Banten

Produk Pangan Indonesia Diburu untuk Katering Haji, Menhaj Ungkap Kendalanya

Viona Sebastian Nolani | 4 Juni 2026, 13:45 WIB
Produk Pangan Indonesia Diburu untuk Katering Haji, Menhaj Ungkap Kendalanya
Menhaj Bidik Produk Indonesia Kuasai Dapur Haji di Arab Saudi. (haji.go.id)

AKURAT BANTEN - Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, bersama Tim Amirul Hajj melakukan inspeksi ke dua dapur katering penyedia makanan bagi jemaah haji Indonesia di Madinah.

Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan mutu layanan konsumsi tetap terjaga sekaligus membuka peluang lebih besar bagi produk pangan asal Indonesia masuk ke rantai pasok katering haji di Arab Saudi.

Kedua dapur tersebut merupakan bagian dari sejumlah dapur yang setiap hari menyiapkan ribuan porsi makanan untuk jemaah haji Indonesia.

Dalam peninjauan itu, Menhaj memastikan seluruh proses pengolahan makanan berjalan sesuai standar kebersihan, kesehatan, dan keamanan pangan.

Baca Juga: Heboh Dugaan Kekerasan Seksual di Pesantren Kukar, Kemenag Siapkan 5 Langkah Tegas

"Kami ingin memastikan bahwa dapur-dapur yang melayani jemaah Indonesia bekerja dengan baik, bersih, sehat, dan mampu memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah," ujar Menhaj di dapur Uhud Taibah, Madinah, Arab Saudi, Rabu (3/6/2026).

Selain mengecek kualitas pelayanan konsumsi, Gus Irfan juga menyoroti peluang penggunaan bahan baku dari Indonesia dalam penyediaan makanan jemaah haji.

Ia menilai banyak komoditas yang saat ini dipasok dari negara lain sebenarnya dapat dipenuhi oleh Indonesia.

Saat berada di dapur katering, ia menemukan berbagai bahan pangan yang serupa dengan produk Indonesia, mulai dari santan, ikan patin, ikan teri, hingga aneka bumbu khas Nusantara.

Baca Juga: Tak Bisa Lagi Berdebat di Media Sosial, Roy Suryo Diminta Bongkar Semua Bukti soal Ijazah Jokowi di Sidang

"Saya melihat ada santan yang kemungkinan besar bahan bakunya berasal dari Indonesia, tetapi dipasarkan melalui negara lain. Begitu juga ikan patin yang saat ini dipasok dari negara tetangga, padahal Indonesia memiliki potensi produksi yang sangat besar," katanya.

Menurut Menhaj, pemerintah sejatinya telah mulai menjajaki pengiriman sejumlah komoditas pangan Indonesia ke Arab Saudi guna mendukung kebutuhan konsumsi jemaah haji.

Beberapa produk yang sempat dicoba dikirim antara lain beras serta berbagai jenis bumbu masakan.

Namun, upaya tersebut masih menghadapi sejumlah kendala akibat situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi distribusi logistik dan menyebabkan biaya pengiriman meningkat.

"Kami sudah mulai mencoba mengirim beras dan berbagai bumbu dari Indonesia. Namun karena situasi kawasan yang belum sepenuhnya kondusif, biaya transportasi menjadi tinggi sehingga tidak semua rencana pengiriman dapat terlaksana," ujarnya.

Ia berharap kondisi di kawasan Timur Tengah segera membaik agar jalur distribusi kembali normal dan produk-produk Indonesia semakin mudah masuk ke pasar Arab Saudi, termasuk untuk memenuhi kebutuhan katering haji.

Menhaj menilai peluang bagi pelaku usaha Indonesia untuk menjadi pemasok kebutuhan konsumsi jemaah haji masih sangat besar.

Berbagai komoditas yang digunakan dalam katering haji, seperti ikan teri, asam jawa, santan, hingga ikan patin, dinilai mampu diproduksi Indonesia dengan kualitas yang kompetitif.

"Peluangnya sangat besar. Produk-produk yang dibutuhkan sebenarnya banyak tersedia di Indonesia. Tinggal bagaimana kita memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku agar produk tersebut bisa masuk ke Arab Saudi," katanya.

Ke depan, Kementerian Haji dan Umrah akan mendorong penggunaan produk lokal Indonesia melalui berbagai bentuk kerja sama dengan perusahaan katering.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah memasukkan penggunaan komoditas tertentu asal Indonesia ke dalam kontrak layanan konsumsi jemaah.

"Dalam kontrak ke depan, kita bisa mengatur penggunaan sejumlah bahan baku dari Indonesia. Dengan begitu, produk Indonesia memiliki kepastian pasar dan dapat menjadi bagian dari rantai pasok konsumsi haji," ujarnya.

Menhaj menegaskan, langkah tersebut bukan hanya untuk meningkatkan kualitas makanan bagi jemaah haji Indonesia, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi pelaku usaha nasional.

"Kita ingin jemaah mendapatkan makanan yang sesuai dengan selera Indonesia, sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi bagi petani, nelayan, UMKM, dan pelaku usaha dalam negeri. Haji tidak hanya menjadi pelayanan ibadah, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk penguatan ekosistem ekonomi Indonesia di tingkat global," pungkasnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.