundaan pertandingan sebagai "lelucon" karena dianggap mengganggu fokus tim.
Ia juga mempertanyakan apakah beberapa kota di Amerika layak menggelar pertandingan turnamen besar.
Petir sendiri membawa ancaman serius. Meski kematian akibat sambaran langsung tergolong jarang, risiko tersebut tetap ada.
Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menunjukkan terdapat 444 kasus kematian akibat sambaran petir di AS sepanjang 2006 hingga 2021.
Mayoritas insiden terjadi saat aktivitas rekreasi luar ruangan.
Wilayah di timur Pegunungan Rocky disebut memiliki tingkat risiko paling tinggi.
Kawasan itu cenderung sangat lembap akibat pengaruh perairan hangat Teluk Meksiko yang menghasilkan uap air dan memicu terbentuknya badai petir.
Para ilmuwan juga mengingatkan bahwa perubahan iklim dapat menciptakan pola badai yang makin tidak menentu dan berpotensi meningkatkan frekuensi sambaran petir.
Kelsey Malloy dari Universitas Delaware mengatakan "kami belum benar-benar mendeteksi tren yang kuat" tetapi secara keseluruhan "diperkirakan petir akan meningkat" di beberapa bagian AS.
Ia menjelaskan bahwa pemanasan iklim "telah dikaitkan dengan tingkat curah hujan yang lebih tinggi serta peningkatan aliran udara yang lebih kuat" yang "menyebabkan peningkatan elektrifikasi awan, dan karenanya peningkatan laju kilat".
Malloy, yang merupakan ilmuwan iklim, menilai kemampuan prakiraan cuaca kini semakin baik dalam memprediksi cuaca ekstrem.
Ia juga mengimbau para penonton untuk memperhatikan peringatan cuaca dan prosedur keselamatan saat pertandingan terdampak badai.
"Banyak orang mungkin membayangkan jika mereka tidak bisa melihat badai, tidak bisa melihat kilat, belum mendengar guntur, bahwa mereka tidak berada dalam ancaman aktif. Namun petir dapat menyambar bermil-mil jauhnya dari lokasi badai yang sebenarnya," katanya.
Peneliti petir dari Universitas Florida, Ziqin Ding, menyebut stadion modern umumnya sudah dilengkapi sistem perlindungan seperti penangkal petir. Perangkat logam tersebut dirancang untuk mencegah kerusakan bangunan maupun kebakaran dengan mengalihkan aliran listrik dari sambaran petir.
Meski begitu, sambaran petir di sekitar stadion tetap dapat "menyebabkan gangguan pada acara di stadion".
FIFA disebut akan memanfaatkan sejumlah stadion beratap, berpendingin udara, atau kombinasi keduanya di Atlanta, Dallas, Houston, Los Angeles, dan Vancouver untuk mengurangi risiko cuaca panas ekstrem maupun badai.
Namun demikian, banyak stadion lainnya tetap berada di ruang terbuka.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan pertandingan tertunda akibat badai sekaligus membuat pemain dan suporter harus menghadapi suhu panas yang melelahkan.
Pada Piala Dunia Antarklub 2025, beberapa pertandingan berlangsung dalam suhu di atas 32 derajat Celcius dengan tingkat kelembapan yang membuat cuaca terasa jauh lebih panas.
Tim ilmuwan iklim baru-baru ini merilis laporan yang menyebut "cuaca panas yang menyengat" dapat memengaruhi seperempat pertandingan yang dijadwalkan, termasuk partai final di New Jersey.
Sebagai langkah antisipasi, FIFA mewajibkan adanya jeda pendinginan di setiap babak pertandingan.
Christopher Mullington dari Imperial College London mengatakan ada kemungkinan beberapa pesepak bola "tidak akan mampu bermain dengan intensitas seperti yang biasa mereka lakukan".
Risiko kesehatan juga mengintai para suporter, terutama mereka yang mengonsumsi alkohol di bawah paparan matahari langsung dalam kondisi panas dan lembap.
Mullington menjelaskan bahwa secara umum para penonton "bukanlah atlet elit dan mungkin memiliki banyak penyakit penyerta yang dapat diperburuk oleh panas."
Sejumlah pemain profesional aktif dan mantan pemain yang dipimpin Morten Thorsby dari Norwegia baru-baru ini menyerahkan petisi kepada FIFA terkait dampak cuaca panas.
Dalam surat itu mereka menyatakan "panas dapat membuat Anda merasa pusing, mual, mengalami kelelahan, kram otot, dan bahkan lebih buruk lagi".
Mereka meminta FIFA memperbarui kerangka kerja penanganan stres panas untuk Piala Dunia.
Para pemain juga menegaskan langkah tersebut harus dibarengi dengan "aksi iklim yang konsisten".
"Akan menjadi kesempatan yang terlewatkan jika olahraga yang sangat terdampak oleh krisis iklim tidak mengambil tanggung jawabnya dalam mengatasinya," demikian isi surat terbuka tersebut.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Tiyo Ardianto: Dari Awal Saya Bilang MBG Itu 'Maling Berkedok Gizi'
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Sempat Dibela Dadan Hindayana, 41 Dapur MBG Anak Pejabat DPRD Sulsel Tuai Sorotan, Aktivis Desak Audit Menyeluruh
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan
- 7Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia
- 8Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil
- 9Tiga Kartu Merah dan Dua Gol, Meksiko Buka Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan Meyakinkan
- 10Prediksi Australia vs Turki: Adu Generasi Baru di Laga Pembuka Grup D







